Jumat, 19 Jul 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Politik & Pemerintahan

Pentingnya Wawasan Kebangsaan di Tengah Keberagaman

07 Juli 2019, 21: 01: 17 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

KOMPAK: Tim PPWK dan peserta sosialisasi kebangsaan berfoto bersama di Balai Desa Rogojampi, Sabtu kemarin (7/7).

KOMPAK: Tim PPWK dan peserta sosialisasi kebangsaan berfoto bersama di Balai Desa Rogojampi, Sabtu kemarin (7/7). (SAIFUDDIN MAHMUD/JAWAPOS.COM)

Share this          

ROGOJAMPI – Seruan untuk memperkokoh nilai-nilai kebangsaan terus digaungkan Kesbangpol Banyuwangi. Melalui tim Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK), pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat  untuk memperkokoh nilai-nilai kebangsaan. Mengingat, saat ini nilai-nilai wawasan kebangsaan di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda semakin memudar.

Sabtu kemarin (7/7), tim PPWK melaksanakan sosialisasi  kebangsaan di Balai Desa Rogojampi. Kali ini tema yang diusung ”Menghindari  Sikap Intoleransi  Antarumat Beragama Dalam Kehidupan Sehari-Hari”. Peserta sosialisasi terdiri dari unsur kepemudaan Karangtaruna, PKK, Muslimat, Aisiyah, RT/RW,  Kepala Dusun, serta jajaran perangkat Desa Rogojampi.

Kepala Bakesbangpol Banyuwagi Wiyono turun langsung dalam sosialisasi tersebut. Dia didampingi tim PPWK Julis Setyo Puji Rahayu, Miskawi, Cuk Dwi Sumardi, Rudi Siliworo Putro, dan Joko Purnomo. ”Kami sengaja mengajak tim PPWK untuk menyampaikan pentingnya wawasan kebangsaan,’’ kata Wiyono.

Camat Rogojampi Nanik Machrufi dan Pj Kepala Desa Rogojampi Suwari juga hadir. Suwari  menyampaikan bahwa wawasan kebangsaan sangat penting. Demikian halnya Camat Nanik Machrufi. Dia mengungkapkan, jumlah penduduk di wilayah Kecamatan Rogojampi kurang lebih 54 ribu jiwa dengan total 10 desa.

Pemeluk agama di Rogojampi, kata Nanik, cukup heterogen sehingga suasana damai, kerukunan, dan menghargai adanya keberagaman sudah  diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. ”Meski beda agama, masyarakat sangat rukun,’’ ujarnya.

Wiyono mengatakan, ibu pertiwi sedang menangis ketika agama dijadikan tameng perpecahan dan mengkafir-kafirkan orang lain.  Kondisi ini, kata Wiyono, jika dibiarkan akan memecah persatuan dan kesatuan bangsa.

Wiyono menegaskan agama bisa menjadi energi positif untuk membangun nilai toleransi guna mewujudkan negara yang adil dan sejahtera serta hidup berdampingan dalam perbedaan. Masyarakat perlu menyadari meski setiap agama tidak sama. Sebab, setiap agama mengajarkan sikap toleransi, baik dalam kehidupan beragama maupun kehidupan dalam dunia yang majemuk. ”Diperlukan kesediaan menerima kenyataan bahwa dalam masyarakat ada cara hidup, berbudaya, dan keyakinan agama yang berbeda,’’ tegasnya.

Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Miskawi menyampaikan bahwa Pancasila sebagai petunjuk kehidupan (way of life) berbangsa dan beragama tentunya harus dijadikan pijakan oleh umat beragama di Indonesia dalam setiap bertindak dan berbuat di antara sesama manusia. Di dalam Pancasila terdapat sila pertama, yakni mengenai Ketuhanan Yang Maha Esa.

”Makna Ketuhanan ini sejatinya harus dipahami sebagai perwujudan nilai-nilai toleransi, persaudaraan, dan sebagai wujud dialog internal umat beragama sebagai upaya membangun kesadaran demi terciptanya kerukunan antarumat beragama,’’ kata Miskawi. (*)

(bw/aif/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia