Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Mengenal Imron, Petani Spesialis Bunga Nyekar

Omzet Meroket Jelang Malam Jumat, Setangkai Mawar Dihargai Rp 300

06 Oktober 2019, 11: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

WANGI: Mutoharoh memetik bunga mawar di kebun miliknya di Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, Kamis (3/10).

WANGI: Mutoharoh memetik bunga mawar di kebun miliknya di Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri, Kamis (3/10). (Sigit Hariyadi/RaBa)

Share this          

Tanaman bunga mawar menghampar luas. Mempercantik area pertanian di sekitarnya. Tak jarang tempat tersebut jadi jujugan pelajar untuk berswafoto. Padahal, bukan itu tujuan utama H Imron, sang pemilik lahan.

SIGIT HARIYADI, Jawa Pos Radar Banyuwangi, Giri

BERMEKARAN. Merah merekah. Indah dan mewangi. Membuat saya betah berlama-lama berada di dekatnya. Menikmati harumnya. Mengagumi penciptanya.

Bunga mawar itu tumbuh di area persawahan di Lingkungan Krajan, Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri. Tak jauh dari rumah si pemilik. Hanya berjarak sekitar 100 meter dari jalan raya yang bernama sama dengan sang bunga. Jalan Mawar.

Sudah sekitar sepuluh tahun terakhir H Imron, 60, menanam beragam jenis bunga di sawah seluas setengah hektare (ha) miliknya. Sebagian besar ditanami bunga mawar. Sebagian yang lain, dimanfaatkan untuk menanam bunga sedap malam, kenanga, pacar air, kenikir hias, hingga pandan.

Imron mengaku kebun bunga miliknya itu bukan dimaksudkan untuk menjadi destinasi wisata. Bukan pula untuk disewakan sebagai lokasi foto outdoor dan lain sebagainya. Tujuan utamanya adalah menjual bunga segar. ”Meski demikian, anak-anak sekolah sering datang ke sini. Mereka suka foto-foto di kebun bunga ini,” ujarnya ditemui usai memanen bunga-bunga tersebut Kamis (3/10).

Imron mengatakan, setiap hari bunga-bunga itu dipanen. Setiap hari itu pula ada pelanggan yang datang membeli kembang-kembang tersebut. ”Pelanggan saya rata-rata adalah pedagang bunga segar. Bunga-bunga ini dijual di pasar tradisional. Dijual untuk keperluan nyekar. Tetapi ada juga warga Tionghoa nyaris rutin membeli setiap pekan. Entah untuk apa. Mungkin untuk sembahyang,” kata dia didampingi sang istri, Mutoharoh.

Imron mengaku, awalnya dia menanam padi di lahan miliknya tersebut. Namun sejak sekitar sepuluh tahun lalu, lahan tersebut dia tanami aneka jenis bunga. ”Menurut saya, lebih enak menanam bunga,” akunya.

Bagaimana tidak, rata-rata omzet yang diraih dalam sehari mencapai Rp 100 ribu. Bahkan, setiap Kamis pagi, nominal penjualannya yang dia raih bisa mencapai Rp 300 ribu. Sebab, setiap Kamis permintaan dari para penjual bunga selalu melonjak. ”Menjelang malam Jumat, banyak orang yang mau nyekar,” kata dia.

Bukan hanya Kamis, setiap menjelang Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha, pendapatan Imron kian menjulang. Maklum, saat-saat itu permintaan bunga segar untuk keperluan nyekar sangat tinggi. Hukum ekonomi pun berlaku. Saat permintaan meningkat, ceteris paribus (faktor-faktor yang lain dianggap tidak ada perubahan), maka harga barang tersebut akan meningkat. ”Menjelang Ramadan atau Lebaran, omzet kami bisa mencapai jutaan rupiah,” akunya.

Sementara itu, Mutoharoh mengatakan, di hari normal, bunga mawar dijual ke pelanggan seharga Rp 300 per tangkai. Atau jika dijual secara timbangan, per kilogram (kg) bunga mawar dipatok dengan harga Rp 60 ribu.

Sedangkan bunga sedap malam dan kenanga dijual seharga Rp 5 ribu per seratus tangkai atau Rp 20 ribu per kg. Harga bunga kenikir hias sebesar Rp 10 ribu per kg, dan pandan dihargai Rp 5 ribu per ikat.

Namun saat menjelang Ramadan dan Lebaran, aku Mutoharoh, harga jual bunga meroket. Di saat-saat itu, satu tangkai bunga mawar dijual dengan harga Rp 1 ribu. ”Meski harga naik, pelanggan tidak akan menawar. Bahkan mereka meminta jatahnya ditambah,” akunya.

Sementara itu, versi Imron perawatan tanaman bunga relatif mudah. Agar produktivitas tanaman optimal, yang diperlukan hanyalah pemupukan rutin dan penyemprotan perangsang bunga.

Pemupukan biasanya dia lakukan sebulan sampai dua bulan sekali. Pupuk yang digunakan pun bervariasi. Terkadang pemupukan dia lakukan dengan cukup urea dan NPK, kadang menggunakan pupuk kandang. ”Saya menggunakan satu kuintal urea dan NPK untuk lahan setengah hektare ini. Sedangkan penyemprotan perangsang bunga dilakukan seperlunya,” pungkasnya.

(bw/sgt/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia