Selasa, 10 Dec 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Sembako

Dari Rp 17.000, Cabai Rawit Naik Jadi Rp 80.000

04 Agustus 2019, 18: 15: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Dari Rp 17.000, Cabai Rawit Naik Jadi Rp 80.000

Share this          

JawaPos.com – Perhiasan emas dan cabai rawit menjadi momok terhadap upaya pengendalian harga-harga komoditas di Banyuwangi. Betapa tidak, duet komoditas yang masuk kelompok sandang dan bahan makanan ini menjadi pemicu utama inflasi periode Juli tahun ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) Banyuwangi melansir, selama Juli terjadi kenaikan harga sebagian besar komoditas di Banyuwangi. Terutama emas perhiasan dan cabai rawit. Hal ini memicu terjadinya inflasi alias kenaikan indeks harga konsumen (IHK) di kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini.

Secara bulanan alias month to month (m-t-m), pada Juli lalu Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,39 persen dibanding Juni. IHK di Banyuwangi yang sebelumnya sebesar 130,84, naik menjadi 131,36.

Kepala BPS Banyuwangi Tri Erwandi mengatakan, kelompok sandang memberikan andil tertinggi terhadap inflasi akibat kenaikan harga emas perhiasan yang mencapai 3,49 persen. Kenaikan harga emas perhiasan ini memberikan andil sebesar 0,1 persen terhadap inflasi periode Juli 2019. ”Kenaikan harga emas perhiasan ini akibat kenaikan harga emas Antam seiring dengan kenaikan harga emas di pasar spot global, yang disebabkan oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) terkait dengan potensi penurunan suku bunga acuan,” ujarnya melalui rilis resmi Jumat (2/8).

Menyusul emas perhiasan, cabai rawit menempati ranking kedua penyumbang inflasi di Banyuwangi. Harga cabai rawit membubung 173,55 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,09 persen.

Dikatakan, pada Juli komoditas cabai rawit mengalami lonjakan harga yang sangat signifikan. Hal ini dipicu berkurangnya pasokan yang berasal dari petani. Tiga bulan sebelumnya, tepatnya April sampai Juni, harga cabai rawit terpuruk dengan rata-rata sebesar Rp 17 ribu per kilogram (kg). Namun pada Juli, harga cabai rawit melambung hingga menembus Rp 70 ribu per kg. Bahkan, beberapa hari terakhir, harga cabai rawit menembus angka Rp 80 ribu per kg. 

Selanjutnya, seragam sekolah juga menjadi salah satu pemicu inflasi Juli 2019. Kebutuhan yang tinggi pada tahun ajaran baru 2019/2020 menyebabkan kenaikan harga seragam sekolah sebesar 19,84 persen sehingga memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,08 persen.

Selain komoditas-komoditas tersebut, inflasi Juli 2019 juga dipicu beberapa komoditas yang lain. Di antaranya cabai merah dan daging ayam ras yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,07 dan 0,05 persen. Inflasi juga dipicu kacang panjang dan terong yang masing-masing memberikan andil sebesar 0,06 persen dan 0,05 persen.

Sebaliknya, sejumlah komoditas berperan mengerem laju inflasi sepanjang Juli 2019. Tarif kereta api memberikan andil terhadap deflasi sebesar 0,09 persen. Selain itu, harga ikan tongkol, daging ayam kampung, dan daging sapi yang masing-masing turun sebesar 4,22 persen, 7,30 persen, dan 3,92 persen juga menghambat laju inflasi Juli. Bukan itu saja, bawang putih dan bawang merah juga turut meredam laju inflasi Juli 2019. Bawang putih terjadi deflasi sebesar 8,43 persen dengan andil sebesar -0,035 persen, sedangkan bawang merah terjadi deflasi sebesar 5,32 persen dengan andil sebesar -0,016 persen.

Tri Erwandi menuturkan, di antara delapan kota IHK di Jatim, enam kota mengalami inflasi, sedangkan dua kota yang lain mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Kediri sebesar 0,44 persen, disusul Banyuwangi 0,39 persen, dan Jember 0,24 persen. ”Sedangkan Kota Sumenep dan Kota Probolinggo mengalami deflasi masing-masing sebesar -0,08 persen dan -0,05 persen,” pungkasnya.

(bw/sgt/rbs/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia