Minggu, 17 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Keseharian Anton Sujarwo, Kades Aliyan yang Piawai Menabuh Kendang

18 September 2019, 18: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

BERJIWA SENI: Anton Sujarwo yang masih mengenakan seragam dinas kades menabuh kendang dalam acara pernikahan di desanya.

BERJIWA SENI: Anton Sujarwo yang masih mengenakan seragam dinas kades menabuh kendang dalam acara pernikahan di desanya. (Anton For RaBa)

Share this          

Menjabat sebagai kepala desa bukan halangan bagi Anton Sujarwo untuk berhenti dari panggung hiburan. Sesekali, Kepala Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi ini masih aktif di dunia hiburan dengan menabuh kendang.

DEDY JUMHARDIYANTO, Rogojampi

Suara iringan musik dangdut terdengar rancak. Hentakan kendang ketipung membuat ratusan penonton manggut-manggut serasa ingin berjoget. Penabuh kendang ketipung itu adalah Anton Sujarwo. Lelaki yang juga Kepala Desa Aliyan itu tak malu naik pentas hiburan pernikahan meski mengenakan seragam dinas. ”Bagi saya menabuh kendang ini panggilan jiwa,” ungkap Anton.

Kepiawaiannya dalam memainkan alat musik dari kulit tersebut sudah ditekuni sejak dia belum menjabat sebagai kepala desa. Bahkan, keterampilan itu sudah dilakoninya sejak berusia tujuh tahun, saat masih duduk di bangku sekolah dasar.

Kemampuannya memainkan alat musik tradisional itu makin terasah dengan baik. Tidak hanya sebatas memukul kendang ketipung, sejumlah alat musik tradisional lain pun bisa dia mainkan. Sebut saja kendang keplak Banyuwangi, rebana kuntulan, dan angklung. Hampir semuanya bisa dia tabuh. ”Memang yang lebih saya tekuni hanya kendang ketipung dan kendang keplak,” jelas bapak dua anak ini.

Keahliannya memainkan berbagai alat musik tersebut diakuinya lahir dari bakat sejak kecil. Seiring dengan lingkungan tempat tinggalnya di Dusun Bolot, Desa Aliyan. Di sana, para orang tua kerap memainkan alat musik. Sehingga ketika ada latihan musik tradisional, dia selalu ikut-ikutan. ”Awalnya saya nonton orang latihan di dekat rumah, karena pingin bisa akhirnya coba-coba dan berlatih sendiri,” ungkap Anton. 

Dari ketekunannya berlatih, ketika duduk di bangku kelas satu SMP, dia sudah mulai memberanikan diri tampil di acara Agustusan dan acara hiburan. Atas kepiawaiannya itu, Anton juga pernah diajak oleh salah seorang orkes musik asal Probolinggo untuk menabuh kendang ketipung.

”Karena tanggapan orkes pulang dini hari, pagi harinya saya langsung sekolah. Saat pelajaran saya tertidur di kelas dan bermimpi sedang ngetipung. Tangan saya memukul meja sekolah seperti sedang menabuh kendang. Saya lalu terbangun setelah kuping saya dijewer Pak Guru. Saya dihukum berdiri di depan kelas,” kenangnya terkekeh-kekeh.

Kendang ketipung bagi Anton merupakan sarana berkomunikasi dan berdakwah. Melalui kendang, dia banyak mendapatkan hikmah dan pelajaran. Terutama saat diminta mengisi rekaman lagu-lagu Banyuwangi dengan irama dangdut koplo dan lagu daerah.

Tak terhitung berapa banyak karya album musik Banyuwangi dan album daerah yang sudah dia iringi. Mulai dari artis papan atas Banyuwangi hingga yang kini sudah go nasional. ”Menjadi pengendang ini juga yang mengantarkan saya menjadi kepala Desa Aliyan,” jelasnya.

Sejak menjabat sebagai kepala desa, praktis aktivitas menjadi penabuh kendang tak sepadat dulu sebelum menjadi pucuk pimpinan di desa. Sebelum menjadi kepala desa, sehari semalam dia bisa menabuh hingga berjam-jam dari satu panggung ke panggung lain. Sehari bisa pindah lima hingga enam tempat, tergantung jenis acaranya.

Namun, semenjak menjabat kepala desa setahun terakhir ini, tugas dan amanah menjadi pimpinan di desa mengharuskan mengurangi aktivitasnya sebagai pengendang. ”Kalau longgar dan pas acara hajatan keluarga atau warga saya pasti naik ikut menyumbang meski hanya menabuh kendang,” ujar suami Serli Fransiska ini.

Karena job menabuh kendang sudah tak sepadat dulu, kini Anton kerap merasakan telapak tangannya kepanasan, walau baru beberapa menit mengeplak kulit kendang. ”Kalau dulu sejam pun ndak apa-apa, sekarang baru sebentar saja sudah kepanasan,” selorohnya.

Terlahir sebagai insan seni di Banyuwangi itulah yang menjadi salah satu modal untuk ikut terus mengembangkan dan melestarikan keberlangsungan agar generasi muda di desanya tetap mempelajari alat musik tradisional. Beberapa event lomba dan kesenian juga kerap digelar di desanya. ”Saya lahir dan dibesarkan dari seni, jadi saya juga ingin seni terus tetap lestari,” pungkasnya.

(bw/ddy/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia