Jumat, 19 Jul 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Berita Daerah
Dinas Pertanian

Produk Tak Inovatif, Bisnis Kerap Gagal

29 Juni 2019, 07: 19: 50 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

BUTUH STRATEGI: Kepala Balai Inkubator Teknologi-BBPT Dr Ir Anugerah Widiyanto hadir dalam Workshop ASC 2019 di Hotel Aston, kemarin.

BUTUH STRATEGI: Kepala Balai Inkubator Teknologi-BBPT Dr Ir Anugerah Widiyanto hadir dalam Workshop ASC 2019 di Hotel Aston, kemarin.

Share this          

BANYUWANGI - Bisnis start-up bukanlah sebuah perkara yang mudah apabila Anda ingin mengembangkannya. Sebab, pada saat mengembangkan bisnis tersebut, hal yang dibutuhkan bukan hanya suatu kerja keras, melainkan juga membutuhkan sebuah strategi yang tepat untuk Anda jalankan agar dapat mengembangkan bisnis start-up secara efektif dan juga efisien.

        Hal ini dikatakan oleh Kepala Balai Inkubator Teknologi-Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BIT-BPPT) Dr Ir Anugerah Widiyanto dalam workshop Agribusiness Start-up Competition (ASC) 2019 dengan tema Membangun Generasi Technopreneurship pada Jumat (28/6) di Blambangan Ballroom Hotel Aston Banyuwangi. Narasumber lain yang dihadirkan adalah Ahmed Tessario, seorang penggagas beras organik.

        Anugerah Widiyanto mengungkapkan, ada 20 alasan yang menjadi penyebab kegagalan start-up dalam mengembangkan bisnisnya. Di antaranya adalah produk yang dihasilkan tidak dibutuhkan masyarakat, ran out of cash (kehabisan uang tunai), tim yang kurang tepat, serta pemasaran yang buruk.

        Faktor-faktor kegagalan mungkin saja terjadi pada saat menjalankan bisnis start-up, sebab membangun sebuah bisnis start-up bukanlah suatu perkara yang tergolong mudah. ”Maka dari itu Anda perlu mengetahui apa-apa saja yang dapat menjadi faktor kegagalan di dalam sebuah bisnis start-up. Khususnya bagi Anda yang saat ini sedang menjalankan bisnis start-up ini,” ujar Anugerah di hadapan ratusan peserta kompetisi ASC 2019.

        Agar bisnis start-up Anda dibutuhkan pasar, maka perlu kriteria seleksi dengan parameter yang jelas. Misalnya, ide bisnis maka parameternya adalah inovasi dan keterbaruan. Selain itu, kesiapan produk untuk produksi masal dan potensi berkelanjutan industri parameternya adalah sejauh mana penggunaan teknologi. Selain itu produk juga harus memiliki prospek pasar dan prospek penjualan. ”Beberapa kriteria seleksi ini mungkin perlu menjadi referensi agar bisnis start-up Anda bisa eksis,” kata Anugerah.

        Narasumber lainnya, Ahmed Tessario menceritakan ikhwal keinginannya menggeluti bisnis di bidang pertanian organik. Pria kelahiran Palembang ini pada awalnya memanfaatkan peluang yang terlihat dari industri organik, karena memang di masa depan sektor ini hasilnya akan cukup menjanjikan. Sehingga dia ingin berusaha untuk memulai lebih dulu. Selain itu, saat itu juga sedang ada permasalahan petani yang ingin dia bantu penyelesaiannya.

        Ada tiga permasalahan utama. Pertama para petani rata-rata susah mendapatkan akses agriculture, pupuk berkualitas, juga benih di saat tenaga kerja juga sudah mulai susah. Yang kedua, mereka pun susah mendapatkan capital. Dan ketiga, harga jual hasil panen mereka masih rendah.

        ”Mungkin hal-hal tersebut yang akhirnya membuat latar belakang saya memilih bisnis di bidang kultur organik ini. Namun jika dilihat dari background pendidikan saya di chemical engineering, rasanya memang tidak terlalu nyambung, tetapi masih ada juga beberapa hal yang selaras dengan bisnis ini. Misalnya pupuk organiknya yang saya racik dan saya produksi sendiri,” kata Ahmed yang saat ini sudah berhasil memproduksi 7 produk beras organik ini.

        Ahmed menambahkan, untuk mengupayakan bisnis agar bisa jalan, maka kita harus systemize atau berjalan sesuai sistemnya, sehingga tidak perlu diawasi setiap hari. Buat sistem dengan cara menyusun SOP yang benar, serta mengatur time schedule yang sesuai. ”Nah, buat sistem dengan cara menyusun SOP yang benar, serta mengatur time schedule yang sesuai,” saran Ahmed.

        Kepala Dinas Pertanian Arief Setiawan mengatakan, kompetisi ASC ini merupakan salah satu cara Banyuwangi dalam mendorong generasi milenial agar bisa melirik sekaligus menggarap bisnis di sektor pertanian karena memiliki prospek yang cukup cerah. Agribusiness Start-up Competition, kata Arief, sebagai bisnis rintisan pertanian untuk melahirkan anak-anak muda yang terjun ke bisnis pertanian.

        Dikatakan, berdasar Sensus Pertanian yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), 61 persen petani berusia lebih dari 45 tahun, serta 72 persen berpendidikan SD. Jumlah rumah tangga petani terus menurun dari 79,5 juta pada 2008 menjadi 63,6 juta di tahun 2013. ”Maka kita perlu kreatif melahirkan generasi muda petani inovatif, visioner, melek teknologi. Kompetisi ini salah satunya. Peserta sengaja kita buatkan kategori di usia usia 17–30 tahun agar target anak mudanya tercapai,” kata Arief.

        Kepala Bidang Tanaman Pangan Ilham Juanda menambahkan, sampai dengan batas akhir pendaftaran, peserta yang mendaftar ASC sejumlah 653 dan mengirimkan proposal sebanyak 267 tim yang terdiri dari 104 tim kategori Rintisan Usaha Agribisnis dan 163 tim kategori Ide Usaha Agribisnis. Kompetisi ini melombakan dua kategori. Pertama, rintisan usaha pertanian yang telah berjalan maksimal 3 tahun. Kedua, proposal rencana bisnis (business plan). Bidang pertanian yang bisa diikuti pun luas, mulai pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan hingga beragam produk olahannya. ”Final ASC 2019 akan dilakukan pada Sabtu (29/6) di Hotel Aston Banyuwangi,” pungkasnya. (sgt/aif/c1)

(bw/sgt/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia