Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom

Gerakan Literasi Madrasah

Oleh: Syafaat SH, MHI

26 September 2019, 09: 20: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Gerakan Literasi Madrasah

Share this          

SATU lagi langkah terpadu dilakukan dalam melaksanakan gemar membaca bagi siswa dengan Gerakan Literasi Madrasah. Di mana dalam gerakan ini peserta didik bukan hanya dibudayakan untuk menulis, namun juga diajari bagaimana menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk karya tulis, baik karya tulis fiksi maupun nonfiksi. Gerakan Literasi Madrasah ini merupakan salah satu dari program Gerakan Ayo Membangun Madrasah, di mana peserta didik berikut tenaga pendidik dan kependidikan digali potensinya untuk bersama-sama maju meningkatkan sumber daya yang unggul.

Kita menyadari bahwa setiap manusia mempunyai keunggulan masing-masing. Karena itu, keunggulan yang berbeda tidak dapat diterapkan pada bidang yang sama. Menyadari hal tersebut, Gerakan Ayo Membangun Madrasah berupaya untuk menggali segala potensi yang dimiliki oleh peserta didik yang harus diawali oleh peningkatan kemampuan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, di mana tenaga pendidik dan kependidikan ini harus diprioritaskan sebelum menggali potensi dari peserta didik.

Menuliskan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan bukankah hal yang mudah. Karena bahasa tulisan sedikit berbeda dengan bahasa lisan. Dalam bahasa tulisan ini, sebelum dipublikasikan masih dapat diedit dan disempurnakan. Karena itu, rangkaian dan pilihan kata yang tepat sangat diperlukan dalam bahasa tulisan, karena orang yang lihai dalam orasi atau bahasa lisan, belum tentu mampu menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan yang mudah dicerna.

Setiap orang yang menulis, ingin tulisannya terlihat sempurna. Namun banyak yang belum dapat mewujudkan bagaimana membuat tulisan yang sempurna. Bagi saya tidak ada tulisan manusia yang sempurna, karena ide dan gagasan selalu berkembang. Pengalaman saya sendiri dalam menulis sebuah ide, gagasan maupun cerita, dalam menulis tersebut jarang saya membacanya kembali sebelum tulisan saya usai. Hal ini saya maksudkan agar ide yang muncul terus mengalir sampai ide tersebut benar-benar tuntas dalam sebuah karya tulis. Saya baru mengedit setelah saya rasa gagasan saya sudah habis terkuras tuntas.

Beberapa kali saya diajak diskusi oleh para calon penulis, rata-rata pertanyaan yang mereka sampaikan tetap sama, yakni bagaimana memunculkan ide dan gagasan tersebut dalam karya tulis. Sebenarnya mereka punya banyak ide yang akan dituliskan dalam sebuah karya, namun ketika ide tersebut benar-benar dituangkan dalam sebuah tulisan yang diperkirakan berlembar-lembar, namun seakan ide tersebut habis dalam beberapa alinea saja.

Beberapa penulis pemula berupaya menulis sesuatu yang menurut saya melampaui kemampuannya. Sebenarnya idenya luar biasa, namun mereka ingin menuliskan sesuatu berkelas nasional maupun internasional. Padahal menurut saya, kearifan lokal juga dapat berkelas nasional maupun internasional.
 
Membaca sebagai Hiburan dan Menulis sebagai Hobi

Membaca dapat dijadikan sebagai salah satu wahana hiburan. Di samping sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman, zaman dulu (tahun 1980-an) kita sering meminjam buku cerita di perpustakaan sebagai salah satu hiburan kita di kala senggang. Kita sering meminjam buku dari teman untuk kita baca secara bergantian, dan seiring dengan bergantinya waktu budaya membaca tersebut sedikit bergeser dengan hadirnya teknologi.

Dulu kita diajari oleh para guru untuk menulis halus, diajari bagaimana cara menulis surat yang dikirim melalui pos, atau menulis kartu pos. Seiring waktu, media menulis tersebut berubah menjadi elektronik di mana cara menyampaikan menjadi lebih cepat dan cenderung singkat. Tata penulisan media modern melalui media sosial (medsos) tidak ada yang baku sebagaimana dalam media paper. Kemudahan media IT tersebut memuat kita mudah dalam mengakses informasi. Namun sering kali kita hanya membaca sebagian dari informasi tersebut yang kita anggap perlu yang kadang kita lupa dengan prolog dari berita tersebut.

Banyak penulis yang menyalurkan hobi menulisnya di media sosial. Hal ini karena dalam media sosial kita dapat menuliskan ide dan gagasan kita dengan lebih bebas. Di media sosial kita dapat mengunggah tulisan kita sendiri tanpa melalui filter redaktur sebagaimana dalam media cetak. Beberapa penulis yang aktif dalam blog pribadi juga mendapatkan rupiah yang lumayan dari blog yang dimilikinya.

Bagi seorang guru dan jabatan fungsional tertentu lainnya, karya tulis merupakan sebuah keniscayaan bagi kenaikan pangkatnya. Banyak yang menthok kepangkatannya karena ketidakmampuan mengumpulkan angka kredit akibat kurangnya karya tulis yang dimilikinya. Karena menuangkan ide dan gagasan dalam sebuah karya tulis bukanlah hal yang mudah.

Salah satu tujuan dari Gerakan Literasi Madrasah adalah menjadikan membaca media hiburan dan menjadikan menulis sebagai hobi. Di samping sebagai salah satu upaya peningkatan sumber daya manusia menuju industri 4.0, yakni nama tren otomasi dan pertukaran data terkini, di mana dalam Industri 4.0 ini peran media digital sangat diperlukan. Peningkatan SDM melalui budaya literasi sangat diperlukan untuk mewujudkan SDM yang siap bersaing pada dunia global.(*)

*) Analis data dan informasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemenag Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia