Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

BKSDA Belum Bisa Mendata Kematian Satwa Akibat Kebakaran Ijen

23 Oktober 2019, 10: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TINGGAL RANGKA: Troli yang dipakai untuk mengangkut belerang dan wisatawan Ijen ludes dilalap api. Hanya sebagian yang masih bisa diselamatkan.

TINGGAL RANGKA: Troli yang dipakai untuk mengangkut belerang dan wisatawan Ijen ludes dilalap api. Hanya sebagian yang masih bisa diselamatkan. (Ramada Kusuma/RaBa)

Share this          

JawaPos.com - Akibat kobaran api yang melalap kawasan Ranti dan Ijen, diperkirakan populasi sejumlah satwa ikut terdampak. Sejauh ini, kawasan Ijen merupakan rumah bagi 107 jenis burung dan 21 di antaranya merupakan jenis endemik.

Jenis burung tersebut meliputi walik kepala ungu (Ptylinopus porphyreus), cekaka jawa (Halcyon cyanoventris), sepah gunung (Pericrocotus miniatus), cucak gunung (Pycnonotus bimaculatus), kipasan bukit (Rhipidura euryura), dan ayam hutan hijau (Gallus varius).

Selain itu, sejumlah satwa yang mendiami kawasan tersebut meliputi macan kumbang/tutul (Panthera pardus), kucing hutan/macan rembah (Felis bengalensis), ajag (Cuon alpinus), lutung jawa (Trachypithecus auratus), dan satwa lainnya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi Purwantono mengatakan, saat ini pihaknya belum bisa melakukan pendataan secara menyeluruh akibat kebakaran hebat tersebut. BKSDA bersama tim gabungan masih fokus pada penanganan api. ”Yang jelas mematikan vegetasi, kalau satwa pasti menyingkir,” jelasnya.

Meski kawasan yang terbakar cukup luas, dia meyakini satwa yang terdampak langsung cukup minim. Sebab, kebakaran berada di kawasan cemara dan semak. Sehingga satwa-satwa diperkirakan bisa melarikan diri. Tidak menutup kemungkinan ada satwa yang berada di kawasan tersebut, namun hal itu lebih sebagai daerah jelajah, bukan daerah yang ditinggali. ”Kondisi kering, hewan-hewan di bawah,” terangnya.

Terkait pemicu kebakaran, Purwantono menampik jika hal itu terjadi secara alami. Dia menegaskan, kawasan yang terbakar merupakan lahan konservasi. Hanya saja, pihaknya tidak bisa memastikan bagaimana api itu bisa muncul. ”Untuk kawasan konservasi tidak ada pembukaan lahan,” tegasnya.

(bw/fre/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia