Rabu, 22 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi
Penggiat Pertanian Organik

Dulu Disandera, Kini Berhasil Tingkatkan Kesejahteraan Ratusan Petani

05 April 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Bayu Saksono

PANEN: Shohib (kanan) bersama Samanhudi (dua dari kanan/belakang) memasukkan tangkai padi organik ke mesin perontok di sawah yang berlokasi di Desa Sumberbaru Kecamatan Singojuruh.

PANEN: Shohib (kanan) bersama Samanhudi (dua dari kanan/belakang) memasukkan tangkai padi organik ke mesin perontok di sawah yang berlokasi di Desa Sumberbaru Kecamatan Singojuruh. (RAMADA KUSUMA/RABA)

Beras merah organik tengah menjadi ”buah bibir” di Banyuwangi. Produk pertanian Bumi Blambangan itu berhasil menembus pasar Eropa. Nah, sosok Shohib Qomar Dillah (caleg DPR RI dari PKS nomor urut 4 Dapil Jatim 3) punya peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata dalam pengembangan pertanian organik tersebut.

BERANI mengambil kepu­tusan. Berani menghadapi risiko. Berani melangkah. Bagi Shohib Qomad Dillah, keberanian ter­sebut belum cukup. Ada hal yang tidak kalah penting. Yakni mau kembali bangkit setelah mengalami kegagalan.

Ya. Semasa masih kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), tepatnya di tahun 2009, dia sudah diterima sebagai pegawai salah satu bank nasional lewat program early recruitment. Suatu pe­ker­jaan yang bagi sebagian orang me­rupakan sebuah dambaan.

Namun, panggilan jiwa Shohib berkata lain. Pria kelahiran 5 Desember 1986, itu lebih sreg terjun ke bidang pertanian. Hal ini tidak lepas dari latar belakang keluarganya yang juga berke­cim­pung di dunia pertanian.

Maka, keputusan berani pun dia ambil. Dia memilih mengundurkan diri. Konsekuensinya, Shohib harus membayar denda senilai Rp 20 juta. ”Kala itu, uang sebesar Rp 20 juta tersebut setara dengan harga dua unit motor bebek,” ujar Shohib saat berada di Padepokan Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Sirtanio, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singojuruh, Kamis (4/4).

Begitu lulus kuliah, alumnus Fakultas Per­tanian Teknologi Pertanian IPB itu benar-benar terjun ke bidang pertanian. Awalnya dia menekuni bisnis ekspor sabut kelapa. Namun, kali ini dia gagal.

Tak ingin terlalu larut dalam kegagalan, Shohib lantas menjajal bisnis penyulingan minyak atsiri nilam. Lagi-lagi usaha yang dia jalani berjalan kurang menggembirakan.

Selanjutnya, pria yang beralamat di Perum Marga Ayu, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng ini berkecimpung di bisnis beras pre­mium. Setali tiga uang, usaha ini pun gagal.

Hingga akhirnya, pada 2011 Shohib ”ber­labuh” pada pertanian organik. Bersama sejumlah alumnus ITB, dia bergabung me­ngembangkan program pertanian organik yang dirintis tokoh Desa Sumberbaru sejak tahun 1999. Mereka berhimpun dalam satu ”bendera” bernama P4S Sirtanio yang berkon­sentrasi pada budi daya padi organik.

Pada awal Shohib bergabung, lahan tanaman padi organik P4S Sirtanio ”hanya” 1,5 hektare di Desa Sumberbaru. Selain itu, penjualan beras merah organik hanya 300 kilogram (kg) per bulan.

Namun di akhir 2011, lahan pertanian organik tersebut bertambah signifikan menjadi 8 hek­tare. Kala itu, petani mitra P4S Sirtanio pun mulai menjalar tidak hanya di wilayah Kecamatan Singojuruh, tetapi juga di Glenmore.

Singkat cerita, begitu panen dan dirasa lebih menguntungkan dibanding pertanian kon­vensional, para petani mitra melakukan ”getok-tular” kepada petani yang lain.Tak butuh waktu lama, pada Maret 2012, luas area pertanian organik mitra P4S Sirtanio bertambah menjadi 24 hektare.

Pada tahap ini permasalahan baru harus mereka hadapi. Saat luas area tanaman padi organik berkembang pesat, penjualan hanya merangkak menjadi 2 ton per bulan. Akibatnya terjadi overstock. Banyak beras merah organik yang tertimbun di gudang.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, penge­lolaan usaha pun diubah menjadi corporate farming. Yakni dengan metode penggabungan lahan usaha tani untuk dikelola secara bersama-sama oleh para petani dan terpadu di dalam satu manajemen.

Namun, permasalahan tidak berhenti sampai di situ. Lantaran telat membayar gabah hasil produksi petani mitra, Shohib sempat disandera oleh mitra kerjanya tersebut.

Perisiwa penyanderaan itu terjadi ketika Shohib mendatangi kediaman petani mitra tersebut untuk memberikan uang muka (down payment/DP) gabah. Namun, ternyata petani mitra Sirtanio tersebut tidak mau menerima DP. Alasannya, tanaman padi miliknya sudah lama dipanen namun belum dibayar. ”Petani mitra tersebut meminta saya tidak pulang. Dia mendesak kepastian pembayaran secara lunas,” kata suami Didrian Prastiwi tersebut.

Mendapati kabar Shohib ”disandera”, salah satu anggota P4S Sirtanio menggadaikan mobil untuk membayar gabah milik petani mitra yang nilainya sebesar Rp 6 juta tersebut. ”Selain untuk membayar mitra yang ’menyan­dera’ saya, uang hasil gadai mobil tersebut juga kami gunakan untuk membayar sejumlah petani mitra yang lain. Totalnya sekitar Rp 60 juta,” kenang Shohib.

Di masa-masa kritis tersebut, bantuan datang. Bank Indonesia (BI) Jember memberikan rekomendasi kepada Bank Jatim untuk memberikan pinjaman berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR). Padahal, secara kelayakan, P4S Sirtanio belum layak mendapatkan pinjaman. ”Namun karena tujuannnya untuk memberdayakan petani, Bank Jatim akhirnya bersedia mengeluarkan KUR untuk kami,” tutur ayah tiga anak tersebut.

Singkat cerita, pemasaran produk beras organik P4S Sirtanio meroket pada 2014. Kala itu, jumlah penjualan per bulan rata-rata men­capai 25 ton. Beras organik tersebut mayoritas diserap pasar Jatim dan Bali. ”Tetapi ada juga konsumen asal Jakarta, Balikpapan, Semarang, serta sejumlah kota besar lain di tanah air,” tutur Shohib yang juga Ketua Internal Control System (ICS) Pertanian Organik P4S Sirtanio.

Selanjutnya, di tahun 2018, P4S Sirtanio men­dapat bantuan sertifikasi organik in­ter­nasional dari Dinas Pertanian Banyuwangi. Setelah mendapatkan sertifikasi organik in­ter­nasional tersebut, permintaan dari luar negeri mulai mengalir. Hanya saja, jumlahnya tidak banyak, yakni di bawah seratus kilogram.

Lantaran jumlahnya sedikit, pengiriman beras organik ke luar negeri tersebut belum bisa dikategorikan ekspor. Tetapi hanya dianggap buah tangan alias oleh-oleh.

Hingga akhirnya, P4S Sirtanio yang meng­gandeng PT Kampung Kreatif Indonesia (Javara) berhasil melakukan ekspor perdana. Tu­juannya ke Eropa. Lebih tepatnya di negara Italia. Prosesi pemberangkatan armada pengangkut beras tujuan ekspor tersebut dilangsungkan di padepokan P4S Sirtanio pada akhir Maret lalu (21/3). Jumlah beras yang dikirim mencapai 2,8 ton. ”Ekspor beras organik tersebut merupakan kali pertama di wilayah Jatim,” kata Shohib.

Kini, selain aktif berkecimpung di bidang pertanian organik, Shohib ikut bertanding dalam kompetisi Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Dia menjadi calon anggota legislatif (caleg) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk DPR RI nomor urut 4. ”Kami ingin petani memiliki wakil di DPR RI,” ujar pria yang menangani pengelolaan manajemen budi daya P4S Sirtanio tersebut.

Sementara itu, saat ini P4S Sirtanio telah menghasilkan lima varian beras organik. Ada beras putih, beras cokelat, beras merah, beras hitam, dan beras germinasi. Setiap varian memiliki keunggulan masing-masing. (bersambung)

(bw/sgt/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia