Minggu, 17 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi
Penggiat Pertanian Organik

Beri Pelatihan Gratis, Tingkatkan Kesejahteraan Petani

06 April 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

BERSERTIFIKAT INTERNASIONAL: Shohib (tengah) menunjukkan produksi P4S Sirtanio yang telah menghasilkan lima varian beras organik. Ada beras putih, beras merah, beras cokelat, beras hitam, dan beras germinasi.

BERSERTIFIKAT INTERNASIONAL: Shohib (tengah) menunjukkan produksi P4S Sirtanio yang telah menghasilkan lima varian beras organik. Ada beras putih, beras merah, beras cokelat, beras hitam, dan beras germinasi. (RAMADA KUSUMA/RABA)

Share this          

Pasar beras organik Banyuwangi terus melebar. Setelah sukses ekspor perdana ke Italia, kini pesanan datang dari Amerika Serikat (AS). Shohib Qomad Dillah (caleg DPR RI dari PKS nomor urut 4 Dapil Jatim 3) bersama P4S Sirtanio menerima pre-order dari Negeri Paman Sam sebanyak 5 ton.


BAGI sebagian orang, terutama kalangan muda, bisnis di pertanian adalah hal yang kurang menjanjikan. Namun stereotip itu tidak berlaku bagi Shohib Qomad Dillah. Bahkan, kesempatan menjadi pegawai per­bankan dia lepas. Shohib lebih memilih ter­jun ke bidang yang sebagian orang dianggap kuno tersebut.

Bukan pertanian konvensional, pria yang beralamat di Perum Marga Ayu, Desa Genteng Wetan, ini memilih menggeluti pertanian organik sejak tahun 2011.

DAPAT ORDER DARI AMERIKA: Shohib Qomad Dillah (kiri) ikut mengemas beras organik produksi P4S Sirtanio.

DAPAT ORDER DARI AMERIKA: Shohib Qomad Dillah (kiri) ikut mengemas beras organik produksi P4S Sirtanio. (RAMADA KUSUMA/RABA)

Kala itu, Shohib bersama sejumlah rekannya sesama alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) bergabung mengembangkan pertanian organik yang dirintis sejak 1999 oleh tokoh masyarakat Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, yakni Samanhudi.

Mereka lantas berhimpun dalam satu ”bendera” bernama Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Sirtanio.Di P4S Sirtanio, Shohib didaulat sebagai Ketua Internal Control System (ICS) Pertanian Organik. Sedangkan di bidang teknis menja­lankan usaha, dia bertugas mena­ngani pengelolaan manajemen budi daya. Tugasnya memberikan sosialisasi, merekrut petani men­jadi mitra P4S Sirtanio, hingga mendampingi manajemen tanam. Dalam menjalankan tugas terse­but, secara otomatis suami Didrian Prasatwi, ini harus berinteraksi langsung dengan petani.

Ya, pengelolaan usaha P4S Sirta­nio menggunakan sistem corporate farming. Yakni menggabungkan lahan usaha para petani mitra untuk dikelola secara terpadu da­lam satu sistem. Saat ini sudah 128 petani yang bergabung men­jadi mitra P4S Sirtanio. Luas lahan yang dikelola mencapai 78 hektare (ha).

Dengan menjadi mitra P4S Sir­tanio, petani mendapat sejumlah keuntungan. Gabah hasil panen mereka pasti dibeli dengan harga 20 sampai 30 persen lebih tinggi dibanding harga umum. Keuntu­ngan lain, saat melakukan budi daya secara organik, serangan hama dan penyakit turun signifikan dibanding budi daya secara kon­vensional.

Selain itu, petani mitra mendapat pinjaman berupa benih, pupuk organik, dan agensi hayati (peng­ganti pestisida), tenaga pendam­ping mingguan (semacam penyu­luh), dan jasa perawatan. ”Petani mitra mendapat edukasi pening­katan sumber daya manusia (SDM) per­tanian. Dampaknya, petani mitra tersebut memiliki kemam­puan menyuburkan lahan, meles­tarikan lingkungan, serta me­ngen­dalikan agroekosistem,” ujar Shohib ditemui di padepokan P4S Sirtanio, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, Kamis (4/4).

Karena harga beli gabah yang lebih tinggi, maka penghasilan para petani mitra meningkat se­besar 20 sampai 30 persen diban­dingkan dengan budi daya padi secara konvensional. Selain pen­dapatan meningkat, modal yang harus dikeluarkan petani mitra turun hingga 30 persen. Karena itu, keberadaan P4S Sirtanio telah mampu meningkatkan kesejah­teraan 128 petani mitra.

Bukan hanya menguntungkan petani, budi daya secara organik tersebut juga berdampak positif bagi pemerintah. Betapa tidak, budi daya secara organik sama se­kali tidak menggunakan pupuk bersubsidi. ”Padahal, jika mela­ku­kan budi daya padi secara kon­­vensional, pupuk yang digu­nakan mencapai 300 sampai 400 kilogram (kg) per ha,” terang pria yang juga calon anggota legislatif (caleg) DPR RI asal Partai Keadilan Sejah­tera (PKS) di Daerah Pe­milihan (Dapil) Jatim 3 nomor urut 4 tersebut.

Sementara itu, saat ini P4S Sir­tanio telah menghasilkan lima va­­rian beras organik. Ada beras putih, beras merah, beras cokelat, beras hitam, dan beras germinasi. Produk beras organik tersebut telah mengantongi sertifikasi or­ganik internasional. Sertifikat diperoleh berkat bantuan sertifi­kasi oleh Dinas Pertanian (Dis­perta) Banyuwangi pada 2018 lalu.

Tak ayal, pasar beras organik made in Banyuwangi itu pun semakin lebar. Tidak hanya diserap pasar lokal Banyuwangi dan pasar regional Jatim, tetapi juga telah merambah ke sejumlah kota besar di tanah air.

Bahkan, baru-baru ini, tepatnya akhir Maret, P4S Sirtanio yang menggandeng PT Kampung Kreatif Indonesia (Javara) berhasil me­lakukan ekspor perdana ke Italia. Jumlah beras yang dikirim men­capai 2,8 ton. ”Sebenarnya sebe­lum ekspor perdana tersebut, kami sudah beberapa kali melayani pasar luar negeri, seperti Taiwan, Australia, Belgia, dan beberapa negara lain. Hanya saja, lantaran jumlahnya kecil, yakni kurang dari 100 kg, maka pengiriman tersebut belum dikategorikan ekspor, melainkan hanya dianggap buah tangan,” terang Shohib.

Kini, permintaan dari luar negeri terus mengalir. Salah satunya datang dari Negeri Paman Sam, Amerika Serikat. ”Saat ini masuk pre-order (PO) dari AS sebesar 5 ton,” pungkas Shohib. (habis)

(bw/sgt/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia