Senin, 16 Sep 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Bikin Miris, Ternyata Masih Ada Desa di Banyuwangi Kekurangan Air

02 Agustus 2019, 18: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

DAMPAK KEMARAU PANJANG: Warga Sidodadi, Kecamatan Wongsorejo antre mendapatkan air bersih. Setiap musim kemarau, sebagian warga di desa tersebut  butuh pasokan air bersih.

DAMPAK KEMARAU PANJANG: Warga Sidodadi, Kecamatan Wongsorejo antre mendapatkan air bersih. Setiap musim kemarau, sebagian warga di desa tersebut butuh pasokan air bersih. (Ramada Kusuma/RaBa)

Share this          

Jawa Pos.com – Warga yang tinggal di tiga desa di Kecamatan Wongsorejo mulai merasakan dampak kekeringan akibat musim kemarau. Mereka kesulitan mendapatkan air bersih yang digunakan untuk konsumsi sehari-hari.

Tiga desa di Kecamatan Wongsorejo yang terdampak kekeringan dan kekurangan air bersih itu berada di Dusun Possumur, Desa Bengkak; Dusun Pancoran, Desa Sidowangi; dan Dusun Karangbaru Pal 4, Desa Alasbuluh.

Untuk hanya sekadar mendapatkan air bersih, warga yang tinggal di Dusun Pancoran, Desa Sidowangi harus membeli air bersih ke lokasi sumur bor yang berjarak sekitar lima kilometer dengan melintasi jalan terjal dan berdebu. Bagi warga yang tidak memiliki kendaraan, mereka terpaksa mendapatkan air dari aliran Sungai Pringgondani yang sudah berada dalam tandon dan dialirkan melalui pipa kecil.

Hanya saja, kondisi air sungai yang dialirkan melalui pipa tersebut sangat tidak layak untuk dikonsumsi. Betapa tidak, air sungai tersebut sudah berubah warna dan tak bening lagi karena telah digunakan untuk memandikan ternak dan kegiatan mandi cuci kakus (MCK) warga. Akibatnya air yang diterima warga sudah dalam kondisi keruh. ”Airnya ya dari sungai dan harus diendapkan dulu sebelum digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” ungkap Busadin, 49, warga setempat.

Busadin mengaku sebelum ada saluran pipa air sungai yang ditandon tersebut, warga harus berjalan ke sungai dan mengambil air yang tidak layak konsumsi tersebut sejauh 12 kilometer ke arah barat. Karena mengonsumsi air kotor dari sungai, tidak sedikit pula warga yang mengeluh sakit perut, diare, dan mengeluh sakit lainnya. Terutama anak-anak balita. ”Bagaimana tidak sakit air sungai sudah bercampur kotoran sapi, buang air besar, dan oleh warga di sini di masak untuk minum dan kebutuhan sehari-hari. Kami mau apa lagi, adanya itu,” jelasnya.

Camat Wongsorejo Sulistyowati mengatakan, hampir tiap tahun di Kecamatan Wongsorejo melalui musim kemarau lebih lama. Karena untuk musim penghujan hanya berlangsung selama empat bulan. ”Jadi di sini musim kemarau delapan bulan,” katanya.

Meski dilanda kekurangan air tapi tidak pernah sampai kehabisan air bersih karena ada sebagian warga yang telah memiliki sumur bawah tanah hingga mencapai 100 meter. Hanya, memang juga ada beberapa desa di wilayahnya yang mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih.

Seperti yang terjadi di Dusun Pancoran, Desa Sidowangi. Untuk itu, warga setempat selama ini mendapatkan pasokan air dari sumber di Sungai Pasewaran melalui pipa. Sementara memasuki musim kemarau ini, sumber mata air mulai berkurang. Sehingga di saat sampai ke permukiman warga, kondisi air sudah kotor. ”Kalau di tengah hutan pipanya putus atau di sumbernya tidak keluar air, maka masyarakat setempat sudah tidak bisa mendapatkan air bersih,” terangnya.

Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan bencana Daerah (BPBD) Banyuwangi Eka Muharram juga telah memetakan kawasan rawan kekeringan dan berpotensi kekurangan air bersih. ”Khusus di Kecamatan Wongsorejo memang ada tiga desa yang terdampak dan kekurangan air bersih. Tapi, kami juga telah berkoordinasi dengan mengirimkan bantuan air bersih dua tangki ke titik rawan kekeringan tersebut setiap hari,” jelasnya.

Mendapati keluhan dari sejumlah pengurus ranting Nahdlatul Ulama (NU) di Kecamatan Wongsorejo, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi langsung bergerak dengan memberikan bantuan berupa tandon dan suplai air bersih ke lokasi rawan kekurangan air tersebut.

Ketua PCNU Banyuwangi Muhamad Ali Makki Zaini mengatakan, dampak musim kemarau sangat dirasakan warga yang tinggal di tiga desa di Kecamatan Wongsorejo tersebut. Berdasarkan laporan dari pengurus ranting NU dan Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Wongsorejo, hampir setiap tahun jika musim kemarau tiba warga kesulitan mendapatkan air bersih. ”Kami gerakkan Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI-NU) untuk menginventarisasi dampak kekeringan ini bersama dengan MWCNU Wongsorejo dan apa solusinya,” ungkap Gus Makki, panggilan akrab  Ali Makki Zaini.

Bantuan tandon dan air bersih itu dibagikan ke lokasi yang memang sangat membutuhkan yang tersebar di tiga desa terdampak. Selain untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, air bersih yang disuplai tersebut juga untuk kepentingan ibadah. ”Karena air bersih sulit, otomatis tandon yang ada di musala juga kosong dan kering. Maka sembari kita membagikan ke warga tandon yang di musala juga langsung kita isi juga,” jelas Gus Makki.

Sementara ini, PCNU telah mendistribusikan bantuan berupa 13 tandon air berkapasitas 550 liter dan 14 ribu liter air bersih yang dibagikan ke warga di tiga desa tersebut. Warga sangat antusias dan sangat bersyukur mendapatkan bantuan tandon dan air bersih tersebut. ”Kalau bisa bantuan air bersih bisa dilakukan seminggu dua kali,” tandas Haji Asadur Rofiq, tokoh masyarakat Desa Sidowangi.

(bw/ddy/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia