Minggu, 17 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Politik & Pemerintahan
Shohib Qomad Dillah

Petani Belum Menikmati Ekonomi yang Berkeadilan

11 April 2019, 21: 30: 21 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

Petani Belum Menikmati Ekonomi yang Berkeadilan

Share this          

BERBEKAL usia muda dengan pengalaman 10 tahun menjadi petani, membuat Shohib Qomad Dillah mantap menjadi salah satu calon anggota DPR RI dari PKS Dapil III Jatim nomor 4. Dengan keilmuannya, pria alumnus Institut Pertanian Bogor (IPB) ini berhasil menjadi seorang petani dengan memanfaatkan teknologi pertanian, sehingga lahirlah beras merah organik.

Bersama petani asal Singojuruh Samanhudi dan Abdul Rahman Jauhari, trio petani ini sukses mengembangkan beras merah organik hingga bisa ekspor ke Italia. Bahkan untuk memperluas jaringan dan menyejahterakan anggota petani lainnya, Shohib membentuk Koperasi Mendo Sampurno. Dengan bendera Pertanian Organik P4S Sirtanio, beras merah organik ini pun menjadi buah bibir di Banyuwangi.

Pengalaman organisasi Shohib, menunjukkan kualitas personal yang memang mampu mengelola organisasi dan berkomunikasi dengan banyak pihak. Shohib pernah menjadi Ketua OSIS SMA ketika bersekolah di Kota Solo. Ketika menjadi mahasiswa, beberapa kali mengisi jabatan penting di organisasi kampus, antara lain Ketua Bidang Sumber daya Manusia Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas, serta pernah menjabat sebagai Menteri Sosial dan lingkungan BEM Keluarga Mahasiswa IPB. ”Saya berharap, keterwakilan petani harus ada di DPR RI, agar kebijakan pemerintah bisa berpihak kepada petani. Dan jangan sampai petani dipersulit dalam mengelola usaha pertaniannya,” kata Shohib yang juga Ketua Internal Control System (ICS) Pertanian Organik P4S Sirtanio

        Shohib mengatakan, Dapil III Jatim yang meliputi Kaupaten Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso merupakan daerah pertanian. Namun meski petani kita banyak, tapi belum sepenuhnya menikmati sektor ekonomi yang berkeadilan.

 ”Banyak faktor yang menjadi kendala. Padahal lahan kita luas. Kami ingin lahan perkebunan, misalnya, kita manfaatkan menjadi lahan pertanian. Petani harus sejahtera, jangan miskin,” tegas Shohib.

Shohib melihat wakil masyarakat petani di DPR RI yang berlatar belakang bidang pertanian masih belum ada. Hal ini membuat keluh kesah masyarakat tani, terutama terkait beberapa kebijakan pemerintah di bidang pertanian, masih terlihat memberatkan petani. Contohnya, pembelian pupuk urea bersubsidi harus dipaket dengan petroganik. Kebijakan ini memberatkan petani. Sebab, biaya produksi pertanian sudah tinggi, malah ditambah beban dengan mewajibkan membeli petroganik, ketika petani ingin membeli pupuk bersubsidi. ”Kebijakan-kebijakan lainnya yang dirasa menyulitkan petani, perlu diperjuangkan dan disuarakan di Senayan. Jika anggota dewan yang menjabat, berlatar belakang pertanian, maka akan lebih mudah menyampaikan dan memberikan pertimbangan kepada pemerintah,” ujar Shohib. (*)

(bw/ddy/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia