Jumat, 19 Jul 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Berita Daerah
DINAS PERTANIAN BANYUWANGI

Agribusiness Indonesia Bangkit dari Banyuwangi

30 Juni 2019, 09: 09: 02 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

BANGKITKAN PERTANIAN: Bupati Anas, Ahli Lingkungan Kementan RI Pending Dadih Permana, Kadis Pertanian Arief Setiawan saat hadir di Grand Final ASC 2019 Sabtu (29/6) di Aston Hotel Banyuwangi

BANGKITKAN PERTANIAN: Bupati Anas, Ahli Lingkungan Kementan RI Pending Dadih Permana, Kadis Pertanian Arief Setiawan saat hadir di Grand Final ASC 2019 Sabtu (29/6) di Aston Hotel Banyuwangi

Share this          

BANYUWANGI – Kebangkitan agribusiness Indonesia dimulai di Banyuwangi. Tidak hanya menopang upaya regenerasi petani, pemerintah kabupaten ujung timur Pulau Jawa, ini juga mendorong lahirnya entrepeneur muda baru yang bergerak di bidang pertanian.

                 Upaya regenerasi petani dan melahirkan entrepeneur muda tersebut salah satunya diwujudkan melalui ajang Banyuwangi Startup Competition (ASC) 2019. Melalui ajang ini, sebanyak 653 anak muda asal berbagai penjuru tanah air mengikuti kompetisi perencanaan dan bisnis rintisan bidang pertanian.

PETANI MILENIAL: Crop Hero dari Bogor dengan rintisan usaha alat monitoring lingkungan mikro ekosistem budidaya pertanian (micro controller) berbasis IoT  berhasil menjadi juara 1 dalam ASC 2019

PETANI MILENIAL: Crop Hero dari Bogor dengan rintisan usaha alat monitoring lingkungan mikro ekosistem budidaya pertanian (micro controller) berbasis IoT berhasil menjadi juara 1 dalam ASC 2019

                Setelah melewati penyaringan, sebanyak 54 tim peserta berhak maju ke babak selanjutnya. Selanjutnya, sepuluh peserta terbaik melaju ke babak grand final yang diselenggarakan di Hotel Aston, Banyuwangi, kemarin (29/6).

                Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, ASC digelar untuk mendorong hilir sektor pertanian tumbuh. Sebab, kalau anak-anak muda diajak terjun langsung ke hulu pertanian, misalnya diajak mencangkul atau matun, mereka tidak akan tertarik. “Maka, dengan kompetisi startup seperti ini, anak-anak muda akan tertarik terjun ke sektor pertanian. Kalau hilirnya tumbuh, hulu sektor pertanian juga akan ikut tumbuh,” ujarnya saat membuka Grand Final ASC kemarin.

                Anas berharap, lewat ASC anak-anak muda akan lebih dekat dengan pertanian. Apalagi, kata dia, bisnis di sektor ini sangat prospektif.

                Staf Ahli Lingkungan Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) RI Pending Dadih Permana mengatakan, ASC sejalan dengan program regenerasi pertanian di Indonesia yang digalakkan Kementan sejak 2015. “Ini merupakan awal bangkitnya agribusiness Indonesia yang dimulai dari ujung timur Pulau Jawa, Banyuwangi,” ujarnya.

                Pending berharap, ASC digelar berkelanjutan. Dia pun nayatakan Kementan siap berperan aktif dalam ASC. “Lewat ajang ini, mudah-mudahan anak-anak muda mampu mewujudkan Indonesia menjadi negara agraris yang disegani dunia. Sebagai apresiasi terhadap ASC ini, Pak Menteri Pertanian memberikan hadiah tambahan Rp 50 Juta,” kata Pending.

                Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Banyuwangi Arief Setiawan mengatakan, ASC diikuti oleh ratusan peserta asal berbagai daerah di Indonesia. “Dengan banyaknya peserta asal luar daerah tersebut, diharapkan anak-anak muda Banyuwangi memiliki kompetitor sehingga karya atau rintisan usaha mereka ke depan semakin baik,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Banyuwangi Ilham Juanda menambahkan, pihaknya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak, khususnya juri dan peserta ASC yang telah berpartisipasi dalam kompetisi ASC 2019. Even Banyuwangi Festival yang digelar pada tahun kedua ini menyempurnakan even serupa tahun lalu. Sampai dengan batas akhir pendaftaran, kata Ilham, peserta yang mendaftar ASC sejumlah 653 dari seluruh Indonesia. Mereka wajib mengirimkan proposal sebanyak 267 tim yang terdiri dari 104 tim kategori Rintisan Usaha Agribisnis dan 163 tim kategori Ide Usaha Agribisnis.

Kompetisi ini sendiri melombakan dua kategori. Pertama, rintisan usaha pertanian yang telah berjalan maksimal 3 tahun. Kedua, proposal rencana bisnis (business plan). Bidang pertanian yang bisa diikuti pun luas, mulai pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan hingga beragam produk olahannya. “Rangkaian ASC 2019 sangat panjang, peserta harus mempresentasikan hasil rintisan usaha maupun rencana bisnisnya dihadapan dewan juri. Diakui, peserta ASC 2019 sangat luar biasa. Saat harus menentukan 10 peserta terbaik hingga penentuan sang juara, dewan juri harus berdebat satu sama lainnya. “Insyaallah ASC bisa kita gelar tahun depan dengan  konsep yang lebih sempurna,” ujar Ilham kemarin

Dalam ASC 2019 ini, dewan juri yang dihadirkan adalah Dr Luh Putu Suciati SP MSi (Dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember), Fathurrahman SP MP (Dekan Fakultas Pertanian dan Perikanan Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi), Danang Sudarso Widya Prakoso Joyo Widakdo SP MM (Koordinator Program Studi Agribisnis Politeknik Negeri Banyuwangi), dan Dwi Arraziqi SKom MKom (Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komputer STIKOM Banyuwangi).

                Sementara itu, tim Kharisma Crop asal Bogor berhasil menjuarai ASC 2019. Tim yang beranggotakan enam mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), ini sukses menjadi yang terbaik lewat rintisan usaha teknologi pertanian yang diberi nama Crop Hero. Alat ini berfungsi memonitor kondisi lingkungan dengan internet of things. (sgt)

(bw/sgt/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia