Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Api yang Membakar Gunung Ijen Bisa Merambat ke Pasewaran

24 Oktober 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MULAI BERBENAH: Sebagian bangunan yang berdiri di kawasan Paltuding porak poranda setelah dihajar badai besar tiga hari lalu.

MULAI BERBENAH: Sebagian bangunan yang berdiri di kawasan Paltuding porak poranda setelah dihajar badai besar tiga hari lalu. (Ramada Kusuma/RaBa)

Share this          

JawaPos.com – Api yang membakar kawasan Gunung Ijen dan sekitarnya belum padam. Asap tebal masih memenuhi kawasan tersebut. Titik api yang awalnya hanya berkutat di sekitar Kawah Ijen dan Merapi Ungup-Ungup, malah semakin meluas ke arah utara dan timur. Kendati begitu, tim gabungan masih berusaha memadamkan api dengan alat seadanya.

Bencana kebakaran di Gunung Ijen, Ranti, dan Merapi Ungup-Ungup mengundang perhatian Bupati Abdullah Azwar Anas. Kemarin (22/10), orang nomor satu di Pemkab Banyuwangi itu melihat kondisi terkini kawasan Paltuding (pintu masuk menuju puncak Ijen) pasca dilalap si jago merah.  

Anas juga melihat dampak kebakaran di pintu masuk pendakian dan pos penimbangan belerang. Setelah melihat sulitnya upaya memadamkan api, Anas memastikan akan meminta bantuan helikopter bom air (water bombing) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Meski memastikan meminta bantuan udara, Anas mengaku Banyuwangi tak perlu menetapkan status tanggap darurat. Kondisi saat ini, kata Anas, sudah mulai membaik. Menurutnya, kebakaran hutan yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir adalah siklus alami.

”Kami mendapatkan informasi dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), kebakaran cemara gunung merupakan siklus rutin tahunan. Biasanya terkontrol. Karena kemarin ada badai angin cukup besar, kebakaran menjadi sporadis meluas,” jelasnya.   

Yang paling dibutuhkan sekarang adalah bantuan penyemprotan air dari udara. Mengingat potensi meluasnya kebakaran yang ada saat ini tersebar di beberapa titik yang sulit dijangkau. Anas meminta kepada BPBD, Koramil, dan Polsek untuk mengantisipasi agar api tidak memasuki kawasan produksi dan permukiman.    

”Hari ini kami berkirim surat ke kepala BNPB untuk dikirimkan armada udara water bombing untuk menyemprot air mengatasi kebakaran di Gunung Ranti dan Merapi di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ijen. Harus sesegera mungkin karena posisi api agak sulit dijangkau kecuali memakai armada udara,” kata Anas.

Jika mendengar laporan dari BMKG, hujan di Banyuwangi baru akan turun di Minggu terakhir bulan November. Sehingga masih terlampau lama jika harus menunggu hujan turun. ”Belum ada sesuatu yang urgen, jadi belum perlu ditetapkan status tanggap darurat. Untuk sementara, kita minta bantuan helikopter agar bisa menyiram air kawasan Gunung Ranti dan Ijen”  imbuhnya.

Terkait dampak kebakaran, kerugian paling besar adalah akses wisatawan yang tidak bisa menikmati Ijen. Sebab, Ijen sudah menjadi kawasan yang cukup menjadi tujuan. ”Meskipun kondisi bahaya sudah tidak ada, BKSDA tetap merekomendasikan TWA Ijen belum bisa dibuka. Kita lihat perkembangannya, nanti akan dievaluasi lagi,” terang Anas.

Sementara itu, meski pemkab berupaya minta bantuan helikopter dari BNPB, BPBD Banyuwangi pesimistis bantuan udara tersebut bisa segera terealisasi. Kabid Kedaruratan dan Bencana Alam BPBD Banyuwangi Eka Muharam mengatakan, jumlah helikopter milik BNPB terbatas.

Sebab, pada saat yang bersamaan, banyak kebakaran menimpa beberapa wilayah di Jawa Timur. Untuk pemadaman di Ijen kemungkinan masih harus menunggu antrean. ”Kalau penanganan darat saat ini kami lihat sudah tidak efektif, alat yang kita miliki sudah tidak mungkin menjangkau titik api. Satu-satunya cara memang harus ditangani dari atas,” kata Eka.

Melihat pola angin dan alur kebakaran, Eka memprediksi api bisa mengarah ke wilayah hutan produksi dan perkebunan produktif di Pasewaran. Jika tak segera ada tindakan, pihaknya khawatir api benar-benar bisa menjangkau kawasan perkebunan. BPBD sudah memberi tahu pihak perkebunan untuk membuat penahan, baik dengan membuat sekat-sekat, penyiraman darat maupun pengepyokan.

Banyaknya semak kering di sepanjang jalur membuat rambatan api berpotensi besar sampai ke wilayah perkebunan. ”Perkiraan kita terakhir sudah mencapai 400 sampai 500 hektare dari total 2.600 hektare lahan hutan lindung. Ini yang terbesar yang pernah terjadi dalam 10 tahun terakhir,” jelasnya.

Informasi mengenai penutupan TWA Ijen tampaknya masih banyak belum diketahui wisatawan. Hingga kemarin, masih banyak wisatawan asing yang kecele. Mereka terpaksa balik kucing karena Ijen tak bisa didaki. ”Kita sudah keliling Banyuwangi dari Alaspurwo, Pulau Merah, dan Baluran. Rencananya mau ke Ijen, ternyata tidak jadi, mungkin kita pindah ke Bromo,” ujar Caroline, wisman asal Kota Lille, Perancis.

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia