Minggu, 17 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Cahya Terpaksa Mandi di Kantor, Wahab Pilih Numpang di SPBU

10 Oktober 2019, 15: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

DARURAT: Warga Perumahan Puri Brawijaya terpaksa numpang mandi di SPBU Jalan Gajahamada, tadi malam.

DARURAT: Warga Perumahan Puri Brawijaya terpaksa numpang mandi di SPBU Jalan Gajahamada, tadi malam. (Cahya Heriyanto/RaBa)

Share this          

JawaPos.com - Dampak pecahnya pipa PUDAM di Banjarsari benar-benar dirasakan warga yang tinggal di kota Banyuwangi. Warga satu perumahan kelimpungan gara-gara air mampet. Ada yang mandi di kantor, ada pula yang nunut di SPBU.

Wajah Cahya Heriyanto terlihat kusam sore kemarin. Sembari menenteng sabun dan handuk, dia masuk ke kamar mandi kantornya di Jalan Brawijaya, Banyuwangi. Begitu keluar dari kamar mandi, wajah bapak tiga anak itu terlihat fresh. ”Saya sudah dua hari kesulitan air. Di rumah air dari PUDAM macet. Ya terpaksa mandi di kantor,” ujar pria yang bekerja di perusahaan media itu.

Cahya merupakan satu dari sekian ratus pelanggan PUDAM yang terkena dampak pecahnya pipa air di Banjarsari. Sudah dua hari ini, kebutuhan air di rumahnya tersendat. Untungnya, pukul 16.00 kemarin, truk tangki dari PUDAM memasok air di tempat tinggalnya kawasan Perumahan Brawijaya Asri. ”Air dari PUDAM datang sore hari. Warga langsung antre mendapatkan air bersih,” kata pria berusia 38 tahun itu.

Cahya masih tergolong beruntung bisa numpang mandi di kantornya. Lain halnya dengan warga yang tidak bekerja di kantoran. Mereka terpaksa mandi dan mencuci  di sungai terdekat. Untungnya airnya jernih, jadi layak untuk dipakai untuk mandi. ”Kalau di rumah saya aliran airnya kecil. Kadang juga kotor,” ujar Dasuki, warga Kebalenan.

Lain dengan Cahya dan Dasuki. Wahab warga Puri Brawijaya lainnya memilih numpang mandi di SPBU Jalan Gajahmada. Dari rumah dia membawa perlengkapan sabun dan sikat gigi, lalu masuk ke kamar mandi SPBU. Kondisi darurat seperti itu juga dirasakan warga lainnya. ”Harapan kami, krisis air bersih segera teratasi. Kalau terus begini, kasihan anak-anak kalau mau sekolah pagi hari. Mereka tidak mandi kalau ke sekolah,” ujar Mustakim, warga lainnya.

(bw/sgt/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia