Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Ekonomi Bisnis

Dua Kali Deflasi Dipicu Harga Daging Ayam Turun

04 Oktober 2019, 21: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

HARGA AYAM : Turunnya harga daging ayam potong memicu terjadinya deflasi sepanjang bulan September.

HARGA AYAM : Turunnya harga daging ayam potong memicu terjadinya deflasi sepanjang bulan September. (Ramada Kusuma/RaBa)

Share this          

JawaPos.com – Untuk kedua kalinya sepanjang tahun 2019, Banyuwangi mengalami deflasi -0,05 persen. Turunnya daging ayam potong dan terong panjang memicu terjadinya deflasi atau penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 131,46 pada Agustus menjadi 131,40 pada September 2019.

Sepanjang September 2019, dari delapan kota IHK di Jatim, semuanya mengalami deflasi. Deflasi tertinggi terjadi di Kota Jember sebesar 0,29 persen, disusul Kota Kediri sebesar 0,27 persen, dan terkecil terjadi di Kota Surabaya sebesar 0,02 persen.

Inflasi tertinggi di Banyuwangi berasal dari kelompok sandang sebesar 1,44 persen. Disusul kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,65 persen, kelompok kesehatan 0,55 persen, kelompok transpor, komunikasi, jasa keuangan sebesar 0,30 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,23 persen. ”Untuk kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau dan kelompok bahan makanan terjadi deflasi 0,10 persen dan 1,29 persen,” ungkap Kepala BPS Banyuwangi Tri Erwandi SE dalam rilisnya kemarin.

Dalam kurun waktu sembilan bulan, Januari hingga September 2019, Banyuwangi mengalami dua kali deflasi. Deflasi yang terjadi pada Februari dan September, ternyata dipicu oleh penyebab yang sama yakni turunnya harga daging ayam ras.

Pada September 2019, harga daging ayam ras mengalami penurunan sebesar 12,49 persen dan memberikan andil sebesar -0,15 persen. Diikuti turunnya harga telur ayam ras sebesar 6,49 persen, terong panjang -17,56 persen, cabai besar -33,57 persen), cabai rawit -29,36 persen, dan bawang merah -14,91 persen.

Menurut Tri, melemahnya harga daging ayam ras diduga akibat penghentian proses afkir dini terhadap DOC pada 12 Juli 2019 dari Kementerian Pertanian. Karena itu, terjadi kelebihan pasokan day old chick (DOC) dari tingkat peternak sehingga stok barang melimpah. Turunnya harga daging ayam ras diikuti turunnya harga telur ayam ras sebesar 6,49 persen.

Sempat terjadi kenaikan harga di dua bulan sebelumnya, pada September komoditas cabai rawit mulai tergerus harganya sebesar 29,36 persen. Sementara pada bulan Juli 2019, terjadi lonjakan harga cabai rawit sangat signifikan sebesar 173,55 persen dan 23,75 persen pada bulan Agustus 2019.

Begitu juga pada cabai merah terjadi inflasi pada bulan Juli 2019 sebesar 32,92 persen dan terus merosot pada bulan Agustus dan September atau terjadi deflasi sebesar 13,19 persen dan 33,58 persen. Turunnya harga cabai rawit dan cabai merah akibat banyaknya panenan sehingga persediaan barang di pasar melimpah.

Deflasi September 2019 dihambat kenaikan harga emas perhiasan, jeruk, bimbingan belajar, dan minyak goreng. Emas perhiasan terjadi inflasi sebesar 2,71 persen, jeruk 5,34 persen, bimbingan belajar 7,52 persen, dan minyak goreng sebesar 2,96 persen.

Perhiasan emas memberikan andil inflasi tertinggi sejak beberapa bulan terakhir sebesar 0,09 persen, disusul jeruk dengan andil sebesar 0,04 persen. Kenaikan harga jeruk diduga akibat berkurangnya panen didaerah sentra jeruk seperti Kecamatan Bangorejo.

Tri menambahkan, komponen inti (core) pada September 2019 mengalami inflasi sebesar 0,45 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 127,58 pada Agustus 2019 menjadi 128,15 pada September 2019. Komponen yang harganya diatur pemerintah atau administered price mengalami inflasi sebesar 0,10 persen atau terjadi kenaikan indeks dari 161,55 pada Agustus 2019 menjadi 161,72 pada bulan September 2019.

Sementara komponen yang harganya bergejolak (volatile) mengalami deflasi sebesar 1,47 persen. Atau terjadi penurunan indeks dari 120,96 pada Agustus 2019 menjadi 119,18 pada bulan September 2019.

(bw/ics/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia