Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Entertainment

Bisnis Kian Meredup, Begini Nasib Persewaan Studio Musik di Banyuwangi

15 September 2019, 20: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

BERTAHAN: Taufik Oclek saat berada di Studio Relief di Desa Gambiran, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, kemarin.

BERTAHAN: Taufik Oclek saat berada di Studio Relief di Desa Gambiran, Kecamatan Gambiran, Banyuwangi, kemarin. (Shulhan Hadi/RaBa)

Share this          

JawaPos.com – Masih ingat nama studio musik Meteor di Desa Jajag, Kecamatan Gambiran? Ada juga studio Rizkit di Desa Tegalarum, Kecamatan Sempu. Studio Planet di Kecamatan Genteng, Studio Paloma, Relief, dan Prasasti di Kecamatan Gambiran.

Studio-studio musik tersebut terbilang sangat tenar di eranya. Di jam-jam sekolah sering kali anak-anak SMA mangkal untuk bermain musik di tempat-tempat tersebut. Saat ini hanya dua studio terakhir yang masih eksis, itu pun mengalami penurunan yang signifikan.

Taufik Oclek, 42, musisi sekaligus owner Relief Studio mengungkapkan, saat ini fenomena di lapangan sangat berbeda dengan era awal 2000 saat dirinya masih menjadi anak band. Saat itu, anak muda seusia SMP atau SMA bisa dibilang banyak yang menjadi anak band dan punya grup. Hal itu pun berpengaruh terhadap aktivitas persewaan studio musik. ”Dulu sangat ramai, semua studio hidup,” ungkapnya.

Bahkan, di era sebelum 2005 itu, dia mendirikan studio baru dan memisah dari manajemen studio prasasti yang dikelola keluarga besarnya. Kedua studio yang hanya berjarak beberapa rumah ini masing-masing tidak pernah sepi. ”Saya itu berdiri 2002, era-era itu semua studio jaya,” terangnya.

Di era itu pula, eksistensi anak band sangat menjadi idola. Taufik sendiri merupakan vokalis grup band Prasasti yang dia dirikan. Debut dalam dunia tarik suara itu dia jalankan bersama sejumlah temannya seperti Wawan Wiwin, Agung Ayas, dan Doni Jack. Namun seiring waktu, personel grup ini kemudian mencari jalan sendiri-sendiri dan tidak semua bergelut di dunia musik. Fenomena ini diikuti meredupnya kegiatan anak band secara umum. ”Dulu ikut audisinya Log Zhelebour, itu trofi saya banyak. Anak sekarang apa ada yang ngerti Log?” ucapnya.

Namun untuk saat ini, fenomena telah berubah. Oclek yang kini juga menjadi tenaga pendidik di SMP Muhammadiyah mengungkapkan, ketertarikan generasi muda terhadap musik khususnya band saat ini tampaknya berkurang. Hal ini tentu berpengaruh terhadap aktivitas mereka di studi musik. Kalau pun ada, saat ini justru musik etnik atau lagu-lagu Osing menjadi primadona. ”Sekarang cari anak yang bisa main gitar serius agak susah,” terangnya.

Tidak hanya itu, gencarnya pengaruh medsos dengan berbagai layanan digital juga menjadi sebab menurunnya kegemaran anak terhadap kegiatan bermusik. Dari tahun ke tahun, minat anak sekolah yang belajar dan ikut les musik pun menurun. ”Sekarang itu lho, ngegame,” terangnya.

Selain itu, jika mengacu kegiatan bisnis, saat ini bermunculan kafe-kafe dengan fasilitas dan layanan musik akustik. Sejumlah orang lebih memilih datang ke kafe sambil bermain musik daripada hanya sekadar menyewa studio. Karena cara ini relatif lebih murah dibandingkan datang ke studio. ”Sekarang jaman akustikan di kafe,” ucapnya.

Selain itu, Oclek menyebutkan faktor manajemen internal juga menjadi penyebab surutnya kejayaan studio musik. Operasional dan kebutuhan alat-alat musik terbilang mahal, tetapi harga sewa studio cenderung sangat murah. Hal ini berbeda dengan persewaan karaoke, kebutuhan dasar alat tidak terlalu murah namun harga sewa per jam bisa mencapai ratusan ribu rupiah. ”Kalau sing song itu alatnya sedikit, sewanya mahal. Kita ini kalau tidak hobi, mending berhenti,” terangnya.

Sebagai contoh, alumnus Seni Rupa STKW Surabaya ini menghitung kebutuhan dasar satu studio mencapai Rp 50 juta. Sedangkan untuk harga sewa di tempatnya per jam Rp 40 ribu. Belum lagi kebutuhan pendukung seperti listrik dan kebutuhan tenaga operator. ”Alat musik itu mahal, dan harus selalu di-upgrade,” jelasnya.

Pemutakhiran alat ini menjadi hal yang tidak bisa ditinggalkan. Terlebih alat musik ini selalu mengalami penurunan kualitas setelah digunakan bermain. Selain mengejar tren yang sedang ramai di pasaran. ”Senar putus itu jelas sudah, belum lagi alatnya setiap saat muncul baru,” terangnya.

Bahkan, beberapa studio pernah mengalami korban pencurian. Sering kali pelaku diduga kuat adalah orang yang menyewa studio itu. Hal ini bisa terjadi ketika pengawasan di studio lemah. ”Kalau dicuri belum, kalau lupa cek drum jebol pernah,” ucapnya.

Studio musik yang tetap eksis sampai saat ini bisa dipastikan memiliki lini usaha yang lain. Oclek menyebutkan, studio Relief yang dia kelola, tidak bisa dilepaskan dari studio Prasasti yang ada lebih dulu. Usaha yang dijalankan satu keluarga ini juga menyediakan berbagai jasa di bidang entertainment dan EO. Sehingga jika pun tidak ada kegiatan persewaan studio musik, sisi operasional masih bisa ditutupi dari usaha yang lain.

Hal ini tentu berbeda dengan studio yang hanya mengoperasikan persewaan alat saja. Ketika tren pasar menurun sedangkan perawatan terus berjalan, tentu hal ini menjadi kerugian. ”Ya kalau cuma studio saja tidak bisa, campur-campur,” ungkapnya.

(bw/sli/rbs/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia