Rabu, 22 Jan 2020
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi
Wisudawan Terbaik Untag 1945 Banyuwangi

IPK Lita Nyaris Sempurna, Aini dan Winda Lulus Tercepat

22 Oktober 2019, 07: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

RAIH GELAR SARJANA: Lita Hariyati didampingi kedua orang tuanya, Subyantoro dan Napiyah, usai menjalani wisuda di kampus Untag 1945 Banyuwangi, Sabtu kemarin (19/10).

RAIH GELAR SARJANA: Lita Hariyati didampingi kedua orang tuanya, Subyantoro dan Napiyah, usai menjalani wisuda di kampus Untag 1945 Banyuwangi, Sabtu kemarin (19/10). (Ramada Kusuma/RaBa)

Share this          

JawaPos.com - Lawan rasa malas. Itulah kunci keberhasilan Lita Hariyati selama menempuh pendidikan di Untag 1945 Banyuwangi. Dia lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,99. Sedangkan Fadrotul Aini dan Winda Kristina punya “jurus” tak kalah jitu. Alhasil, mereka berhasil lulus dengan waktu tercepat.

SIGIT HARIYADI, Jawa Pos Radar Banyuwangi, Banyuwangi

“WISUDA Gess..! Kuliah kelar, wurung ambyaaar”. Kalimat penutup itu dilontarkan Rektor Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi Andang Subaharianto. Memungkasi pidato dalam rangka wisuda sarjana XXXVII yang diselenggarakan di auditorium kampus “merah putih” –sebutan kampus Untag– pada Sabtu pagi (19/10).

Tepuk tangan membahana. Kalimat itu seolah menjadi “pencair” suasana setelah sang rektor menitipkan nama baik Untag kepada 366 wisudawan. Apalagi, selain titip nama baik, Andang berpesan agar para wisudawan menjadi alumni yang membanggaka karena prestasi dan pengabdian positif kepada masyarakat, bangsa, dan negara. “Alumni Untag harus mampu berperan penting bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar Pancasila,” serunya.

Usai pidato rektor, prosesi sakral itu dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan Rektor (SK) tentang penetapan wisudawan Sarjana Strata I ke XXXVII periode I tahun akademik 2019/2020. Selanjutnya, acara dilanjutkan dengan pengukuhan wisudawan sebagai sarjana lulusan Untag Banyuwangi.

Nah, di antara 366 wisudawan yang dikukuhkan sebagai sarjana, tiga orang di antaranya merasakan kebahagiaan berlipat. Bagaimana tidak, selain berhasil lulus kuliah, mereka juga dinobatkan sebagai wisudawan terbaik. Satu orang meraih predikat lulusan dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) tertinggi. Sedangan dua yang lain meraih predikat lulusan dengan masa studi tercepat. Predikat wisudawan IPK tertinggi diraih Lita Hariyati.    

Perempuan berusia 24 tahun asal asal Dusun Krajan, Desa Gendoh, Kecamatan Sempu, ini meraih IPK nyaris sempurna, tepatnya sebesar 3,99. Di antara seluruh mata kuliah yang telah diajarkan, hanya satu yang mendapat nilai “B”. Nilai “B” itu didapat pada mata kulaih bahasa Inggris yang ditempuh pada semester I. Selebihnya, Lita mendapat nilai “A” pada seluruh mata kuliah yang lain.

Alumnus Program Studi (Prodi) Pendidikan Biologi pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Untag ini mengaku punya kunci utama sehingga dia berhasil meraih predikat membanggakan tersebut. “Kunci utamanya melawan rasa malas. Harus tekun. Usahakan selalu masuk saat ada jadwal kuliah,” ujar bungsu lima bersaudara putri pasangan Subyantoro dan Napiyah tersebut.

Selain aktif kuliah, Lita mengaku dirinya selalu belajar di rumah. Waktu satu hingga tiga jam per hari dia manfaatkan untuk belajar. “Alhamdulillah. Hasilnya saya bisa menjadi wisudawan dengan IPK tertinggi,” kata dia.

Setelah lulus kuliah, Lita ingin memanfaatkan ilmu yang dia peroleh selama menempuh pendidikan di Untag untuk mengajar siswa. Terutama siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). “Kalau ada lowongan seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS), insya Allah saya mendaftar,” aku perempuan yang baru menikah pada Agustus lalu tersebut.

Sementara itu, duet alumnus Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen Untag, yakni Fadrotul Aini dan Winda Kristina sukses menyabet predikat lulusan masa studi tercepat. Keduanya berhasil menuntaskan pendidikan jenjang sarjana strata I “hanya” dalam waktu tiga tahun, enam bulan, lima hari. Menariknya, selain lulus dalam kurun yang sama, Aini dan Winda juga meraih IPK sama persis, yakni 3,76.

Aini mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan dirinya berhasil menuntaskan studi kurang dari empat tahun adalah dari sisi penyusunan skripsi. Putri bungsu pasangan Afandi dan Atimah, ini berhasil menuntaskan skripsi berjudul “Analisis Penentuan Portofolio Optimal” dalam waktu dua bulan. “Kuncinya adalah sering konsultasi pada dosen pembimbing. Jika ada revisi, segera direvisi. Sampai dapat acc (persetujuan, Red),” kata dia.

Hal senada juga dialami Winda. Sulung dua bersaudara putri pasangan Aris Kristianto dan Rindi Asih, ini juga berhasil menuntaskan penyusunan skripsi hanya dalam tempo dua bulan.

Senada dengan Aini, Winda mengaku kunci dirinya bisa menuntaskan penyusunan skripsi dengan waktu relatif cepat itu adalah rajin konsultasi kepada dosen pembimbing. “Selain itu, saya berusaha konsisten dengan tekad saya sendiri. Tekad untuk cepat lulus,” pungkasnya.

SKRIPSI DUA BULAN: Fadrotul Aini bersama kedua orang tuanya, Afandi dan Atimah (kiri). Winda Kristina bersama kedua orang tuanya, Aris Kristianto dan Rindi Asih (kanan).

SKRIPSI DUA BULAN: Fadrotul Aini bersama kedua orang tuanya, Afandi dan Atimah (kiri). Winda Kristina bersama kedua orang tuanya, Aris Kristianto dan Rindi Asih (kanan). (Ramada Kusuma/RaBa)

(bw/sgt/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia