Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Jauhi Pemicu Kebakaran, Waspadai Gelombang Laut di Pantai Selatan

07 Oktober 2019, 16: 21: 46 WIB | editor : Ali Sodiqin

HARUS ANTISIPASI: Kebakaran hebat meluluhlantakkan rumah sekaligus gudang motor bekas di Lingkungan Krajan, RT 02, RW 2, Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Sabtu (14/9) lalu.

HARUS ANTISIPASI: Kebakaran hebat meluluhlantakkan rumah sekaligus gudang motor bekas di Lingkungan Krajan, RT 02, RW 2, Kelurahan Boyolangu, Kecamatan Giri, Sabtu (14/9) lalu. (Sigit Hariyadi/RaBa)

Share this          

JawaPos.com - Kebakaran yang kerap terjadi di beberapa wilayah di Banyuwangi salah satunya dipicu musim kemarau kering yang tengah berlangsung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi mengimbau agar masyarakat bisa menghindari pemicu kebakaran. Karena tak hanya hutan, lingkungan penduduk pun saat ini turut rawan terbakar.

Prakirawan BMKG Banyuwangi Gigik Nurbaskoro mengatakan, musim kemarau di Banyuwangi diperkirakan masih akan berlangsung hingga November. Saat ini hampir seluruh wilayah tengah melalui fase puncak kemarau. Di mana cuaca menjadi panas dan kering. Hal ini jugalah yang menurutnya banyak memicu kebakaran.

Baik yang berlokasi di hutan, lahan terbuka maupun di area pemukiman. Sedikit saja pemicu menurutnya bisa menimbulkan rembetan kebakaran yang sulit dipadamkan. “Pemicu kecil saja bisa membuat kebakaran terjadi. Karena itu masyarakat harus mewaspadai. Salah satunya dari putung rokok yang kerap menjadi pemicu kebakaran,” jelasnya.

Gigik menambahkan, untuk musim peralihan dari kemarau menuju musim penghujan akan mulai terjadi di pekan-pekan terakhir Bulan Oktober. Biasanya peralihan ditandai dengan cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan angin kencang yang muncul secara tiba-tiba dengan durasi singkat. Termasuk terbentuknya awan CB atau cumulonimbus yang selanjutnya menandai munculnya angin puting beliung.

“Dampak dari kemarau ini juga adanya musim angin timuran yang meningkatkan gelombang di pantai selatan Banyuwangi. Karena itu perlu diwaspadai juga,” tandasnya.

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia