Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Ini Dia Sosok Bayu Mohamad Fiqri, Putra Siliragung Lolos Timnas U-18

07 Agustus 2019, 16: 01: 49 WIB | editor : Ali Sodiqin

Bayu Mohamad Fiqri

Bayu Mohamad Fiqri

Share this          

JawaPos.com - Lagi-lagi, prestasi gemilang kembali ditorehkan oleh putra Bumi Blambangan. Bayu Mohamad Fiqri asal Siliragung, didapuk memperkuat tim nasional (timnas) sepak bola U-18 dan akan berlaga di Piala AFF U-18 di Vietnam pada Selasa (6/8) hingga Senin (19/8).

KRIDA HERBAYU, Siliragung

Pasangan suami istri (pasutri) Mulyono, 51 dan Siti Rohimah, 47, asal Dusun Sumbermanggis, RT 2 RW 13, Desa Barurejo, Kecamatan Siliragung tidak kuasa menahan air mata. Mereka mendapat kabar bahwa putra keduanya, Bayu Mohamad Fiqri, akan terbang ke Vietnam untuk bergabung dengan tim Garuda Muda dan berlaga di Piala AFF U-18.

Tangis bahagia dan rasa bangga tidak dapat disembunyikan dari raut wajah kedua orang tua itu. Mereka lantas menunjukkan puluhan piagam dan foto Bayu ketika bertanding sepak bola sejak masih duduk di sekolah dasar. ”Saya sangat bersyukur Bayu bisa terpilih di timnas U-18,” ungkap Mulyono.

Mulyono mengisahkan, anaknya memang sudah gila bola (gibol) sejak masih duduk di bangku kelas 1 SDN 5 Barurejo, Kecamatan Siliragung. Bayu memulai karir sepak bola dengan bergabung di klub Barurejo Putra (Batra) FC.

Sejak kecil, bakat menggiring si kulit bundar sudah terlihat. Dibanding teman sebayanya, Bayu tampak lebih matang dan lihai saat menggocek bola. ”Pelatih pertamanya di Batra FC bilang Bayu memiliki potensi pemain sepak bola yang luar biasa,” ujarnya.

Bayu selalu menjadi andalan bagi klub maupun sekolahnya, setiap ada pertandingan sepak bola. Baik di tingkat desa maupun hingga tingkat nasional, tim atau klub yang diikuti Bayu selalu mendapat juara satu.

Setelah lulus dari SDN 5 Barurejo, remaja kelahiran 13 Januari 2001 itu melanjutkan pendidikan di SMPN 2 Siliragung. Saat di SMP ini, karir sepak bolanya terus meningkat. ”Saat SMP,  klub sepak bola Bayu pernah mendapatkan juara pertama Piala Menpora U-14 tahun 2015,” ungkap pria yang menjabat mandor di BKPH Pesanggaran, Perhutani KPH Banyuwangi Selatan itu.

Setelah mengikuti kejuaraan di PON Jatim 2019, Bayu dilirik oleh Pertamina dan berlaga di Malaysia. Saat bermain itu, ada penggemar sepak bola yang juga karyawan Pertamina, Totok Suharjito asal Malang, yang tertarik dengan skill yang dimiliki Bayu. Kemudian, Bayu ditawari dan untuk mengikuti sekolah sepak bola di Aji Santoso International Football Academy (ASIFA) Malang. ”Pak Totok bilang kalau anak saya itu akan disekolahkan di ASIFA Malang dan dibiayai,” tuturnya.

Atas pinangan itu, Mulyono langsung mengizinkan Bayu ikut ke Malang dan menimba ilmu di ASIFA Malang. Satu tahun berselang, orang tua Totok terkena serangan jantung dan butuh biaya ratusan juta untuk berobat. Karenanya, Totok menyampaikan tidak dapat lagi membiayai Bayu sekolah di ASIFA Malang. ”Saya menemui Aji Santoso dan meminta keringanan biaya untuk anak saya,” jelasnya.

Upayanya itu membuahkan hasil. Biaya sekolah Bayu diberi keringanan. Bayu pun semakin tekun berlatih hingga menembus seleksi timnas U-18. ”Dari puluhan siswa ASIFA Malang, yang mendaftar hanya Bayu dan lolos seleksi hingga sampai mendapat kursi di tim inti Timnas U-18,” paparnya.

Mulyono menyebut, bakat yang dimiliki Bayu itu merupakan turunan. Ia sendiri pernah memperkuat skuad Persewangi Junior di tahun 1970. Anak pertamanya, Mohamad Bagus Irawan Adha, juga pernah menjadi andalan klub Persewangi Junior. ”Kakak Bayu kini ikut berlaga di Liga 3 dan bergabung klub Persiko Kota Baru, Kalimantan Selatan,” bebernya.

Dengan perginya Bayu, rumahnya terasa sepi. Tapi, sebagai orang tua mereka tetap bangga karena cita-cita anaknya untuk menjadi pemain sepak bola profesional tercapai. ”Saya sangat bangga dengan anak-anak saya itu,” terang Siti Rohimah, ibu kandung Bayu.

Di mata ibunya, Bayu itu tergolong manja. Meski kedua orang tuanya tidak pernah memanjakannya. ”Bayu pernah meminta sepatu sepak bola, karena saya tidak punya uang, saya belikan sepatu yang harganya paling murah Rp 100 ribu,” ungkapnya.

Dengan mata berkaca-kaca, Rohimah mengaku masih teringat saat Bayu masih duduk di bangku SD, Bayu pernah mendapatkan juara dan membawa pulang uang dari hadiah tersebut. Ia kaget uang sebesar Rp 540 ribu langsung diberikan kepadanya. ”Saya langsung menangis dan tidak bisa berkata apa-apa. Saya langsung memeluk dan meminta a simpan uang itu untuk membeli sepatu,” bebernya.

Pada kedua anaknya itu, Rohimah selalu berpesan agar tidak lupa menjalankan ibadah salat dan selalu berdoa kepada Yang Mahakuasa. Meskipun jauh, ia juga tidak pernah lupa untuk menelepon anaknya, dan mengingatkan agar menjalankan salat. ”Cuma itu yang selalu saya sampaikan kepada anak saya,” imbuhnya.

Rohimah juga menyampaikan keinginannya untuk melihat anaknya bertanding secara langsung. Tapi, Bayu selalu melarang kedua orang tuanya menyaksikan berlaga. ”Mungkin malu dilihat secara langsung oleh kedua orang tuanya, atau mungkin tidak mau melihat orang tuanya menangis saat berlaga di lapangan hijau,” pungkasnya. (abi)

BIKIN BANGGA ORANG TUA: Mulyono dan Siti Rohimah menunjukkan foto dan medali yang diraih Fiqri selama menekuni sepak bola.

BIKIN BANGGA ORANG TUA: Mulyono dan Siti Rohimah menunjukkan foto dan medali yang diraih Fiqri selama menekuni sepak bola. (KRIDA HERBAYU/RaBa)

(bw/kri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia