Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Wiyono, si Raja Pantun Itu Pensiun dari PNS

Menjadi Anggota DPRD Termuda hingga Pimpin Demo Bupati Ratna

06 Oktober 2019, 16: 05: 01 WIB | editor : Ali Sodiqin

Wiyono, mantan Kepala Bakesbangpol Banyuwangi

Wiyono, mantan Kepala Bakesbangpol Banyuwangi (Shulhan Hadi)

Share this          

Di kalangan wartawan dia dikenal pandai berpantun. Wiyono menutup karir di lingkungan Pemkab Banyuwangi sebagai Kepala Bakesbangpol. Pejabat yang dijuluki ”raja pantun” itu memiliki latar belakang yang unik. Sejumlah jabatan bergengsi pernah dia pegang. 

SHULHAN HADI, Jawa Pos Radar Banyuwangi
 
Tepat 1 Oktober lalu, Wiyono sudah menyandang predikat pensiunan. Pelepasan pejabat murah senyum itu digelar di halaman kantor Bakesbangpol Jalan Agus Salim, Senin malam (30/9).

Suasana pelepasan berlangsung sederhana. Karyawan Kesbangpol menggelar tikar. Mereka duduk lesehan sembari mendengarkan kata-kata pamit dari Wiyono. Undangan yang hadir cukup beragam. Dari PPWK, FPK, dan lintas agama turut ambil bagian. Di mata mereka, Wiyono dianggap guru sekaligus ”suhu” soal Pancasila hingga pilar kebangsaan.

Kalau sudah bicara soal Pancasila, Wiyono begitu bersemangat. Dia hafal betul pasal demi pasal UUD 1945. Butir-butir Pancasila pun sudah di luar kepala. Gaya bicaranya juga ceplas-ceplos. Yang menjadi ciri khasnya, setiap kali berpidato, Wiyono selalu menyelipkan joke-joke segar lewat pantun.

Aja nganti kejentus ing awang-awang
Kesandung dalan kang padhang
Yen wis kejentus thenger-thenger sangga uwang
Rumangsa aman tumindake kledhang-kledhang

Kalau kalbu tiada menyatu
Perilaku terbawa nafsu
Haram halal bersekutu
Kata hati menjadi bisu

Itulah dua bait pantun yang kerap diucapkan Wiyono dalam kesempatan berpidato. Sedikitnya ada 300 pantun karya Wiyono. Sayang, karya dari Wiyono belum dibukukan. ”Pak Wiyono tidak ada tandingannya kalau sudah berbicara soal Pancasila. Beliau paham sampai akar-akarnya. Berpantun juga mahir,” ujar Miskawi, mitra kerjanya di PPWK.

Di kalangan pejabat pemkab, Wiyono cukup terkenal. Sementara masyarakat umum lebih mengenalnya ketika dia menjabat sebagai Kepala  BPBD. Atau, bagi kalangan penikmat wayang kulit, mungkin mengenal Wiyono saat dia mewakili Bupati Banyuwangi memberikan sambutan dalam pergelaran wayang kulit Banyuwangi Festival.

Sebelum era kepemimpinan Bupati Abdullah Azwar Anas, jabatan Wiyono di lingkungan pemda cukup beragam. Jauh sebelum dia tercatat sebagai PNS, suami Ana Yusiari, 55, itu memulai karirnya di sektor swasta. Berkat kelincahannya kala itu,  akhirnya Wiyono terjun ke panggung politik dengan bergabung ke Golkar.

Dia menjadi bagian penting dari program pemerintah Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). ”Tahun 1985 saya sebagai penatar P4 Nasional,” kenang Wiyono.

Hubungan emosionalnya dengan dunia birokrasi terjalin cukup jauh. Meski secara resmi baru menjadi bagian dari dunia birokrasi pada 1987, sejak awal dia mengaku menjalin hubungan emosi dengan pemerintah. Saat Bupati Joko Supaat menjabat, Wiyono masih berstatus sebagai mahasiswa. Dia juga kenal dengan Bupati Susilo Suharto, penerus Joko Supaat.

Perkenalannya dengan Susilo terjalin sewaktu sama-sama duduk di bangku kuliah. ”Saya tahun 1982 di Banyuwangi. Setelah Susilo gak menjabat,  kuliah bareng sama saya,” terang alumnus IKIP Malang dan Universitas Narotama ini.

Karena dorongan dari beberapa tokoh, akhirnya Wiyono mendaftar CPNS. Pada saat bersamaan, dia juga mendaftar sebagai anggota DPRD melalui Golkar. Saat itu, Wiyono mengaku tidak tertarik masuk PNS. Banyak anggapan, PNS merupakan pekerjaan tidak jelas. ”Saya kan males dengar PNS, katanya rodok ngene ngono,” ucapnya.

Di tengah perjalanan itu, dia juga terpilih menjadi anggota DPRD. Karir ayah dari Yanita Aulia Rahma, 24, dan Arif Brilliant Aji, 18 ini, cukup lama. Selama tiga periode –mulai 1987 sampai masa reformasi 2002– dia menjadi anggota DPRD. ”Saya anggota dewan termuda,” ujarnya ditemui di kediamannya di Jalan Gandrung, Kelurahan Mojopanggung.

Meski menjadi DPRD, dia juga diminta untuk terlibat dalam struktur Dinas Pendidikan sebagai Kepala Urusan Monitoring dan Penyusunan Program. Wiyono pun pernah diberhentikan secara hormat saat masa reformasi. Saat itu, dia diberi kewenangan menyelesaikan urusan di Golkar dan untuk selanjutnya kembali ke pemerintahan.

Karir itu berlanjut saat era Bupati Samsul Hadi, Wiyono tercatat pernah menjadi Staf Ahli Bupati, Kepala Dinas Sosial, dan juga Sekretaris Dinas Perhubungan. Selanjutnya di akhir jabatan Bupati Samsul Hadi, Wiyono ditarik menjadi Kabag Hukum. ”Satu-satunya Kabag Hukum bukan (dari) background hukum, ya saya,” ucapnya.

Posisi itu terempas saat Banyuwangi dipimpin Ratna Ani Lestari. Wiyono dipindah menjadi Kabid di Badan Pendapatan Daerah. Kebijakan itu dipicu karena dirinya terlalu kaku dalam memberi masukan kepada bupati, khususnya terkait pengadaan lahan bandara.

Wiyono menganggap mutasi merupakan bagian dari risiko sikap. Dia tidak bisa tinggal diam saat melihat Ratna tebang pilih dalam bersikap kepada bawahan. Dia pun terlibat gelombang protes. Konsekuensi sikapnya berbuah sanksi. Wiyono dipindahtugaskan menjadi guru di SMAN 1 Banyuwangi. ”Akhirnya saya menggerakkan demo anti-Ratna,” ungkapnya.

Kondisi lebih kondusif, namun dengan tantangan yang tidak kalah berat saat Abdullah Azwar Anas menjadi bupati. Kala itu, Wiyono diserahi tugas merintis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kondisi BPBD masih belum memiliki apa-apa, termasuk kantor dan peralatannya.

Wiyono akhirnya nekat mencari utangan. Langkah ini sempat dicegah stafnya karena dikhawatirkan berisiko secara hukum. ”Dilantik  Oktober, satu rupiah pun gak ada anggaran. Kantornya di mana saya tidak tahu,” ujarnya.

Setelah tidak menjabat sebagai Kepala BPBD, Wiyono mendapat amanah sebagai Kepala Bakesbangpol, Asisten Bupati, dan kembali lagi menjabat Kepala Bakesbangpol hingga purnatugas.

(bw/sli/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia