Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Politik & Pemerintahan

Tertinggi di Eks Karesidenan Besuki, IPM Banyuwangi Tembus 70,06

05 Oktober 2019, 11: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PEMERTAAN KUALITAS PENDIDIKAN: Bupati Abdullah Azwar Anas dan Kadis Pendidikan Sulihtiyono mengunjungi guru yang bertugas di pelosok desa dalam program Banyuwangi mengajar beberapa waktu lalu.

PEMERTAAN KUALITAS PENDIDIKAN: Bupati Abdullah Azwar Anas dan Kadis Pendidikan Sulihtiyono mengunjungi guru yang bertugas di pelosok desa dalam program Banyuwangi mengajar beberapa waktu lalu. (Dok.RaBa)

Share this          

JawaPos.com – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2018, melejit naik menjadi 70,06 dari tahun 2017 di angka 69,64. Lonjakan IPM ini, mendongkrak posisi Banyuwangi ke peringkat 20 daerah di Jatim dengan kategori IPM tinggi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi, Selasa lalu (1/10) merilis capaian IPM Banyuwangi dari tahun 2012 hingga 2018. Pada tahun 2018 IPM Banyuwangi tumbuh sekitar 0,59 persen, dengan rata-rata pertumbuhan IPM per tahun sejak 2012 hingga 2018 sekitar 0,97 persen.

Pada 2012, IPM Banyuwagi tercatat di angka 66,12 dan naik sekitar 0,94 persen menjadi 66,74 persen pada 2013. Pada tahun 2014 naik sekitar 0,86 persen jadi 67,31, tahun 2015 naik 68,08 atau 1,15 persen, dan tahun 2016 naik lagi sekitar 1,34 persen menjadi 69,00. ”Meningkatnya IPM Banyuwangi lebih disebabkan oleh meningkatnya komponen pengeluaran,” ujar Kepala BPS Banyuwangi Tri Erwandi, SE.

Komponen IPM terdiri dari umur harapan hidup (UHH) saat lahir, harapan lama sekolah (HLS), rata-rata lama sekolah (RLS), dan pengeluaran per kapita (PPK) setiap tahun yang disesuaikan. Bersamaan meningkatnya IPM, UHH juga naik sekitar 0,21 persen menjadi 70 tahun empat bulan, HLS 12 bulan delapan bulan atau tumbuh 0,08 persen, RSL tumbuh 0,14 persen menjadi tujuh tahun lima bulan, dan pengeluaran per kapita tumbuh cukup signifikan sekitar 3,41 persen menjadi Rp 11,380 juta.

Meski IPM Banyuwangi naik ke kategori tinggi di Jatim, namun capaian IPM Banyuwangi masih kalah dengan IPM Kota Madiun, Kota Malang, dan Kota Surabaya yang berada di kategori sangat tinggi dengan capai IPM 81,74. ”Untuk level IPM eks wilayah Besuki, IPM Banyuwangi tercatat tertinggi. Setelah Banyuwangi diikuti Situbondo 66,42; Jember 65,96; dan Bondowoso 65,27,” kata Tri.

Untuk kecepatan IPM di Jatim tahun 2017–2018, Banyuwangi kalah dengan Jember yang tumbuh sekitar 1,54 persen. Ada tiga kabupaten yang IPM-nya tumbuh sangat cepat. Selain Jember, juga ada Sampang dengan kecepatan 1,84 persen dan Sumenep dengan pertumbuhan 1,51 persen.

Tri menjelaskan, umur bayi yang baru lahir di Banyuwangi mempunyai peluang untuk hidup hingga 70 tahun empat bulan atau ada kenaikan dua bulan dibanding tahun 2017 yang hanya mencapai 70 tahun dua bulan. Sedangkan untuk HLS di Banyuwangi mencapai 12,69 tahun atau anak-anak Banyuwangi usia tujuh tahun memiliki peluang untuk mengenyam pendidikan hingga semester dua di bangku kuliah.

Untuk RSL di Banyuwangi mencapai 7,12 tahun atau rata-rata penduduk Banyuwangi berusia 25 tahun ke atas sebagian besar sudah mengenyam pendidikan hingga kelas VIII atau SMP sederajat di kelas 2 semester pertama. Sementara pengeluaran per kapita pendudukan Banyuwangi sebesar Rp 11,83 juta per tahun atau ada kenaikan Rp 390 ribu bila dibanding tahun 2017.

(bw/ics/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia