Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi

PP Imam Asy Syafi’i Genteng, Bermutu untuk Semua Golongan

15 Oktober 2019, 14: 15: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

NASIONALISME: Pimpinan pesantren, dewan guru, dan para santri PPIA menggelar upacara setiap Senin untuk mengajarkan santri cinta tanah air, mensyukuri karunia NKRI, dan melatih disiplin.

NASIONALISME: Pimpinan pesantren, dewan guru, dan para santri PPIA menggelar upacara setiap Senin untuk mengajarkan santri cinta tanah air, mensyukuri karunia NKRI, dan melatih disiplin. (PPIA FOR RaBa)

Share this          

JawaPos.com - Pondok Pesantren Imam Asy-Syafi’i (PPIA) yang beralamat di Jalan KH. Hasyim Asyari No.99 E, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng ini merupakan lembaga pendidikan yang bertekad menjadi lembaga pendidikan yang bermutu dan berarti, dengan pondasi spiritual yang kuat di bawah pimpinan ustad Mohammad Yahya dan ustad Sonhaji.

Pesantren yang kini terus berkembang itu, memiliki moto berakidah lurus, berakhlak mulia, berbadan sehat, berwawasan luas, dan berpikiran bebas. Selain itu, mereka juga memiliki jiwa pondok yang dikenal dengan Panca Jiwa (lima jiwa), yakni keihlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan optimisme. “Moto dan jiwa pondok ini tidak boleh berubah sampai kapan pun,” cetus pimpinan PPIA Ustad Mohammad Yahya.

Menurut Ustad Yahya, pada zaman milenial dan era terkebukaan informasi ini, pendidikan yang terbaik adalah pondok pesantren. Karena di pondok para santri akan dididik selama 24 jam penuh. Santri dididik mulai pagi bangun tidur sampai malam menjelang tidur. Bahkan, ketika tidur pun santri tetap dididik  bagaimana tidur mereka bisa bernilai ibadah. “Para orang tua jangan ragu dan takut memasukkan anaknya ke pondok, ini sesuai program yang ada, Ayo Mondok, Mondok itu Keren,” katanya.

Yahya berharap santri dan alumni bisa menerapkan moto dan Panca Jiwa, serta bisa berkiprah di semua lini kehidupan, seperti keluarga, masyarakat, pemerintahan mulai dari desa, kecamatan, kabupaten bahkan pemerintahan pusat.     ”Selain itu, santri harus aktif mengisi pembangunan bangsa ini, santri boleh menjadi apa saja, menjadi pendidik, pengusaha, pegawai negeri, tentara, polisi, dokter dan lain sebagainya,’’  tegasnya.

Pondok Pesantren Imam Asy-Syafi’i di bawah naungan Yayasan Darun Najah Genteng, berdiri sejak tahun 2008 dan dimulai dari pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mutiara Imam Asy-Syafi’i. Sekolah ini menargetkan siswanya hafal Alquran minimal tiga juz, hafal hadist pilihan, dan memiliki pengetahuan dasar agama Islam. Di tahun 2009, membuka Raudhatul Athfal (RA) atau TK Permata Imam Asy-Syafi’i dengan target lulus dua tahun, siswa bisa bersosialisasi, membaca dan menulis Alquran dan tulisan latin. “ terangnya.

Pendidikan di PPIA ini, terang dia, selain RA Permata Imam Asy-Syafi’i dan MI Mutiara Imam Asy-Syafi’i, juga ada Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) Mutiara Imam Asy-Syafi’i. Para siswa di MTs dan MA ini wajib tinggal di asrama dengan target hafal Alquran enam juz, untuk jenjang MTs, hafal mutun pilihan, dan mampu berbahasa Arab aktif. Pada jenjang Madrasah Aliyah (MA) target hafalan Alquran santri minimal enam juz, hafal mutun pilihan, mampu Berbahasa Arab aktif, dan bisa membaca kitab gundul.

“Alhamdulillah dengan terselenggaranya pendidikan yang baik Kementerian Agama telah memberikan izin operasional pondok sejak tahun 2011, dan sistem pendidikan di PPIA ini ada lima, yaitu uswatun hasanah, pembiasaan, penugasan, pelatihan pelatihan dan kegiatan belajar-mengajar di kelas.” papar ustad Mohammad Yahya yang lulusan Pondok Modern Gontor Ponorogo itu.

Meski PPIA Genteng ini tergolong masih baru, jelas dia, tapi telah mampu bersaing dalam prestasi di tingkat kabupaten maupun provinsi. Di antara prestasi yang diraih, juara 2 musabaqoh hifdzil qur’an tingkat provinsi pada 2015, juara 1 aksioma - tahfidz tingkat kabupaten 2016 dan 2019, juara 2 dan juara harapan 2 aksioma – tahfidz tingkat provinsi 2017, dan juara 1 KSM – Matematika tingkat kabupaten 2017.

Selain itu, PPIA juga juara 2 KSM – Bahasa Arab tingkat kabupaten 2017, juara harapan 2 KSM – IPA tingkat kabupaten 2016 dan 2017, juara 3 musabaqoh hifdzil qur’an tingkat provinsi (2018), dan terakhir mewakili Kabupaten Banyuwangi untuk bersaing di tingkat provinsi dalam lomba tahfiq Alquran. “Sebagai pimpinan PPIA, kami menegaskan bahwa pondok ini tidak berpolitik praktis dan tidak berafiliasi ke ormas dan organisai manapun secara langsung, karena kita mempunyai jargon, pondok harus di atas dan untuk semua golongan,” ungkapnya. (abi)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia