Minggu, 17 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Pengalaman Bripka Sugiandono di Afrika, Kaget Sekilo Beras Rp 70 Ribu

25 September 2019, 05: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

RAMAH: Bripka Sugiandono (dua dari kanan) saat acara medal parade bersama kontingen dari negara Mali.

RAMAH: Bripka Sugiandono (dua dari kanan) saat acara medal parade bersama kontingen dari negara Mali. (SUGIANDONO FOR RABA)

Share this          

Salah satu anggota Satuan Intelkam Polres Banyuwangi, Bripka Sugiandono, mendapat tugas dalam misi kemanusiaan dan perdamaian di Afrika Selatan. Dia bergabung dengan pasukan Garbha Individual Police Officer (IPO) Polri misi Minusca.
 
DEDY JUMHARDIYANTO, Banyuwangi

Polres Banyuwangi patut berbangga. Salah satu personelnya terpilih membawa misi kemanusiaan dan perdamaian dunia bersama pasukan di bawah bendera Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Dia adalah Bripka Sugiandono.

Anggota Intelkam ini bertugas di bawah United Nations Police (UNPOL) di Afrika Tengah bergabung dalam pasukan Garbha IPO Polri misi Minusca. Untuk ikut dalam pasukan PBB bukanlah hal mudah. Dari Indonesia, yang dikirim sebagai IPO misi Minusca hanya enam orang. Satu orang dari Polda Jatim, tiga orang dari Polda Jawa Tengah, satu orang dari Mabes Polri, dan satu orang dari Polda Aceh.

Sugiandono menuturkan, proses seleksi dilakukan pada bulan April 2018 lalu. Kala itu, dia mengikuti tes Assessment of Individual Police Officer for Service in UN, yaitu tes yang terdiri dari bahasa Inggris, wawancara, dan mengemudi. Yang terakhir tes menembak. Semua tes berlaku sistem gugur dari satu tahap ke tahap selanjutnya.

Begitu dinyatakan lulus, Mabes Polri mengirim data ke DPKO New York. Selanjutnya, dia kembali menjalani wawancara telepon dari misi. Sugiandono akhirnya dinyatakan layak diberangkatkan ke misi Minusca. Baru pada bulan Januari 2019, dia bersama lima orang rekan yang lulus seleksi melaksanakan Pre Deployment Training (PDT) kurang lebih tiga minggu di Mabes Polri.

”Yang jelas senang dan bangga karena tes ini diuji langsung oleh Assessment of Individual Police Officer for Service in UN yang ditunjuk langsung dari New York. Kebetulan yang mengetes saya dari   Jordania dan Rwanda,” ungkap Sugik, panggilan akrab Bripka Sugiandono.

Setelah tiga pekan menjalani PDT, pada 4 Februari 2019 lalu, Sugik diberangkatkan dari Indonesia. Pemberangkatan dilepas langsung oleh Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Masa tugasnya minimal satu tahun dan bisa diperpanjang berdasarkan penilaian misi dan persetujuan DPKO New York dan ACC Pemerintah Indonesia dalam hal ini Mabes Polri.

Sugik bertugas di bawah UNPOL sebagai IPO pada misi Minusca Republik Afrika Tengah. Saat ini, dia bertugas di bagian Analis Kriminal UNPOL misi Minusca. Selama berada di wilayah tersebut, dia bertugas di bagian Section of Intelligence and Criminal Analyses. Tugasnya menganalisis setiap perkembangan situasi berdasarkan tren kriminalitas di seluruh Republik Afrika Tengah.

Misi Minusca, kata Sugik, dimulai sejak 10 April 2010 lalu. Dia bersama kelima rekannya merupakan kontingen pertama Polisi Indonesia yang ditugaskan di wilayah konflik Afrika Tengah tersebut. Ada dua pasukan yang dikirim Mabes Polri. Pertama Formed Police Unite (FPU) berbentuk satuan lengkap berjumlah 140 orang dan IPO.

”Kalau pasukan IPO di setiap misi jumlahnya tidak mesti, karena seleksi langsung dilaksanakan oleh New York dan Misi. Di misi Minusca ini ada dua kontingen, yang pertama Satgas Garbha FPU 1 Minusca dan Garbha IPO Polri Minusca,” terangnya.

Pasukan FPU datang di wilayah konflik Afrika tengah tersebut sejak Juni 2019. FPU menempati kamp, sementara IPO menempati rumah kontrakan sendiri dan melakukan kegiatan seperti memasak, mencuci, dan kegiatan lainnya sendiri.

”Untuk bahasa yang digunakan sehari-hari bahasa Prancis. Kebetulan saya menguasai dua bahasa asing, yakni bahasa Inggris dan Prancis,” ungkap anggota Polri yang tinggal di Perum Griya Permata Husada, Kelurahan Penataban, Kecamatan Giri ini.

Bekerja di negara konflik dengan misi perdamaian tentu tidak gampang. Apalagi hanya berbekal Pistol Glock 17. Banyak pengalaman yang diperoleh selama bertugas di negara konflik. Tantangan bekerja sebagai analis kriminal dituntut harus bisa menguasai sistem peradilan dan tata peradilan Republik Afrika Tengah (code pénal dan le système judiciaire)

Sistem peradilan di Afrika Tengah sangat berbeda jauh dengan sistem peradilan di Indonesia. Sehingga bekal pengetahuan itulah yang membuatnya bisa lebih paham sistem peradilan dan tata peradilan di republik Afrika Tengah.

Pengalaman yang menarik lainnya, kata Sugik, bisa bekerja bersama dengan polisi-polisi dari berbagai negara di belahan dunia. Dengan kultur dan bahasa yang berbeda-beda.

Seluruh pasukan misi berbahasa Prancis, terkecuali pada hari Rabu jika rapat bersama menggunakan bahasa Inggris. ”Kebetulan saya satu seksi dengan polisi dari negara Jordania, Tunisia, Niger, Burkina Faso, The Gambia Republic, Romania, dan Rwanda,” jelas bapak dua anak ini.

Selama tinggal di rumah kontrakan, Sugik dan rekan-rekannya harus memasak sendiri. Harga beras di sana cukup mahal. Satu kilogram beras harganya setara dengan Rp 70 ribu. Beras tersebut berasal dari India. Meski berada di wilayah konflik, ada swalayan buka sampai pukul 18.00 waktu setempat. Jika tidak belanja di swalayan, Sugik bisa membeli barang kebutuhan dari koperasi PBB di daerah UN HQ Minusca. Tidak hanya beras, harga air minum kemasan juga mahal. Harganya Rp 7.500 per botol.

Misi tugas tersebut akan selesai pada 3 Februari 2020. Sugik kini sedang mengajukan perpanjangan enam bulan lagi karena penilaian dari misi dinyatakan layak mengajukan perpanjangan (extension). ”Urusan komunikasi dengan keluarga di Indonesia masih lancar dengan menggunakan social media, hampir setiap hari selalu berkirim kabar kepada keluarga di Banyuwangi,” tandasnya.

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia