Senin, 18 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Politik & Pemerintahan
PPWK Gelar Sarasehan Dihadiri Budayawan

Bangun Karakter Bangsa lewat Seni Budaya

21 Maret 2019, 21: 19: 41 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

HADIRKAN KALANGAN SENIMAN: Dari kiri, Rusdi, Nyoman Widiratyasa, Hasan Basri, dan Asma’i Hadi dalam sarasehan aktualisasi seni di Istana Gandrung, kemarin.

HADIRKAN KALANGAN SENIMAN: Dari kiri, Rusdi, Nyoman Widiratyasa, Hasan Basri, dan Asma’i Hadi dalam sarasehan aktualisasi seni di Istana Gandrung, kemarin. (RAMADA KUSUMA FOR JAWAPOS.COM)

Share this          

BANYUWANGI – Tiada hari tanpa wawasan kebangsaan. Itu yang terus digelorakan tim Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) Banyuwangi. Kemarin (21/3) tim yang dipimpin Sekretaris Kesbangpol Nyoman Widiratyasa menggelar sarasehan Aktualisasi Seni Budaya Daerah dalam Memperkuat Nilai-Nilai Luhur Budaya Bangsa.

Sarasehan berlangsung di Istana Gandrung, Desa Dadapan, Kabat dengan tema ”Seni Budaya Merupakan Energi Pemersatu Bangsa”. Hadir dalam sarasehan tersebut kalangan seniman, budayawan, dan pemerhati seni. Pembicara yang dihadirkan adalah Hasan Basri selaku Wakil Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB). Jalannya sarasehan dipandu oleh Miskawi sebagai Ketua FPK Banyuwangi. Sarasehan dibuka oleh Sekretaris Bakesbangpol Nyoman Widiratyasa.

GAYENG: Peserta sarasehan mendengarkan paparan dari nara sumber di Istana Gandrung, kemarin.

GAYENG: Peserta sarasehan mendengarkan paparan dari nara sumber di Istana Gandrung, kemarin.

Menurut Nyoman, seniman dan pemerhati seni budaya merupakan bagian integral dari masyarakat yang turut andil dalam berkontribusi memajukan budaya Banyuwangi. ”Membangun karakter bangsa melalui seni budaya adalah upaya untuk memperbaiki serta menanamkan cinta tanah air mencakup adat istiadat, nilai-nilai potensi, kemampuan bakat, dan pikiran bangsa yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945,” jelas Nyoman.

Penasihat DKB Asma’i Hadi turut memberikan sumbangan pemikiran dalam sarasehan kemarin. Mantan Sekkab Banyuwangi memberikan tiga pesan. Sebagai warga Banyuwangi harus bangga karena memiliki kekayaan kaya seni yang mampu bertahan hingga sekarang. ”Kita juga harus merasa memiliki, melestarikan, dan mempertahankan budaya tersebut. Ketiga, seni tradisi tersebut kaya dengan nilai-nilai sejarah dan perjuangan,” ungkapnya.

Sementara, Hasan Basri membeberkan, Banyuwangi memiliki identitas daerah yang khas dibandingkan daerah-daerah lain. Misalnya gandrung, lagu Umbul-Umbul Blambangan yang sudah dikenal sampai level nasional dan internasional. Menurut Basri, produk kebudayaan yang ada muncul dari masyarakat sehingga tidak salah jika produk budaya yang ada sangat beragam dan berkembang. ”Gandrung itu kaya nilai-nilai perjuangan, nilai persatuan, dan nilai gotong royong,” ujarnya.

Di sela sarasehan, Basri mengajak mendengarkan lagu Podo Nonton. Dia minta peserta yang hadir bisa meresapi dan memberikan makna yang terkandung dalam lagu yang dinyanyikan anggota Sanggar Tari Sayu Wiwit Rogojampi tersebut. ”Kultur budaya masyarakat juga mempengaruhi terutama masyarakat Oseng yang terbuka, egaliter, berpikir simpel, dan suka kesenian. Yang tak kalah penting adalah kesenian itu harus berideologi,” tegas Hasan Basri. (*)

(bw/sli/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia