Rabu, 22 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Ekonomi Bisnis
Ketika Para Tunarungu Belajar Meracik Kopi

Sajikan Secangkir Robusta Tubruk tanpa Suara

13 April 2019, 15: 34: 53 WIB | editor : Ali Sodiqin

HADIRKAN BARISTA: Putri Pangestu, Shafira Sayu Salsabilla, dan Ahmad Baihaqi Azhar menyimak ilmu barista yang dipraktikkan Novian Dharma Putra di kedai kopi di Jalan Letnan Sanyoto, Tukangkayu.

HADIRKAN BARISTA: Putri Pangestu, Shafira Sayu Salsabilla, dan Ahmad Baihaqi Azhar menyimak ilmu barista yang dipraktikkan Novian Dharma Putra di kedai kopi di Jalan Letnan Sanyoto, Tukangkayu. (SHULHAN HADI/RABA)

Ngopi, aktivitas yang kini jamak dan bisa ditemui di mana-mana. Banyak orang berlomba mencari kepuasan ngopi. Sementara para barista berlomba meracik kopi yang mantap untuk para penikmat. Bagaimana jika para tunarungu belajar meracik dan menyeduh kopi?

SHULHAN HADI, Banyuwangi

Berudeng khas Banyuwangi, Novian Dharma Putra, 32, barista yang setiap malam membuka kafe mobile di samping TMP Banyuwangi ini siap dengan beberapa sampel kopi di tangannya.  Satu per satu, dia menunjukkan kopi yang tersimpan di dalam stoples mungil kepada beberapa orang yang duduk melingkar.

Semua orang tampak mendengar dengan baik tahap demi tahap penjelasan yang disampaikan. Saat penjelasan itu berlangsung, tiga pasang mata yang ada di samping Novian tampak menyaksikan secara seksama. Pandangannya mengarah tajam ke arah stoples berisi kopi yang dia pegang. Sesekali itu tatapan itu tertuju pada papan tulis yang dipegang Indah Catur Cahyaningtyas, 38.

Putri Pangestu, Shafira Sayu Salsabilla, dan Ahmad Baihaqi Azhar cukup antusias menerima penjelasan dari Novian. Mereka mengandalkan visual karena mengalami keterbatasan pendengaran. Menyertai Novian memberikan penjelasan, Indah menerjemahkan satu per satu ucapan Novian ke dalam tulisan.

Terbatasi dengan pendengaran yang kurang, tidak membuat langkah dan semangat mereka merasa terbatas. Ketiganya tampak semangat, terlebih saat Novian memberikan contoh meracik dan menyeduh secangkir kopi. Mereka langsung tanggap mencoba menuangkan air dari teko.

Malam ini merupakan sesuatu yang terbilang baru. Mengajari tunarungu meracik kopi, menyeduh, hingga menyajikan kepada pelanggan diakui Novian bukan pekerjaan yang mudah, namun juga bukan pekerjaan yang tidak mungkin dilakukan.

Keputusannya meluangkan waktu mengajari tiga orang ini bermula saat dia melihat beberapa difabel sukses. Di sejumlah kota yang pernah dia singgahi, dia melihat ada beberapa orang dengan keterbatasan bisa hidup sukses. Namun di beberapa tempat lainnya dia melihat para difabel mengalami kondisi yang kurang menguntungkan. ”Beberapa penyandang difabel mempunyai usaha sukses yang dirintis meski dalam keterbatasan,” ucap pria yang pernah bekerja di pengeboran lepas pantai ini.

Berbekal kemampuannya meracik kopi, dia kemudian mencoba menularkan skill ini kepada para difabel, terutama tunarungu di tempatnya membuka kedai kopi. Hal yang lebih sulit dari sekadar memberikan penjelasan meracik, yakni membangkitkan semangat dan kepercayaan diri pada diri mereka. ”Saya yakin difabel di Banyuwangi juga bisa dan punya kesempatan untuk mengembangkan itu, salah satunya dengan kopi atau lainnya,” terangnya.

Kesempatan yang diperoleh tiga tunarungu malam itu tidak bisa dilepaskan dari peran Indah dan Novian. Sebelum ketiganya datang ke tempat Novian, Indahlah yang mengajak mereka mau bergabung. Saat itu, Indah mengetahui Novian memiliki keinginan mengembangkan dan menyalurkan skill baristanya.

Ide tersebut kemudian dia sampaikan kepada para penyandang tunanetra. Keberhasilan Indah menggaet difabel ini bukan tanpa alasan. Sebagai istri dari seorang penyandang tunanetra, cara dia menyampaikan tentu lebih peka dibandingkan orang lain.

 Sayangnya, dari beberapa orang yang tertarik mengikuti pelatihan ini, tidak semua bisa datang karena terkendala cuaca dan jarak yang jauh.  ”Sebagian peserta tak dapat hadir karena rumahnya daerah Genteng dan Jajag,” jelasnya.

Keberadaan para difabel memang perlu sentuhan lebih. Bagi Indah, kemampuan difabel perlu didukung untuk dikembangkan. Ketika sudah menemukan orang dengan energi yang tepat, potensi dan kemampuan difabel ini akan muncul dan bisa bermanfaat bagi dirinya dan juga sekitar. ”Hanya saja butuh orang-orang yang mau memberikan mereka ruang,” ujarnya.

Malam itu, sebelum peserta lainnya membubarkan diri, secangkir robusta tubruk hasil kreasi mereka tersaji untuk pelanggan. Tanpa suara dan kata-kata, senyum mereka seolah mengucapkan, ”selamat menikmati kopi kami”.

(bw/sli/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia