Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Kiprah Para Marshall di Tengah Hiruk-Pikuk Tour de Ijen

29 September 2019, 11: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

John merupakan satu-satunya anggota Perkumpulan Race Marshall Nasional alias Pengawal Balap Sepeda Indonesia. ”Bagi saya, menjadi marshall ini hobi yang jadi pekerjaan,” ujarnya.

John merupakan satu-satunya anggota Perkumpulan Race Marshall Nasional alias Pengawal Balap Sepeda Indonesia. ”Bagi saya, menjadi marshall ini hobi yang jadi pekerjaan,” ujarnya. (Ramada Kusuma/RaBa)

Share this          

Tak perlu survei jalan. Meski jalanan itu masih ”asing” sekalipun. Namun, beban berat harus dipikul. Memandu sekaligus menjamin keselamatan para pembalap melahap rute balapan. Seperti itulah kiprah Chief Marshall event ITdBI 2019, John Eva.

SIGIT HARIYADI, Jawa Pos Radar Banyuwangi

MENGENAKAN rompi warna hijau ”menyala”. Tongkrongannya sepeda motor sport berkapasitas mesin 250 cc. Pelindung kepala (baca: helm), alat telekomunikasi handy talky (HT), serta sepatu boots bikers melengkapi penampilan John Eva, Jumat siang (27/9).

Setelah memarkir sepeda motornya di sisi timur Jalan Ahmad Yani, tepatnya di depan kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Banyuwangi, John melangkah bergegas. Menuju puluhan pria lain yang mengenakan pakaian serupa dan tengah berkumpul di sisi barat jalan.

Setelah bercakap-cakap sejenak, dia langsung berangkat. Melesat ke arah selatan. Menuju Jalan Adi Sucipto, hingga akhirnya hilang dari pandangan.

Selang beberapa saat, iring-iringan mobil mengikuti pria yang belakangan diketahui merupakan Chief Marshall event International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI) 2019. Mobil itu mengangkut para commissaire ajang balap sepeda grade 2.2 Federasi Balap Sepeda Internasional (Union Cycliste Internationale/UCI) tersebut.

John sudah menjadi marshall ITdBI sejak kali pertama event sport tourism ini digeber pada 2012 lalu. Bahkan bukan hanya berkiprah di ITdBI, pria yang beralamat di Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi itu juga kerap menjadi marshall ajang balap sepeda yang digelar di berbagai pelosok negeri, mulai Tour de Singkarak di Sumatera Barat (Sumbar), Tour de Ambon Manise di Ambon, Tour de Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT), dan lain sebagainya. Bukan itu saja, dia juga pernah bertugas sebagai marshall pada ajang balap sepeda Tour de Langkawi di Malaysia.

John merupakan satu-satunya anggota Perkumpulan Race Marshall Nasional alias Pengawal Balap Sepeda Indonesia. ”Bagi saya, menjadi marshall ini hobi yang jadi pekerjaan,” ujarnya.

John mengaku ada beberapa hal yang paling dibutuhkan seseorang untuk menjadi marshall. Selain skill mengendarai sepeda motor yang mumpuni, seorang marshall juga harus memahami regulasi balap sepeda. ”Bukan itu saja, marshall juga harus memiliki insting yang kuat. Kami harus bisa mengambil keputusan yang tepat dalam waktu sepersekian detik. Itu berkaitan dengan standard operating procedure (SOP) marshall, yakni keselamatan diri sendiri, keselamatan pembalap, serta keselamatan tim lain,” kata dia.

 John menjelaskan, secara umum, tugas marshall adalah mengawal jalannya balapan sejak awal sampai akhir. Selain itu, marshall bertugas membantu kelancaran balapan, termasuk keamanan pembalap saat bertanding di lintasan maupun keamanan masyarakat secara umum.

Lebih jauh dikatakan, marshall terbagi menjadi tiga kategori. Ada Marshall Hazard, Marshall Commisaire, dan Marshall Media. Marshall Hazard bertugas memberikan tanda halang-rintang kepada pembalap. Sebelum pembalap, sang marshall harus jalan terlebih dahulu. ”Karena saat membalap, pembalap tidak melihat jalan, tetapi melihat roda depan sepedanya. Nah, tugas Marshall Hazard memberi tanda kalau ada lubang, portal, perlintasan kereta api (KA), tikungan tajam, atau kendaraan besar yang parkir di badan jalan agar tidak ditabrak oleh pembalap. Tanda atau peringatan itu disampaikan dengan suara peluit atau bendera,” paparnya.

Sedangkan Marshall Commisaaire bertugas membawa juri atau commissaire dan Marshall Media bertugas membawa media peliput event balapan tersebut.

John menambahkan, sebelum bertugas mengawal balapan, marshall tidak harus melakukan survei rute yang akan dilalui pembalap. Sebaliknya, tugas itu harus dilakukan dengan sebaik-baiknya hanya dengan bermodal race manual atau semacam buku panduan balapan. ”Setiap etape selalu ada briefing. Panduannya adalah race manual. Berbekal race manual itu, kami tahu berapa jauh rute yang harus dilalui, seperti apa karakteristik rute, tingkat elevasi (ketinggian) rute, hingga titik sprint, tanjakan, dan lain sebagainya,” terangnya.

Lantas dari mana kemampuan menerjemahkan race manual itu dia dapat? John mengaku dirinya telah menjalani pendidikan khusus. Tepatnya pendidikan Race Marshall Nasional.

Sementara itu, salah satu Marshall ITdBI yang lain, Kukuh Widodo mengatakan, ada tugas berat yang diemban setiap marshall. Bukan hanya harus menjamin keselamatan diri sendiri, marshall juga harus bisa menjaga keselamatan pembalap dan penonton. ”Karena itu, selain harus memiliki skill berkendara yang baik, kondisi kendaraan yang digunakan harus prima,” pungkasnya.

(bw/aif/sgt/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia