Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom

Petani kok Miskin?

Oleh: Andang Subaharianto

26 September 2019, 14: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Petani kok Miskin?

Share this          

Pak Tua di Probowangi Sabtu sore kemarin mirip Pak Marhaen. Kurus kerontang. Kulitnya legam akibat sengatan matahari. Tangan dan kakinya tampak kasar. Raut mukanya berkerut tajam. Tampak jauh lebih tua dari usianya. Siapapun yang melihat akan segera berkesimpulan: miskin.

Siapa Pak Marhaen? Dia adalah sosok petani temuan Bung Karno pada zaman Kolonial (1927). Sangat miskin. Padahal, Pak Marhaen menggarap tanahnya sendiri. Pak Marhaen juga memiliki cangkul  sendiri. Dia juga memiliki alat produksi yang lain. Tapi tetap saja miskin. Hidup sengsara.

Berbeda dengan kaum buruh temuan Tuan Marx. Mereka pun miskin. Tapi karena buruh tak menguasai alat-alat produksi. Bahkan buruh dikategorikan faktor produksi dalam ilmu ekonomi modern. Buruh juga tak menikmati nilai lebih kerjanya.

Pak Marhaen mewakili sosok rakyat Hindia Belanda. Miskin dan sengsara. Dimiskinkan dan disengsarakan oleh sistem kolonialisme/imperialisme. Kata Bung Karno, karena kemiskinan dan kesengsaraan yang tak tertahankan, banyak rakyat jajahan minta dibui saja. ”Di bui masih kenyang makan, sedang di luar belum tentu sekali sehari…,” demikian Bung Karno menjelaskan.

Pak Tua  di Probowangi itu juga petani. Juga punya lahan. Tapi tak sampai 0,5 ha. Juga punya cangkul dan bajak. Bercocok tanam bahan pangan. Tapi hasilnya, kata Pak Tua, tak pernah cukup untuk mengangkat nasibnya. Bahkan tak jarang merugi.

Apalagi sekarang. Pak Tua mengeluh, ongkos produksi makin mahal. Lahannya butuh perlakuan yang makin mahal. Sawahnya makin manja. Kebutuhan pupuk makin banyak. Kebutuhan air makin banyak. Harus diobat. Makin banyak. Tanpa diobat, akan habis diserang hama. Barangkali akibat ”revolusi hijau” yang dipaksakan sejak dekade 1970-an. Tapi hasilnya? Pak Tua memandang ke arah jendela Kereta Api Probowangi sore itu tanpa menjelaskannya. Tiba-tiba dia menatap saya seraya berucap, ”Miskin itu mungkin sudah takdir petani ya?”

Saya catat langsung ucapan Pak Tua itu di gawai saya. Jangan-jangan benar. Semua manusia butuh makan. Jumlahnya makin banyak. Hewan piaraan manusia pun butuh makan. Jumlahnya juga makin banyak. Bukankah bahan makanan manusia dan hewan piaraannya dihasilkan dari kerja petani? 

Bila kerja petani senantiasa dibutuhkan, dengan jumlah yang makin banyak, mestinya tidak miskin dan sengsara. Mestinya petani hidup layak dan sejahtera. Tapi petani kok miskin dan sengsara? Apakah kerjanya tak pantas dihargai yang tinggi? Karena mereka pada umumnya bukan produk pendidikan tinggi? Karena kita tak mau harga pangan mahal? Apakah memang harus ada kurban sosial agar pangan tetap murah? Dan kurban itu bernama Pak Tua (dan golongannya). 

Ucapan Pak Tua itu sepertinya telah menjadi tesis abadi. Tak runtuh-runtuh. Bung Karno dan sejumlah tokoh berjuang meruntuhkannya. Meruntuhkan dengan memerdekakan rakyat jajahan. Meruntuhkan dengan membentuk negara merdeka. Meruntuhkan dengan membentuk sistem pemerintahan yang berdasarkan Pancasila. Meruntuhkan dengan membangun sistem hukum nasional yang berkeadilan sosial.

Dibuatlah UUD 1945. Dibuatlah peraturan dasar di bidang agraria (Undang-Undang 5 Tahun 1960) yang menggantikan peraturan agraria buatan penjajah (Agrarische Wet 1870). Yang pengesahannya diperingati sebagai Hari Tani Nasional, 24 September. Lalu didirikan pula fakultas yang mengurus soal pertanian di banyak perguruan tinggi.

Tapi masih saja muncul sosok Pak Tua. Yang mirip Pak Marhaen. Miskin dan sengsara. Dan karena itu pula, bertani dijauhi oleh generasi sekolahan dewasa ini. Fakultas Pertanian pun sepi. Ogah menjadi petani. 

Sore itu Pak Tua benar-benar menohok saya. ”Tapi saya ikhlas, Mas. Senang sawah saya masih tumbuh padi. Masih mau ke sawah. Kan repot nanti kalau petani gak mau nyawah,” ujar Pak Tua seraya tersenyum tipis. Ujaran yang penuh kritik, sekaligus berbobot politis. Karena posisi sosialnya, petani memang kerap dibawa dalam urusan politis. Bahkan literatur klasik tentang petani kerap mengaitkannya dengan gerakan revolusioner. Tapi nyatanya tesis ”petani kok miskin” tak runtuh-runtuh. 

Pak Tua adalah fenomena. Seperti juga Pak Marhaen yang ditemukan Bung Karno. Bagi kita tentu sangat genting. Bukankah kita dikaruniai alam semesta melimpah, mestinya juga menjamin kesejahteraan para petani? Bila kerja petani adalah pangkal dari kecukupan pangan, mestinya mereka terhindar dari kemiskinan dan hidup sengsara.

Kemiskinan dan kesenggaraan Pak Tua di Probowangi sore itu menegaskan satu hal. Betapa petani hingga hari ini masih terasing dari kerjanya. Terasing dari tanahnya. Dari cangkul dan bajaknya. Mereka bertani dengan alat-alat produksinya sendiri. Tapi tak tahu hakikat yang dihasilkan. Mereka menanam apa, ke mana, dan berapa nilainya, sesungguhnya petani tak tahu. Mereka terasing dari keringatnya.

Bila kerja petani adalah pangkal manusia hidup, petani haruslah hidup. Bukan terpaksa hidup. Negara haruslah menjaminnya. Jangan asingkan petani dari kerjanya, dari keringatnya. (*)

*) Rektor Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia