Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Sering Dikunjungi Umat Hindu, Candi Gubuk Payung Kurang Terawat

01 Oktober 2019, 21: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

DIKERAMATKAN: Pengunjung berdoa di Candi Gubuk Payung yang berlokasi di anak petak 58A3 RPH Sidomulyo, BKPH Kalistail, Perhutani KPH Banyuwangi Barat wilayah Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Selasa lalu (24/9).

DIKERAMATKAN: Pengunjung berdoa di Candi Gubuk Payung yang berlokasi di anak petak 58A3 RPH Sidomulyo, BKPH Kalistail, Perhutani KPH Banyuwangi Barat wilayah Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, Selasa lalu (24/9). (Bagus Rio/RaBa)

Share this          

Candi Gubuk Payung atau lebih dikenal Watu Peca yang berlokasi di anak petak 58A3 RPH Sidomulyo, BKPH Kalistail, KPH Banyuwangi Barat, wilayah Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu, itu salah satu tempat yang dikeramatkan dan memiliki nilai sejarah tinggi. Tapi, kondisinya mengenaskan karena kurang terawat.
 
BAGUS RIO ROHMAN, Sempu

LOKASI Candi Gubuk Payung atau lebih dikenal Watu Peca itu berada di hutan yang dikelola Perhutani KPH Banyuwangi Barat. Untuk mencari candi itu, tidak mudah karena harus menempuh jarak yang cukup jauh dengan melewati jalan bebatuan.

Dari kantor Desa Jambewangi menuju candi itu, memerlukan waktu sekitar dua jam perjalanan dengan jarak sekitar tujuh hingga sembilan kilometer. Jalan yang penuh bebatuan, membuat waktu tempuh yang lama.

Dari batas perkampungan, untuk menuju ke lokasi candi masih harus menempuh jarak tiga kilometer lagi. Jalannya tidak beda, penuh dengan bebatuan. Setelah sampai di tengah hutan atau di ujung jalan bebatuan, harus menempuh jalan setapak sejauh 300 meter. Bahkan, hanya satu kendaraan sepeda motor saja yang bisa melalui jalan tersebut.

Candi Gubuk Payung terlihat dipenuhi lumut. Bangunan candi itu, sepertinya sudah tidak utuh. Banyak bebatuan yang hilang. Selama ini, di candi itu tidak ada juru kunci atau yang menunggu. “Tidak ada juru kuncinya, hanya masyarakat yang peduli dengan sejarah saja yang menjaga,” cetus ketua LMDH Mitra Lestari Desa Jambewangi, Nur Hamid.

Di sekitar lokasi candi memang berbeda, tidak ada pohon jati atau rumput ilalang yang tumbuh. Hanya saja, candi yang tidak terawat itu banyak yang rusak akibat ulah tangan manusia tidak bertanggung jawab. “Candi ini pertamakali ditemukan dan dibuka oleh masyarakat sekitar tahun 2009 lalu,” cetusnya.

Gubuk payung itu, sebenarnya sebuah gubuk yang dibuat oleh sekelompok warga untuk beristirahat. Tanpa disadari, gubuk yang dibuat itu seperti payung. Makanya, tempat itu dinamakan gubuk payung. Sedangkan candi yang ditemukan itu, sebenarnya bermula dari sekelompok orang yang membuka hutan pinus. Sebelum ditanami pohon pinus, hutan itu dulunya hutan belantara yang banyak ditumbuhi pohon bambu. “Saat menebang pohon pinus, mengenai benda aneh yang belum pernah dilihat,” terangnya.

Setelah didekati dan diamati, ternyata benda itu adalah sebuah patung batu yang duduk bersila di tempat seperti kursi dari batu. Kedua tangan patung itu bersedakep, rambut disanggul di atas layaknya seorang pendeta. Patung tersebut menghadap ke timur yang diapit dua buah batu ukiran bersusun-susun di kanan dan kiri dengan tinggi sekitar 70 centimeter.

Melihat benda aneh itu, sejumlah warga terkejut dan takut. Mereka mengira tempat itu adalah kuburan kuno. Takut akan terjadi sesuatu terhadapnya, mereka segera membersihkan tempat itu kemudian memagari dengan ranting-ranting pohon Pinus. Sampai siang hari, pikiran warga itu tidak bisa tenang, rasa laparpun hilang karena pikirannya was-was. Mereka takut terjadi sesuatu pada dirinya, karena pohon pinus yang ditebang telah roboh menimpa kuburan tersebut.

Saat itu juga, mereka menceriterakan penemuan patung itu kepada teman lainnya. Begitu mendengar cerita ini, warga lainnya penasaran ingin tahu kuburan tersebut. Setelah mencari kesana-kemari, ternyata warga itu tidak menemukan apa-apa. Akhirnya mereka kembali pada sejumlah warga yang memotong pohon pinus itu. “Minta diantar dan menunjukkan lokasi patung tersebut,” terangnya.

Setelah ditunjukkan, barulah warga itu bisa melihat dengan jelas patung yang dikira kuburan itu. Padahal, warga yang mencari itu berputar-putar di sekitar lokasi, tapi tidak tahu. “Aneh, memang sungguh aneh. Tetapi itu lah yang terjadi saat kita merasakan atau berhadapan dengan mistis,” ungkapnya.

Beberapa tahun kemudian, setelah hutan pinus itu ditutup kembali. Ada sekelompok warga masih melihat candi itu. Warga pun juga banyak yang membawa pulang batu-batu paras dibuat tungku untuk memasak. Juga ada warga mengambil dua buah batu ukiran bersusun-susun untuk dibuat mainan, karena bentuknya yang aneh dan indah. Salah satu dari batu itu ada yang patah ujungnya. “Sampai kini patahan ujung batu ukiran itu masih dan disimpan di rumah warga,” paparnya.

Sampai akhirnya, rombongan dari Bali yang di antaranya seorang pemangku datang dengan diantar oleh warga. Hanya saja, tidak diketahui rombongan itu dari Bali daerah mana. Rombongan itu mengadakan persembahyangan bersama di tempat itu. Sejak saat itulah, banyak warga tahu dan percaya bahwa tempat itu bukan kuburan seperti dugaan mereka selama ini. Tapi tempat sucinya orang Hindu. “Terkadang banyak orang Hindu dari berbagai daerah berdatangan, mereka mengadakan ritual di Candi Gubuk Payung tersebut,” ungkapnya.

Di beberapa lokasi yang berbeda, juga banyak ditemukan benda-benda bersejarah lainnya, seperti Siwa Lingga atau simbol kehidupan manusia, batu yang bentuknya menyerupai sayap Gatot Kaca, naga berkepala manusia dan beberapa patung lainnya. Namun, sampai saat ini tidak ada yang mengetahui dimana patung yang ditemukan itu disimpan. “Tidak ada yang tahu di mana situs maupun candi yang pernah ditemukan itu disimpan, yang ada hanya Candi Gubuk Payung yang bebatuannya sudah hilang akibat diubah bentuk oleh sekelompok orang,” jelasnya. (abi)

(bw/rio/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia