Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi
Dinas Pendidikan Banyuwangi

Tingkatkan Daya Jual LKP, Dispendik Gandeng LSK dan TUK

08 Oktober 2019, 15: 29: 16 WIB | editor : Ali Sodiqin

BERSUA BERSAMA: Kadispendik Sulihtiyono, Kabid Dikmas Nuriyatus Sholeha, bersama peserta instruktur LKP, penguji dari LSK Jakarta dan Tempat Uji Kompetensi (TUK) Jatim usai pembukaan pelatihan dan uji kompetensi pada Rabu (2/10).

BERSUA BERSAMA: Kadispendik Sulihtiyono, Kabid Dikmas Nuriyatus Sholeha, bersama peserta instruktur LKP, penguji dari LSK Jakarta dan Tempat Uji Kompetensi (TUK) Jatim usai pembukaan pelatihan dan uji kompetensi pada Rabu (2/10). (Toha/RaBa)

Share this          

JawaPos.com – Dalam rangka meningkatkan layanan pendidikan nonformal Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), Dinas Pendidikan Banyuwangi melakukan pendampingan bagi 45 pengelola LKP dan 55 pendidik LKP. Mereka dilatih mengikuti uji kompetensi di Aula Dinas Pendidikan Banyuwangi pada Kamis (5/10).

Dalam kegiatan ini, Dinas Pendidikan melibatkan penguji dari Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK) dari Jakarta dan Tempat Uji Kompetensi (TUK) dari Jatim. Sebelum dilaksanakan uji kompetensi, peserta didampingi untuk penguatan materi selama tiga hari. Penguatan materi dimulai tanggal 2–4 Oktober 2019 di Aula Dinas Pendidikan Banyuwangi.

Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, persaingan sumber daya manusia (SDM) semakin ketat seiring pasar bebas dan era globalisasi. Di tengah persaingan ketat tersebut, masyarakat harus memiliki keterampilan di berbagai bidang yang diperlukan oleh pangsa pasar.

Keberadaan LKP diharapkan dapat memberi pelatihan dan kursus untuk mempersiapkan SDM yang lebih terarah sehingga mampu memenuhi kebutuhan pangsa pasar tenaga terampil yang diperlukan. ”Program ini sangat membantu bagi para peserta yang ingin mempunyai keahlian khusus dan mereka sangat semangat melaksanakan pelatihan. Semoga para peserta sesudah ikut pelatihan bisa lebih mandiri, dapat membantu ekonomi keluarganya sendiri,” kata Anas.

Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Sulihtiyono mengatakan, peran pendidikan nonformal sama pentingnya dengan pendidikan formal. Untuk itu, melalui pelaksanaan kegiatan pemberdayaan tenaga pendidikan nonformal Tahun 2019 diharapkan dapat meningkatkan kompetensi tenaga pendidik nonformal.

Menurut Sulihtiyono, pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Kepemudaan, Pendidikan Pemberdayaan Perempuan, Pendidikan Keaksaraan, Pendidikan Keterampilan dan Pelatihan Kerja, Pendidikan Kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Pendidikan nonformal sebagai subsistem pendidikan nasional dalam kiprahnya dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan Indeks Pengembangan Manusia (IPM) melalui program nonformal.

Di sisi lain, imbuh Sulihtiyono, Pemkab Banyuwangi telah menerapkan kebijakan penyelenggaraan Program Paket A, B, dan C melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Sehingga dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan akan mampu menghasilkan satuan LKP yang memenuhi standar nasional pendidikan serta mampu memberdayakan peserta kursus. Selain itu juga menghasilkan tutor pendidikan kesetaraan yang inovatif, kreatif, dan mampu menumbuhkan pengetahuan serta keterampilan bagi peserta didik pendidikan kesetaraan.

Kepala Bidang Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Nuriyatus Sholeha menambahkan, dalam diklat pendidik kursus dan pelatihan ini Dinas Pendidikan memfasilitasi beragam kompetensi yaitu menjahit, rias pengantin, membuat hantaran, perhotelan, bahasa asing, dan broadcast.

Dalam diklat itu materi disampaikan oleh instruktur yang berpengalaman. Selanjutnya, para peserta akan melalui mekanisme uji kompetensi, pengembangan silabus, dan pengembangan perangkat pembelajaran. Dengan strategi didahului pre-test, kemudian materi secara teori maupun praktik, seperti menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran interaktif dalam penyusunan perencanaan pembelajaran.

”Menjadi seorang instruktur lembaga kursus dan pelatihan saat ini memang harus kompeten. Jadi kompetensi yang harus dimiliki seorang instruktur ada empat, yaitu kompetensi pedagogis, kompetensi sosial, kompetensi profesional, dan kompetensi kepribadian,” kata Nuriyatus.

Nuriyatus berharap melalui kegiatan ini, LKP mampu menciptakan lulusan yang andal, cakap, dan benar-benar memiliki kompetensi sesuai yang ditawarkan LKP bukan hanya sekadar lulus membawa ijazah. Sehingga keahlian ataupun keterampilan yang mereka dapatkan dari LKP dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh lulusan LKP, baik untuk mencari kerja maupun untuk berwirausaha.

”Dengan adanya kegiatan ini, saya berharap dapat menjadi sarana kerja sama yang semakin erat antara kursus dan pelatihan dengan dunia usaha dan dunia industri dalam penyiapan SDM yang berkualitas dan berdaya saing” pungkas Nuriyatus.

SAMBUTAN HANGAT: Kadispendik Sulihtiyono, Kabid Dikmas Nuriyatus Sholeha, penguji dari LSK Jakarta dan TUK dari Jatim .

SAMBUTAN HANGAT: Kadispendik Sulihtiyono, Kabid Dikmas Nuriyatus Sholeha, penguji dari LSK Jakarta dan TUK dari Jatim . (Toha/RaBa)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia