Senin, 14 Oct 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Ini Kebiasaan Nyeleneh Sadin, Dia Mencatat Kematian Warga Sejak 1970

24 Juli 2019, 10: 25: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

MASIH TERSIMPAN RAPI: Sadin menunjukkan buku catatan kematian yang dia tulis mulai tahun 1970 hingga 2019.

MASIH TERSIMPAN RAPI: Sadin menunjukkan buku catatan kematian yang dia tulis mulai tahun 1970 hingga 2019. (Krida Herbayu/RaBa)

Share this          

Jawa Pos Radar Banyuwangi - Kakek berusia 66 tahun ini punya hobi unik. Dia selalu mencatat nama-nama orang yang meninggal dunia di kampungnya. Hingga hari ini, nama yang tercantum di ”death note” miliknya itu sudah menembus 1.874 orang.

KRIDA HERBAYU, Jawa Pos Radar Banyuwangi

Daya ingat seseorang memang terbatas. Terkadang untuk mengingat tanggal lahir kerabat dekat saja cukup sulit. Apalagi tanggal kematiannya. Namun, Sadin, pria yang bekerja sebagai kuli panggul di Pasar Kalibaru Wetan ini punya trik sendiri supaya ia tidak lupa tanggal-tanggal penting.

Sadin selalu rajin mencatat ”seluruh” nama orang yang meninggal dunia di desanya tanpa terkecuali. Kebisaannya itu ternyata ada faedahnya. Sebab, catatan kematian yang dihimpun Sadin itu membuat warga di Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru merasa terbantu.

”Death note” Sadin menjadi patokan warga yang hendak memperingati hari kematian saudara atau kerabatnya yang berjarak 1.000 hari hingga lebih. Selain itu, Sadin juga gemar menghitung tanggal selamatan kematian seseorang dengan buku daftar kematian miliknya sebagai patokan.

Tidak hanya kematian warga desanya saja, Sadin ternyata juga mencatat tanggal kematian para tokoh penting. Mulai dari Presidan Soekarno, Wapres Adam Malik, Soeharto, Gus Dur, Mbah Marijan, hingga Ali Amrozi bin Nurhasyim dalang peristiwa bom Bali 2002.

Menurut Sadin, kebiasaannya itu ia lakukan untuk melatih daya ingatnya. Tidak hanya tanggal kematian saja, penyebab orang tersebut meninggal juga tidak luput dicatat oleh Sadin.

Sadin menyebut, total orang meninggal di kampungnya tercatat sebanyak 1.874 orang. Itu belum termasuk tokoh-tokoh yang berita kematiannya ia dengar lewat televisi. ”Kalau total keseluruhan kurang lebih ada 2.500 daftar orang meninggal yang saya catat mulai dari tahun 1970 hingga 2019,” ujarnya.

Pria kelahiran 16 Februari 1970 itu dikenal suka mencatat seluruh tanggal kejadian dan juga momen yang ada di dalam hidupnya. Di rumahnya, tiga buku berisi daftar kematian orang disimpan rapi.

Sebenarnya ada satu buku catatan yang sempat hilang. Buku tersebut berisi catatan pertamanya. Hingga saat ini Sadin masih kepikiran dengan buku catatan yang hilang itu.

”Bagi siapa yang menemukan buku catatan saya itu, saya akan menebusnya dengan uang Rp 50 ribu,” terangnya.

Meski hanya lulusan sekolah dasar, Sadin gemar membaca dan mengumpulkan informasi terkini dari koran maupun televisi. Menurutnya dengan mengingat kembali momen kematian orang, membuat daya ingatnya semakin tajam dan menyegarkan kembali otaknya.

Tidak hanya rajin mencatat kematian orang. Kebiasaan tak lazim Sadin juga merambat hingga ke perabotan rumah. Seluruh barang perabotan rumah seperti kulkas, televisi, kasur, radio, piala, hingga hiasan dinding diberi tulisan tanggal saat pertama kali ia membelinya. ”Semua barang yang saya beli saya catat agar tidak hilang dan saya masih ingat betul kapan saya membeli barang tersebut,” bebernya.

Daya ingat Sadin juga tajam. Ia masih mengingat hari dan tanggal ulang tahun lima anak dan 15 orang cucunya. Setiap tanggal ulang tahun anak dan cucunya, pria yang tinggal di Desa Kalibaru Wetan itu tidak pernah absen memberi hadiah kepada mereka.

”Saya tidak pernah lupa hari ulang tahun mereka. Karena dengan mengingat hari ulang tahun mereka itulah yang menjadi momen kebahagiaan tersendiri bagi saya,” katanya.

Ada satu buku catatan milik Sadin yang paling nyeleneh. Setiap ia membeli bahan bakar minyak (BBM) juga selalu dicatat. Dimulai tahun 1995 hingga 2019. Harga BBM mulai Rp 1.000 per liter hingga Rp 6.500 per liter, masih tertulis dalam catatan. ”Catatan pembelian BBM itu cuma iseng saja. Sejak saya memiliki sepeda motor, saya selalu rajin mencatat pengeluaran untuk kebutuhan membeli bensin,” pungkasnya.

(bw/kri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia