Selasa, 25 Feb 2020
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom

Peran Pemuda Islam di Era Zaman Now

Oleh: M Ali Wafa

09 September 2019, 16: 02: 46 WIB | editor : Ali Sodiqin

Peran Pemuda Islam di Era Zaman Now

Share this          

ZAMAN now istilah yang sudah sering kali menggema di telinga.  Sudah viral sekali akhir-akhir ini. Khususnya di Indonesia. Kendati demikian, istilah zaman now yang ditayangkan, tak sesuai dengan aturan-aturan Islam yang ada. Para pemuda menjadi incaran, para remaja menjadi buram. Problematika publik tengah merasakan riuhnya pembahasan mengenai anak muda zaman sekarang, atau istilahnya zaman now, semua media sosial baik cetak maupun elektronik seperti menertawakan suramnya masa depan mereka.

Melihat hal demikian, rasanya sangat ironis sekali peran pemuda dan pemudi merasa kehilangan sosok karakter yang sebenarnya. Kebobrokan moral yang terus menerus menggerogoti para remaja. Generasi muda menjadi salah, merasa ditelanjangi oleh oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Bukannya malah memotivasi melainkan meracuni para penerus bangsa saat ini. Khususnya para pemuda dan pemudinya.

Sejatinya ini merupakan pengaruh budaya-budaya barat yang sengaja untuk membunuh karakter para pemuda dan remaja Indonesia saat ini. Jadi sangat mungkin untuk menghancurkan pemuda Islam khususnya melalui pemuda dan remajanya. Mereka hanya perlu terus dihasut supaya menyimpang dari aturan Islam yang ada.

Hari demi hari, tahun demi tahun, terus saja terjadi perubahan yang sangat signifikan. Dekadensi moral yang terjadi di kalangan pemuda Islam semakin mengkhawatirkan. Kemurnian ajaran Islam yang dulu sangat disakralkan sekarang terkesan biasa saja. Ini menjadi tugas kita bersama untuk membangun kembali peradaban yang lebih baik, khususnya para pemuda dan remaja Islam untuk menjadi lebih baik. Karena pemuda merupakan aset bangsa kita untuk meneruskan generasi selanjutnya atau yang akan datang. Bagaimana kalau seandainya peradaban saat ini berkaca terhadap zaman now yang menggambarkan tidak senonoh terhadap pemuda dan remaja saat ini.

Tidak bisa dibayangkan apabila penerus seperti demikian menjadi penerus bangsa kita. Bisa hancur dunia ini, apabila hal tersebut bisa terjadi kalau tidak sesuai dengan aturan aturan Islam yang ada.

Coba kita renungkan sejarah abad terdahulu generasi muda Islam yang sangat luar biasa. Supaya menjadi teladan terbaik untuk semua umat Islam khususnya para pemuda dan remaja. Catatan-catatan sejarah, di mana Islam selalu mampu melahirkan generasi-generasi hebat dambaan umat, yang walau di usia belia telah mampu menorehkan tinta emas dalam sejarah, mengharumkan nama Islam, dan membuat Islam memenangkan peradaban. Merekalah yang dengan ribuan pemuda dan remaja lainnya  memperjuangkan dan mendakwahkan Islam dengan dorongan iman, menghabiskan waktunya siang dan malam untuk kepentingan Islam, hingga kini kita tetap mampu mereguk manisnya iman dan damainya Islam saat ini.

Mari tengok kembali kisah Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Rasulullah menjadi komandan pasukan kaum muslimin dalam penaklukan Syam padahal baru berusia 18 tahun. Atau kisah Imam Syafi’i yang telah hafal Alquran di usia 9 tahun, serta Ibnu Sina yang telah hafal Alquran di usia 5 tahun bahkan kemudian mampu menjadi bapak kedokteran dunia.

Tentu kita tidak akan lupa kisah heroik Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel yang mampu menjadi sultan di usia muda. Juga, kisah Zaid bin Tsabit yang dengan gagah berani berjihad di usianya yang baru 13 tahun. Kemudian diperintahkan untuk menghimpun wahyu di usia 21 tahun. Itulah generasi muda militan Islam terdahulu yang gaungnya masih terdengar sampai saat ini.

Apakah tidak mungkin, jika kita menyamai prestasi gemilang yang telah mereka ukir di zamannya? Tentunya sangat mungkin untuk kita bisa menyamai mereka. Dengan cara berkomitmen dan berusaha, serta bersungguh-sungguh untuk menyamai mereka sebagai pemuda yang telah mengharumkan nama Islam di zamannya. Apabila hal demikian bisa dicapai dan dilakukan khususnya di Indonesia menjadi sangat luar biasa untuk bisa mengharumkan bangsa Indonesia.

Bahkan, pengasuh ke-2 Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo Alm KHR As’ad Syamsul Arifin pernah mengatakan kepada santrinya bahwa santri bukan hanya cadangan pesantren tapi juga cadangan pemerintah. Sampai menangis, beliau mengatakan hal yang demikian karena terlalu sayangnya Kiai As’ad terhadap santrinya supaya bisa berkontribusi besar terhadap pemerintah bangsa dan negara.

Kalau melihat era pemuda Islam saat ini, tak jarang mengikuti tradisi seperti nongkrong di kafe. Mau tidur, makan, kamar mandi, belanja selalu bawa HP. Ke mana-mana cari wi-fi dan colokan listrik. Suka selfie pakai tongsis. Lalu diedit pakai aplikasi kamera jahat. Kemudian diunggah di Instagram. Dan, seragam dikecilin pas badan. Itu sebagian generasi zaman now yang terus menelanjangi marwah bangsa dan agama.

Apa bedanya yang ngakunya pemuda zaman now dengan generasi muda Islam, hingga membuat ketimpangan yang sungguh nyata antara kepribadian kita dan kepribadian mereka para pejuang Islam. Bukankah kita juga telah dipuji pemilik kehidupan sebagai umat terbaik. Sebagaimana Allah SWT berfiman:”Kalian semua adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah” (QS Ali Imran 110).

Sudah seyogianya pemuda dan remaja bisa melanjutkan perjuangan terdahulu pemuda yang berkarakter, yang mampu membendung tradisi yang menyimpang dari syariat Islam.  Jangan mengikuti budaya now yang hanya merusak moral peradaban aset bangsa. Maka perdalamlah ilmu Islam! Ngaji biar mengerti, biar bisa mawas diri. Sudah tidak zaman pemuda hura-hura lagi sudah waktunya yang muda semangat cari pahala. Berjuang menegakkan kebenaran. Kita tegakkan kebenaran di Indonesia. Buktikan pemuda zaman now bisa menjadi pejuang Islam yang tangguh, bisa mengembalikan kejayaan Islam. Karena, perjuangan adalah pergerakan.(*)

*) Santri Aktivis Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo.

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia