Kamis, 21 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Sistem Zonasi PPDB Ternyata Bikin Bisnis Kos-kosan Lesu

19 Juni 2019, 16: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TAK BERPENGHUNI: Rosyid Mardiyo menutup pintu rumah kosnya di Lingkungan Sukorojo, RT 4 RW 3, Kelurahan Banjarsari, Glagah, Selasa (18/6).

TAK BERPENGHUNI: Rosyid Mardiyo menutup pintu rumah kosnya di Lingkungan Sukorojo, RT 4 RW 3, Kelurahan Banjarsari, Glagah, Selasa (18/6). (DEDY JUMHARDIYANTO/RABA)

Share this          

Penerapan PPDB sistem zonasi tidak hanya merugikan warga yang jarak rumahnya jauh dari sekolah. Pemilik rumah kos dekat sekolah juga kena imbasnya. Bisnis yang dulunya menggiurkan itu, kini terancam merugi.

DEDY JUMHARDIYANTO, Glagah

Dampak sistem zonasi dalam PPDB mulai dirasakan betul oleh sejumlah pemilik rumah kos. Mereka mengaku bisnis kos-kosan mulai lesu. Rosyid Mardiyo, 39, salah seorang pengelola rumah kos di Lingkungan Sukorojo RT 4 RW 3, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah mengatakan, sejak dua tahun ini usaha rumah kosnya lesu dan nyaris tak berpenghuni.

Dia menduga, sepinya usaha rumah kos tersebut akibat pemberlakuan sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru. Rosyid mengaku jika tiga tahun lalu, sebelum sistem zonasi diberlakukan, sembilan kamar kos selalu ramai dan dipadati para pelajar yang menempati rumah kos. ”Biasanya kalau pendaftaran siswa baru minimal sudah banyak orang tua yang cari kos-kosan untuk putra-putrinya. Bahkan sampai nolak-nolak,” ungkapnya.

Namun, sejak dua tahun terakhir, dari sembilan kamar kosnya itu tidak pernah terisi penuh. Kamar yang terisi pun merupakan penghuni lama yang sebagian besar adalah mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Banyuwangi.

Letak rumah kos milik Rosyid sebenarnya cukup strategis karena dekat dengan sejumlah sekolah seperti SMKN 1 Banyuwangi, SMAN 1 Glagah, SMAN 1 Giri, dan kampus Unair. 

Para penghuni rumah kosnya sebagian besar adalah pelajar putri yang berasal dari wilayah Banyuwangi Selatan seperti dari Srono, Pesanggaran, Bangorejo, Siliragung, Tegaldlimo, dan Purwoharjo. ”Kalau dulu masih ada kampus Unair masih mendingan, tapi kini kampus Unair sudah pindah tambah sepi,” katanya.

Untuk satu kamar rumah kos berukuran 4 x 4 meter dengan fasilitas kamar mandi dalam dan Wi-Fi dia membanderol harga Rp 400 ribu per bulan. Satu kamar bisa diisi dua hingga tiga orang.

Namun kini, akibat usaha rumah kos tersebut sepi, dia terancam merugi. Pasalnya, usaha rumah kos adalah investasi jangka panjang. Karena tidak berpenghuni, maka setiap bulannya dia tetap mengeluarkan biaya operasional yang meliputi pembayaran listrik, pembayaran jaringan Wi-Fi, serta uang kebersihan.

Hal senada juga dirasakan oleh Iqbal yang juga pemilik rumah kos di Lingkungan Sukorojo, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. Tiga tahun yang lalu dia telah membangun rumah kos dengan sejumlah fasilitas yang memadai, mulai dari kamar berukuran luas, kamar mandi dalam, Wi-Fi, dan tempat parkir luas.

Namun, sejak dibangun, justru sama sekali tidak pernah dihuni lantaran ada pemberlakuan sistem zonasi bagi sekolah yang berada di dekat tempat usahanya. ”Dulu lihat peluang banyak pelajar yang kebingungan cari tempat kos. Kini setelah selesai membangun malah tidak pernah ada penghuninya sama sekali,” keluhnya.

Dia berharap pemerintah kembali mengevaluasi dengan mengeluarkan kebijakan, salah satunya dengan menambah porsi jumlah siswa di luar zonasi terdekat. Sehingga, siswa dari luar kecamatan masih memungkinkan masuk sekolah pilihan atau favorit yang diinginkan. ”Jika minimal jumlah porsi di luar zonasi ditambah pagunya, maka penghuni kos-kosan dari pelajar masih tetap ada meskipun jumlahnya sedikit,” tandasnya.

(bw/ddy/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia