Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kesehatan

KB Pria Minim Peminat, Tahun Ini Ditarget 20 Pasien Baru

09 Oktober 2019, 09: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

CEGAH: Kabid Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Luqman Al Hakim menunjukkan gambar mekanisme pelaksanaan MOP kepada Kepala BPPKB Zen Kostolani di ruangannya.

CEGAH: Kabid Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Luqman Al Hakim menunjukkan gambar mekanisme pelaksanaan MOP kepada Kepala BPPKB Zen Kostolani di ruangannya. (Shulhan Hadi/RaBa)

Share this          

JawaPos.com – Program untuk menekan angka pertambahan penduduk saat ini tengah digalakkan pemerintah. Di sejumlah desa di Banyuwangi, kampung KB saat ini mulai bermunculan. Namun jika dicermati, angka partisipasi KB masih didominasi kalangan perempuan saja. Sementara keterlibatan pria dinilai masih sangat rendah.

Terkait hal ini, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Banyuwangi Zen Kostolani memberikan penjelasan bahwa kecilnya minat kalangan pria untuk menjadi pelaku KB memang disebabkan beberapa hal. Yang paling umum karena kurangnya pemahaman masyarakat tentang KB. Selama ini pelaksanaan KB identik dilakukan perempuan, atau oleh pihak laki-laki sebatas penggunaan kondom. ”Ya memang belum banyak yang berminat,” ujarnya.

Saat ini, untuk pelaksanaan Medis Operasi Wanita (MOW) di Banyuwangi mencapai 6.580 orang. Angka ini cukup besar, yakni mencapai 80 persen dari angka Perkiraan Permintaan Masyarakat (PPM) yang berjumlah 8.167. Sedangkan untuk kalangan pria, angka Medis Operasi Pria (MOP) hingga saat ini tercatat 618. Sementara PPM untuk pria hanya 163 setiap tahunnya. Tahun ini BPPKB menargetkan setidaknya 20 orang bisa menjadi peserta MOP. ”Angka ini kecil disesuaikan PPM dari provinsi,” terangnya.

Melihat rendahnya peminatan ini, Zen mengaku telah menggandeng kalangan agamawan untuk sosialisasi kepada masyarakat. Pekan ini, kegiatan sosialisasi kepada para pria akan dimulai. Untuk Banyuwangi sendiri, dia berharap setidaknya setiap kecamatan ada satu orang yang mau mencoba sehingga akan ada lebih dari 20 orang. ”Target ini akan kita tingkatkan, kalau pun dipenuhi satu kecamatan tidak masalah,” imbuhnya.

Sebenarnya MOP ini secara medis lebih sehat dan aman, juga tidak mengurangi kenyamanan. Selain itu lebih aman untuk kalangan wanita usia tertentu yang  rentan mengalami alergi saat melakukan hubungan. ”Ini lebih aman, saya sendiri ingin mencoba,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Luqman Al Hakim menjelaskan, pria peserta MOP harus sudah memiliki beberapa persyaratan. Di antaranya sudah memiliki dua anak dengan usia terkecil lima tahun. Selain itu istri masih dalam usia subur. Untuk pelaksanaan MOP sendiri dilakukan oleh tenaga kesehatan dari Dinas Kesehatan dan pembayaran dilakukan melalui BPJS. Di samping itu, para peserta MOP nantinya akan mendapat pendampingan. ”Kalau istri sudah tidak subur, ya tidak perlu MOP,” ucapnya.

Pelaksanaan MOP sendiri merupakan bentuk pengendalian kelahiran yang seimbang. Hal ini karena pelaksanaan tidak hanya dibebankan kepada istri saja, tetapi suami juga terlibat aktif. ”Ini juga soal keadilan gender juga,” pungkasnya.

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia