Minggu, 17 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Fasilitasi Mesin Penipis Adonan Kue melalui

Upaya Untag 1945 Banyuwangi Meningkatkan Daya Saing UMKM

24 September 2019, 21: 15: 23 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

FASILITASI: Ketua PKM Untag Banyuwangi Oktavima Wisdaningrum (paling kanan) mengajarkan cara mengoperasikan mesin penipis adonan kue kering di UMKM Berkah Jaya Profita.

FASILITASI: Ketua PKM Untag Banyuwangi Oktavima Wisdaningrum (paling kanan) mengajarkan cara mengoperasikan mesin penipis adonan kue kering di UMKM Berkah Jaya Profita. (UNTAG BANYUWANGI FOR JAWAPOS.COM)

Share this          

Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) menggandeng Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Banyuwangi melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM). Tujuannya untuk meningkatkan kualitas produksinya. Apa saja yang dilakukan?

E. IRWAN SURYANTO, Banyuwangi

Akhir-akhir ini, UMKM berkembang pesat dalam mengembangkan makanan khas Banyuwangi. Perkembangannya tumbuh seiring dengan meningkatnya pertambahan jumlah wisatawan di Kabupaten Banyuwangi.Awalnya di tahun 2014, CV Berkah Jaya Profita, UMKM yang digandeng Untag, memproduksi pie susu dan klemben krispi. Namun karena penjualannya kurang bagus, pada tahun 2017 muncul inovasi dan ide kreatif membuat diversifikasi produk kue kering.

PROGRAM PKM: Oktavima (nomor empat dari kanan) dan Herdiana (nomor tiga dari kanan) bersama para karyawan UMKM  produsen kue kering pastri kacang.

PROGRAM PKM: Oktavima (nomor empat dari kanan) dan Herdiana (nomor tiga dari kanan) bersama para karyawan UMKM produsen kue kering pastri kacang.

Hasil produksinya adalah kue kering stik keju dan pastri kacang.Sayangnya, ada kendala yakni pastri kacang yang diproduksi tidak seragam. Baik bentuk maupun ketebalannya. Pasalnya, dalam proses penipisan menggunakan 100 persen manual  dengan tabung kayu. Nah, permasalahan dalam produksi pastri kacang di CV Berkah Jaya Profita itu diatasi melalui PKM. Dengan program PKM tersebut, UMKM di Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran itu difasilitasi mesin penipis adonan kue kering pastri kacang. Bagaimana perkembangannya? Ternyata kapasitas produksi bisa meningkat tiga kali lipat menjadi 76 kg.

Kemudian karyawan yang sebelumnya bertugas menipiskan adonan beralih tugas melakukan tahap-tahap produksi lainnya.Sementara itu, program kerja sama yang dilakukan Untag tidak hanya pada produksi, tetapi juga pemasaran. Apalagi, di era ekonomi digital sekarang diperlukan pengetahuan tentang digital marketing untuk meningkatkan jumlah penjualan produk pastri kacang. Salah satunya melalui akun media sosial maupun melalui market place yang sudah ada melalui program yang umum disebut sebagai e-commerce aggregator.

Ketua Program PKM Untag Oktavima Wisdaningrum SE MSA Ak  mengatakan, PKM merupakan program kerja sama antara Untag dengan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) melalui Ditjen Penguatan Riset dan Pengembangan. ”Program Kemitraan Masyarakat bermanfaat untuk meningkatkan daya saing UMKM dengan peningkatan kualitas dan produktivitas produksi melalui fasilitasi teknologi tepat guna mesin penipis adonan pastri kacang, pelatihan, dan pendampingan,” terangnya.Melalui kegiatan PKM pada CV Berkah Jaya Profita dengan produk pastri kacang, lanjut dosen Fakultas Ekonomi Untag yang akrab disapa Vima itu,  dapat dilihat peningkatan pada UMKM tersebut.  Di antaranya, peningkatan pemahaman dan keterampilan mulai dari mengidentifikasi produk cacat, membuat peta kontrol, sampai membuat fishbone diagram untuk mencari akar permasalahan yang menyebabkan kecacatan pada produk.          

Selain itu, peningkatan kualitas hasil pastri kacang yang dihasilkan dengan peningkatan kapasitas produksi mencapai 76 kg. Tidak tanggung-tanggung, meningkat tiga kali lipat. ”Kemudian, pengurangan jumlah produk cacat 2 sampai 3 persen dari total produksi yang sebelumnya dilakukan,” ungkap Vima.

Sementara itu, menurut Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian, dan Kerja Sama Untag Banyuwangi Dr Herdiana Dyah Susanti ST MT, UMKM sebagai mitra program PKM diharapkan dapat bersaing di era revolusi industri 4.0 melalui pelatihan dan pendampingan. Itulah peran perguruan tinggi yang harus selalu dilakukan untuk turut berpartisipasi dalam mengembangkan produk-produk lokal suatu daerah. ”Besar harapan, program ini dapat berkelanjutan dan bermanfaat dalam skala yang lebih luas,” harapnya. (*/als/c1)

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia