Minggu, 17 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Kampung Rongsokan di Pancoran; Modal Rp 200 Ribu, Hasil Rp 1 Juta

23 September 2019, 07: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

KAMPUNG RONGSOKAN: Haji Kacung memilah gelas plastik di depan rumahnya di Dusun Pancoran, Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi.

KAMPUNG RONGSOKAN: Haji Kacung memilah gelas plastik di depan rumahnya di Dusun Pancoran, Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi. (Shulhan Hadi/RaBa)

Share this          

Dari delapan peristiwa kebakaran yang terjadi di bulan ini, tiga di antaranya menghanguskan tempat rongsokan. Lokasi rongsokan ini memang rawan kebakaran. Namun jika jalan sudah benar, rezeki bisa mengalir lancar. Seperti bisnis rongsokan yang digeluti sebagian besar warga Pancoran di Rogojampi.

SHULHAN HADI, Jawa Pos Radar Banyuwangi

SEORANG pria separo baya terlihat serius memilah gelas air mineral bekas. Satu per satu dia memilah dan memisahkan bagian segel dan badan gelas. Terlihat sepele dan tampak tidak ada gengsi, namun pekerjaan memilah rongsokan ini sebenarnya cukup menjanjikan. Bahkan, pria yang dikenal dengan nama Haji Kacung, 65, ini bisa berangkat ke Tanah Suci berkat usahanya ini. ”Saya kerja rongsokan sejak 1990,” terangnya.

Pemandangan seperti yang dilakukan Haji Kacung merupakan sesuatu yang biasa di Lingkungan RT 2, Dusun Pancoran di Desa Karangbendo. Di sepanjang jalan, tumpukan karung berisi gelas bekas air mineral banyak teronggok di depan rumah warga. Di jalanan menuju objek wisata Pancoran, Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi ini, tumpukan rongsokan dan sampah daur ulang di kanan kiri rumah warga menjadi pemandangan yang lazim.

Pekerjaan ini menjadi pilihan warga sekitar karena terbilang mudah. Asal mau sedikit kotor, dengan modal Rp 200 ribu saja mereka sudah bisa mendapat penghasilan paling sedikit Rp 1 juta. Siklus distribusi pun sangat mudah dan cepat. Rongsokan mereka beli dari gudang. Kemudian dipilah berdasar jenisnya, lalu dijual kembali ke gudang. ”Saya beli di gudang satu truk,” jelasnya.

Umumnya, warga akan membeli rongsokan itu sebanyak satu truk. Harganya pun bervariasi. Untuk sisa perlengkapan makanan hotel, cukup membayar Rp 200 ribu. Sedangkan untuk sampah gelas air mineral agak mahal, yakni Rp 2 juta. Harga itu tergantung jenis rongsokan yang dibeli. ”Harganya macam-macam,” ucapnya.

Siklus distribusi pun cukup jelas dan pendek. Dari gudang, ke warga, lalu kembali ke gudang. Dalam sebulan, penghasilan yang bisa didapat warga pun lumayan. Tak ayal, warga tua muda, laki-laki maupun perempuan banyak yang tertarik menggeluti usaha ini. ”Saya beli aqua ini Rp 2 juta, nanti saya jual lagi minimal dapat Rp 3,5 juta,” terang Haji Kacung.

Proses pemilahan dan pembersihan rongsokan ini biasanya Haji Kacung lakukan pagi hari, setelah selesai mengurus kebutuhan sapi piaraannya. Untuk menyelesaikan satu truk plastik, dia memerlukan waktu sekitar satu bulan. ”Setiap hari seperti ini, setelah cari rumput,” terangnya.

Tampaknya, pekerjaan ini tidak hanya menjadi dominasi warga asli setempat. Warga luar daerah yang menikah atau tinggal di tempat itu pun lebih memilih menekuni pekerjaan rongsokan ini.

Helmi Amani, 35, pria yang sebelumnya menjadi karyawan diler di Denpasar ini, sekarang memilih menekuni bisnis rongsokan. Jenis rongsokan di tempatnya pun lebih beragam. Hal ini pun berimbas pada harga yang lebih murah. ”Rp 450 (ribu) itu campur satu truk,” terangnya.

Pekerjaan ini dirasa mudah dan tanpa ada kekhawatiran dari tindak pencurian. Kendati demikian, musim hujan tetap menjadi masalah. Bau menyengat biasanya keluar dari tumpukan sampah usai diguyur hujan. Namun, kondisi ini pun tidak mendorongnya memakai masker dalam bekerja. ”Kalau hujan bau, tapi saya sudah biasa,” ucapnya.

Meski rongsokan, bukan berarti barang yang dia datangkan selalu dalam kondisi rusak dan tidak terpakai. Tas dan sepatu merupakan dua benda yang paling sering ditemukan dalam kondisi relatif baik. Tidak sekali dari tumpukan rongsokan ini terdapat tas yang layak pakai. ”Kalau sandal, tas, ya saya pakai sendiri, tidak dijual,” jelasnya.

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia