Senin, 16 Sep 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Gimin Suryo Mulyono, Pencari Pasir yang Gagal Nyalon Kades

10 September 2019, 18: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

IMPIANNYA KANDAS: Gimin mengambil pasir di bantaran Sungai Takir, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore siang kemarin.

IMPIANNYA KANDAS: Gimin mengambil pasir di bantaran Sungai Takir, Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore siang kemarin. (Shulhan Hadi/RaBa)

Share this          

Pilkades serentak 2019 menjadi ajang pesta demokrasi bagi semua orang. Tak terkecuali Gimin Suryo Mulyono. Pria yang sehari-harinya berkutat dengan pasir itu ikut mendaftar pilkades. Sayang, impian Gimin untuk memimpin Desa Karangharjo, kandas di tengah jalan. 

SHULHAN HADI, Glenmore

Namanya cukup dikenal di kawasan daerah aliran Sungai Takir, Glenmore. Sehari-harinya, Gimin merupakan penambang pasir di sungai. Di bantaran sungai, aktivitas suami Sariyem ini dilakukan bersama sejumlah warga lainnya. Mulai dari mencari pasir hingga memecah batu sungai.

Siang itu, Gimin tengah menjalankan aktivitasnya mencari pasir sungai. Dia terlihat bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana pendek. Kulit sawo matang mengilap dengan otot liat menonjol menjadi ciri khasnya. Dia menambang pasir menggunakan peralatan tradisional.

Pasir di dasar sungai diambil menggunakan sekrup. Pasir yang masih bercamput gragal atau batuan kali itu dia angkut menggunakan ban mobil yang telah dimodifikasi. Selanjutnya, material tersebut diangkat ke sisi tepi sungai. Setelah itu, pasir tersebut diayak untuk memisahkan antara pasir dan batu kerikil ukuran besar.

Siapa sejatinya Gimin? Ternyata dia merupakan bakal calon kepala desa (bacakades) Karangharjo yang tidak lolos penetapan. Pencalonan Gimin menjadi kepala desa bukan sensasi belaka. Keputusan mendaftar pilkades merupakan keinginannya sejak lama, jauh sebelum ramai kabar pilkades serentak berdengung.    

Niat Gimin maju sebagai kepala desa muncul setelah pemakaman mantan Kepala Desa Karangharjo Rusmiyanto. Saat itu, di tengah keheningan, ada salah satu warga yang berseloroh tentang siapa penerus kepala Desa Karangharjo selanjutnya. ”Ada orang tanya siapa yang mau nyalon. Saya yang mau,” ujarnya sembari mengacungkan tangan.

Dari enam calon yang mendaftar, nama Gimin  tidak muncul dalam penetapan. Niat tulus itu pun kandas. Atas kegagalannya itu, Gimin mengaku kecewa. Kekecewaan ini lebih karena para pendukungnya tidak bisa memilih calon yang diinginkan sejak awal. Gimin pun berujar, jika pilihan kepala desa dilangsungkan hari ini, setidaknya ada 1.500 orang yang memilihnya. ”Banyak yang kecewa, terutama kalangan menengah ke bawah,” ungkapnya.

Dukungan itu tentu yang pertama juga datang dari keluarga. Bahkan dia menyebut, istrinya yang kini menjadi TKI di Taiwan, siap pulang ketika dia maju menjadi calon kepala desa. ”Istri saya pulang tiap tiga tahun. Dia siap pulang kalau saya mencalonkan diri,” terang ayah Wulan Anggraeni, 20 dan Vani Agustin, 16 ini.

Lantas, bagaimana selanjutnya rencana Gimin setelah gagal menjadi calon kades? Padahal, dia mengklaim memiliki basis pendukung yang sangat kuat. Gimin mengaku tidak akan mengarahkan warga untuk menentukan pilihan. Semua akan dikembalikan kepada warga. ”Saya tidak mau menjualbelikan suara. Pak Gimin tidak menjual politik,” tegasnya.

Kegagalan dirinya menapaki bursa pencalonan kepala desa perlu menjadi evaluasi. Baik dari sisi teknis perundangan maupun integritas panitia di tingkat desa. Menurut Gimin, batasan lima calon kepala desa perlu dikaji ulang. Desa dengan jumlah penduduk banyak tentu berbeda dengan desa yang penduduknya sedikit. ”Daripada batasan lima orang, mending aturannya yang pernah kena hukuman tidak boleh nyalon,” usulnya.

Selain itu, acuan poin pengalaman semestinya bisa diperluas. Gimin yang dengan bangga mengaku memiliki ijazah paket C juga pernah menjalani sejumlah pekerjaan yang berhubungan dengan orang banyak. Mulai dari sales sepeda motor, kuli bangunan, hingga TKI di Malaysia.    

Namun, Gimin mengaku belum pernah menjadi perangkat desa. ”Saya tak minder meski pakai ijazah kejar paket C. Pemerintah menurut saya, adil ya gak adil. Mestinya kalau ada calon seratus, ya semua ditetapkan,” pungkasnya.

(bw/sli/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia