Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Kisah Perjuangan Iptu Lipur Merawat Sendiri Istrinya yang Sedang Sakit

22 September 2019, 06: 20: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

KASIH SAYANG: Lipur menyuapi istrinya, Endang Triwahyuni, yang menderita stroke.

KASIH SAYANG: Lipur menyuapi istrinya, Endang Triwahyuni, yang menderita stroke. (Krida Herbayu/RaBa)

Share this          

Di tengah kesibukannya sebagai anggota Polri, Iptu Lipur masih harus menjalankan ”tugas tambahan”. Dia kini harus mengurus istrinya yang berjuang melawan sakit.

KRIDA HERBAYU, Siliragung.

”Tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuat berarti lebih dari siapa pun.” – B.J. Habibie

Jarum jam menunjukkan pukul 04.00. Iptu Lipur beranjak dari tidurnya. Dia bergegas mengambil air wudu. Lalu bersembahyang Subuh, memanjatkan doa dan syukur kepada sang Mahakuasa. Usai salat, Lipur langsung berjibaku di dapur. Dia menanak nasi, memasak sayur, dan menggoreng lauk. Semuanya dipersiapkannya seorang diri.

Pukul 06.00, perwira polisi berkumis tebal itu membangunkan istri tercintanya. Dia mengajak belahan jiwanya itu berjalan-jalan sembari berjemur di bawah sinar mentari pagi.

Begitulah keseharian Iptu Lipur. Sejak sang istri, Endang Triwahyuni, terserang stroke pada Juni 2019, semua pekerjaan rumah tangga diambil alih olehnya. Pria yang tinggal di Desa Kesilir, Kecamatan Siliragung itu bersikeras merawat dan memenuhi segala keperluan istrinya sendiri.

Di rumahnya itu, Lipur memang hanya tinggal berdua dengan istrinya. Sang anak yang juga anggota polisi, tinggal di Banyuwangi kota. Di tengah kesibukannya sebagai anggota polisi, Lipur tetap tidak mau mencari asisten rumah tangga (ART). ”Saya ingin merawat sendiri,” tegas Lipur.

Praktis, semua pekerjaan rumah tangga juga harus dihandel olehnya. Semua dia kerjakan dengan segenap perasaan dan penuh keikhlasan. ”Saya memasak, mencuci baju, membersihkan rumah, hingga mengganti popok istri,” katanya dengan suara lirih.

Ketika ditanya, mengapa dia memutuskan untuk memikul semua beban pekerjaan rumah sendiri, Iptu Lipur mengaku jika dia hanya ingin istrinya bisa cepat sembuh. ”Jika dirawat orang lain, saya khawatir istri jadi stres dan kondisinya tambah buruk,” ujarnya.

Sambil memandangi wajah istrinya yang duduk di kursi roda, Iptu Lipur mengaku hanya bisa pasrah. Sambil mengusap butiran air mata yang mulai membasahi pipinya, dia berharap agar penyakit sang istri dapat segera diangkat. ”Saya tidak mengesampingkan tugas sebagai polisi, meski harus merawat istri yang sedang sakit,” terangnya.

Di lapangan, Lipur yang lama bertugas di Satlantas Polres Banyuwangi itu dikenal sebagai sosok polisi yang tegas. Terlebih dengan kumisnya yang makin menimbulkan kesan ”garang”. Namun, di penampilan luarnya itu, ternyata Lipur adalah sosok yang setia dan penuh kasih sayang. ”Banyak yang bilang kalau saya ini keras dan pemarah. Tapi sebenarnya saya ini cengeng,” kata mantan Kanit Lantas Polsek Genteng itu.

Di tengah kesibukannya sebagai Wakapolsek Siliragung, setiap satu minggu sekali dia rutin mengantarkan sang istri untuk menjalani terapi di RS Al-Huda Genteng. Bahkan, sering kali dia masih berseragam lengkap saat ke rumah sakit.

Berkat kesabaran dan ketelatenannya itu, kini kondisi sang istri kian membaik. Sebelumnya, istrinya itu sama sekali tidak dapat berjalan dan separo badannya lemas seperti lumpuh. Untuk menggerakkan tangan pun tidak sanggup. ”Sekarang saya sudah dapat berjalan dan lebih percaya diri,” ungkap Endang Triwahyuni.

Endang mengaku sangat bersyukur memiliki seorang suami yang perhatian dan sabar seperti Iptu Lipur. Selama dirawat oleh suaminya, dia merasa kesehatannya lebih cepat pulih dan berangsur membaik. ”Saya sangat beruntung memiliki suami yang sangat perhatian,” katanya sambil melirik pada sang suami yang duduk di sampingnya.

Menurutnya, jarang sekali ada suami yang bisa memasak dan memberikan perhatian lebih seperti yang dilakukan suaminya. Apalagi sabar menghadapi istri yang sakit, seperti situasinya saat ini. Endang menyebut, untuk menumbuhkan rasa percaya diri para penderita stroke, memang dibutuhkan motivasi dan dorongan dari orang terdekat. Selain itu, perhatian yang lebih juga diharapkan dapat mempercepat pemulihan.

Memang benar kata Pak Habibie. Kita memang tidak membutuhkan seseorang yang sempurna, tapi kita perlu seseorang yang bisa selalu membuat bahagia dan membuat berarti lebih dari siapa pun. Dalam kondisi apa pun, dalam masa tersulit sekali pun. ”Mudah-mudahan, dengan upaya yang dilakukan suami saya ini, kondisi kesehatan saya terus membaik dan cepat diberi kesembuhan,” pungkas Endang. (abi)

(bw/kri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia