Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Edukasi
Peringatan Hari Aksara Internasional

Dispendik Latih 1.200 Orang untuk Hantaran Kawinan

15 September 2019, 16: 56: 32 WIB | editor : Ali Sodiqin

TERAMPIL: Kadispendik Sulihtiyono, Kabid Dikmas Nuriyatus Sholeha, Kabid SMP Alfian, Sekretaris PGRI Sudarman saat melihat pelatihan hantaran perkawinan dalam Hari Aksara Internasional 2019 di Water Park Cluring pada Sabtu (14/9)

TERAMPIL: Kadispendik Sulihtiyono, Kabid Dikmas Nuriyatus Sholeha, Kabid SMP Alfian, Sekretaris PGRI Sudarman saat melihat pelatihan hantaran perkawinan dalam Hari Aksara Internasional 2019 di Water Park Cluring pada Sabtu (14/9) (Toha/RaBa)

Share this          

JawaPos.com – Hari Aksara Internasional 2019 diperingati oleh Pemkab Banyuwangi di Water Park Cluring pada Sabtu (14/9). Kegiatan yang langsung dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi Sulihtiyono ini mengambil tema ”Ragam Budaya Lokal dan Literasi Masyarakat. Satu Hari Bersama Dikmas”.

Kegiatan ini diikuti oleh 1.200 peserta yang berasal dari 78 Lembaga Kursus dan Keterampilan (LKP) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Taman Baca Masyarakat (TBM) se-Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan Hari Aksara Internasional ini dikemas dengan memberikan pelatihan hantaran perkawinan oleh Bidang Pendidikan Masyarakat (Dikmas) Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi.

Dalam sebuah kesempatan, Bupati Abdullah Azwar Anas berharap agar buta aksara di Banyuwangi bisa dientaskan lewat pendekatan budaya. Pemkab Banyuwangi menargetkan angka putus sekolah bisa terus ditekan. Salah satunya melalui program Gerakan Daerah Angkat Anak Putus Sekolah (Garda Ampuh). Sejak program Garda Ampuh diluncurkan pada Mei 2016, hingga saat ini sudah meluluskan ribuan warga atau anak putus sekolah. Tim Garda Ampuh pemburu warga putus sekolah dilakukan lewat pendataan mulai dari RT/RW di seluruh desa dan kecamatan di Banyuwangi.

Bagi yang masih usia sekolah akan diantarkan agar melanjutkan pendidikan di sekolah. Sementara bagi yang sudah tua, akan diikutkan program Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). ”Dulu prioritasnya pemberantasan buta aksara, namun sekarang sudah mempertinggi jenjang pendidikan. Lulusan kejar paket bisa kuliah dan menjadi pegawai negeri. Mereka difasilitasi untuk kuliah di perguruan tinggi negeri yang telah menjalin kerja sama dengan Pemkab,” kata Anas.

Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Sulihtiyono mengatakan, saat ini Pemkab Banyuwangi tengah serius mendorong pendidikan nonformal. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan lingkungan dan keluarga. Pendidikan ini bisa ditemui lewat sekolah rumah (homeschooling) atau juga Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM). Pihaknya sudah menempatkan posisi pendidikan nonformal setara dengan pendidikan formal.

”Pendidikan nonformal kita sudah fasilitasi dengan PKBM. Di PKBM ada pelayanan Kejar Paket A, Kejar Paket B, Kejar Paket C. Bahkan peserta kejar paket A kita subdisi per orang mendapat Rp 1,3 juta, sedangkan peserta untuk kejar paket B mendapat subsidi Rp 1,5 juta, dan untuk kejar paket C per orang mendapat Rp 1,8 juta. Jadi jika ada seribu orang, maka tinggal menjumlahkan berapa anggaran yang disediakan untuk mendorong kualitas pendidikan nonformal ini,” kata Sulihtiyono kemarin (14/9).

Tidak hanya itu, Banyuwangi juga memiliki LKP Desy Education yang berhasil mengantarkan empat siswa Banyuwangi meraih beasiswa untuk menempuh pendidikan di Tiongkok. Beasiswa ini sudah diserahkan kepada peserta pada Rabu (21/8) di Hotel Santika Banyuwangi pada acara Pembukaan Program Kecakapan Kerja Unggulan (PKKU) LKP Desy Education. Oleh sebab itu, Pemkab Banyuwangi mendorong untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang dilaksanakan setiap PKBM, LKP melalui sistem akreditasi yang merupakan bagian dari upaya berkesinambungan meningkatkan kualitas lulusan.

Sementara itu Kepala Bidang Dikmas Nuriyatus Sholeha menambahkan, dalam kegiatan yang diikuti 1.200 peserta ini, pihaknya memberikan pelatihan hantaran perkawinan. Pelatihan hantaran pengantin merupakan kearifan lokal yang perlu dikembangkan, sehingga peserta pelatihan harus mampu berinovasi agar kerajinan hantaran bisa lebih bervariasi dan tetap mempertahankan budaya Indonesia. ”Keterampilan seni lipat tanpa potong dalam membuat atau menghias hantaran belum begitu banyak dimiliki orang, padahal keterampilan ini memiliki potensi ekonomi tinggi,” kata Nuriyatus.

SEMANGAT: Ribuan peserta saat mengikuti pelatihan hantaran perkawinan

SEMANGAT: Ribuan peserta saat mengikuti pelatihan hantaran perkawinan (Toha/RaBa)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia