Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom

Medsos Berindikasi Turunnya Minat Karir

Oleh: Ahmad Kafin Azka*

21 September 2019, 15: 05: 12 WIB | editor : Ali Sodiqin

Medsos Berindikasi Turunnya Minat Karir

Share this          

Menjadi orang kaya bahkan yang terkaya layaknya  kakak beradik Michael Bambang dan Robert Budi Hartono –yang kekayaannya mencapai 508 triliun rupiah per tahun– memanglah pantas mereka sandang. Sebab, mereka memiliki banyak saham dan beberapa perusahaan ternama. Tentunya amatlah wajar, dengan pekerjaan yang sudah jelas, mereka patut menduduki julukan sebagai orang terkaya di Indonesia.

Namun, apa jadinya bila bisa menjadi orang kaya dengan pekerjaan yang santai, bahkan seperti tak perlu mengeluarkan keringat sedikit pun. Bisa mendapatkan bonus dan menjadi populer di mata banyak orang? Tentu saja banyak orang yang tertarik dengan pekerjaan seperti ini. Terlebih para pemuda yang suka bermalas-malasan.

Ya, pekerjaan itu saat ini tengah menjadi tujuan banyak pemuda di Indonesia. Bukan hanya karena ada penghasilan yang menjanjikan, namun juga efek popularitas yang akan didapatkan.

Saat ini banyak orang lebih memilih menjadi terkenal ketimbang bekerja yang melelahkan –yang membutuhkan waktu dan tenaga ekstra seperti menjadi dokter, polisi, dan sebagainya. Hal itu terjadi karena mereka terlalu menuruti perubahan teknologi dan salah akan pemikiran mereka. Padahal, hal itu akan membuat minimalnya minat karir pada generasi muda saat ini. Sampai pada suatu saat nanti, akan terjadi ikhwal di mana dunia maya menjadi ajang mencari uang. Dan perlahan, pasti akan meninggalkan dunia nyata (melebihi sekarang).

    Saat masih kecil dulu, anak-anak ditanya tentang apa cita-cita yang mereka harapkan? Mereka nanti pasti akan lebih bangga bila mereka bisa menjawab seperti ingin menjadi tentara, polisi, dokter, astronot, dan lain-lain. Tapi lihat sekarang, seakan cita-cita di waktu kecil dulu hanyalah sebuah harapan palsu, yang tanpa ada tindak lanjut atau kesungguhan untuk mewujudkannya ketika menginjak dewasa. Hal ini merupakan pengaruh dari perubahan teknologi dan luputnya pemikiran.

Salah satu pekerjaan media sosial saat ini yang masih jadi tren yaitu sebagai Youtuber. Yang mana kini telah ikut berkontestasi dalam dunia hiburan, yang tak kalah dengan para selebritis. Pekerjaan seperti ini sangat banyak diminati orang. Karena bila sukses dalam bidang ini, bukan hanya uang saja yang didapat. Namun juga dapat popularitas layaknya artis dan selebriti dunia hiburan. Bukan hanya terkenal di dunia maya, tapi juga di dunia nyata. Tawaran yang sangat menggiurkan dan amat sulit dihindari bagi kebanyakan orang yang tengah malas bekerja yang mengandalkan tenaga.

Sebagai salah satu contoh saja orang yang sukses dengan bekerja sebagai Youtuber yakni Ria Ricis, yang sempat menjadi Youtuber dengan subscribers terbanyak dan penghasilan terbanyak pula. Dengan channel yang dimulai tahun 2016, sampai kini telah mendapatkan puluhan juta subscribers. Itu pun tidak menutup kemungkinan, bila makin hari akan semakin bertambah subscribers-nya.

Sungguh pencapaian sangat luar biasa bisa mendapatkan subscribers sebanyak itu, akan sangat sulitnya bagi non-artis untuk mendapatkan subscribers sebanyak itu. Hal itu tentu sesuatu yang menentukan penghasilannya dari Youtuber ini.

Dengan jumlah follower lebih puluhan juta, Ria Ricis dari YouTube saja telah mendapatkan honor sampai miliaran rupiah. Itu pun belum termasuk endorsement dan kontrak lainnya. Siapa pun pasti akan geleng-geleng dengan honor yang didapatkan dengan menjadi Youtuber.

Dibandingkan dengan gaji yang terima oleh guru, yang pekerjaannya meski terkesan paling mulia di mata siapa pun, tentu amat terpaut jauh. Zaman-zaman saat sekarang bukan lagi kebaikan-kebaikan yang ingin didapatkan dari pekerjaan mereka, mayoritas hanya mencari keuntungan dan kemudahan dari pekerjaan yang akan mereka tekuni. Tergantung dari prinsip dan ambisi masing-masing individu.

Tapi pemikiran yang salah oleh kebanyakan generasi muda kita ini akan mengakibatkan lemahnya minat dalam menekuni karir yang pernah mereka dambakan. Bagaimana tidak? Dengan diiming-imingi oleh salah seorang oknum melalui media sosial, dengan tawaran yang tak kalah menggiurkan dibanding dengan pekerjaan lainnya. Maka jangan kaget, bila di masa yang akan datang saatnya di sekitar kita akan sedikit sekali orang bekerja dengan karir-karir yang sudah ada sekarang.

Belum lagi, beberapa tahun terakhir ada game yang pemainnya bisa mendapatkan uang dengan memainkannya. Seseorang bisa menjual akun game-nya pada orang lain, dengan harga ratusan ribu, bahkan jutaan rupiah.

Terlebih Youtuber remaja bernama Justin yang turut menjadi salah satu pemain game yang sedang populer, dengan channel-nya yang bernama Jess No Limit telah memiliki jutaan subscribers.

Tapi di balik itu semua, mereka yang ingin sekali menjadi orang beruntung seperti layaknya Justin, mereka seharusnya dapat berkontemplasi (merenungi) atas waktu berharga yang mereka gunakan itu amat banyak sekali yang terbuang sia-sia. Tentu hal itu akan merugikan. Karena hanya segelintir orang saja yang beruntung bisa mendapatkan penghasilan jutaan rupiah itu. Lagi-lagi, itu akibat dari salah pemikiran mereka yang lebih mengesampingkan ambisinya.

Kebanyakan anak sudah terpatri dengan hobi mereka di medsos, secara otomatis mereka akan lupa dengan tujuan dan karir mereka. Terlebih dengan berbagai tawaran pekerjaan santai dan menyenangkan di media sosial, yang semakin membuat mereka akan lebih fokus dalam medsos.

Maka di sini, saya ingin mengajak para generasi muda untuk lebih mencintai karir-karir yang telah mereka tekuni. Tapi tak masalah bila medsos menjadi pekerjaan sampingan. Sekali lagi, jangan sampai dengan adanya akses mudah mendapatkan uang melalui medsos menjadikan minimalnya minat karir pada generasi muda kita saat ini dan masa mendatang. (*)

*) Mahasiswa Jurusan Ekonomi Syari’ah Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia