Senin, 16 Sep 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Nikmatnya Menyantap Tumpeng Sewu di Desa Kemiren

05 Agustus 2019, 17: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Masyarakat menikmati tumpeng sewu di acara adat Desa Kemiren, Glagah, Minggu (5/8) malam.

Masyarakat menikmati tumpeng sewu di acara adat Desa Kemiren, Glagah, Minggu (5/8) malam. (Ramada Kusuma/RaBa)

Share this          

JawaPos.com - Masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, punya gawe besar tadi malam (4/8). Sekitar seribu tumpeng disajikan untuk dimakan beramai-ramai. Ritual ini digelar dalam rangkaian bersih desa.

Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, ribuan orang tumplek-blek memadati jalan desa adat tersebut. Padahal, sejak sekitar pukul 17.30 jalan menuju Desa Kemiren telah ditutup. Semua warga yang ingin menuju desa ini harus berjalan kaki demi menghormati ritual adat tersebut. Sementara itu, warga setempat telah menyuguhkan ribuan tumpeng di sepanjang jalan.

Sekitar pukul 18.00 atau usai salat Magrib, ritual ini mulai dilangsungkan. Di bawah temaram api obor, semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar maupun karpet yang tergelar di depan rumah. Di hadapannya tersedia tumpeng yang ditutup daun pisang. Dilengkapi lauk khas warga Kemiren, pecel pithik dan sayur lalapan sebagai pelengkapnya. Usai kumandang doa yang yang dibacakan sesepuh dari masjid di desa setempat, masyarakat mulai makan tumpeng bersama.

Tumpeng Sewu merupakan tradisi adat warga Desa Kemiren. Sebelum makan tumpeng sewu warga berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala.

Sementara itu, selain warga lokal, selamatan ini juga diikuti warga asal luar Desa Kemiren. Bahkan, Bupati Abdullah Azwar Anas beserta istri, Ny. Ipuk Festiandani Azwar Anas pun menyempatkan hadir dalam kegiatan yang masuk kalender Banyuwangi Festival (B-Fest) 2019 tersebut.

Anas mengatakan, pihaknya bersyukur tradisi dan budaya di Banyuwangi terus tumbuh dan berkembang. "Inilah kekayaan festival kita. Fistival di Banyuwangi bukan hanya untuk wisatawan, tetapi juga untuk menopang pelestarian budaya," ujarnya.

Anas menambahkan, lewat Festival Tumoeng Sewu kali ini, masyarakat bertemu, berkumpul, dan bersilaturahmi. "Anak-anak muda menjadi guyub. Ini menjadi modal penting untuk terus membangun daerah," pungkasnya.

(bw/sgt/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia