Jumat, 19 Jul 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Tips & Trik

RSU Bhakti Husada Ingatkan Penyakit Gagal Ginjal

20 Maret 2019, 16: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PERAWATAN: Penderita gagal ginjal menjalani cuci darah (hemodialisis) di RSU Bhakti Husada, Krikilan, Kecamatan Glenmore.

PERAWATAN: Penderita gagal ginjal menjalani cuci darah (hemodialisis) di RSU Bhakti Husada, Krikilan, Kecamatan Glenmore. (RUSTIDA FOR JPRG)

Share this          

GLENMORE-Gagal ginjal kronis, kini menjadi masalah kesehatan di masyarakat global dengan prevalensi dan insiden yang terus meningkat. Penderita gagal ginjal tahap akhir (stadium lima), terus bertambah sejalan bertambahnya penderita kencing manis (diabetes melitus) dan tekanan darah tinggi (hipertensi) di Indonesia.

Penanganan penderita gagal ginjal tahap akhir, dengan cara terapi pengganti ginjal berupa cangkok ginjal (transplantasi), cuci darah memakai mesin (hemodialisis), atau peritoneal dialisis. Walaupun penderita yang memerlukan cuci darah (dialisis) dan atau transplantasi ginjal itu hanya 1 persen dari penderita gagal ginjal kronis. Tetapi pengobatannya, memerlukan biaya besar dan akan mengurangi angka presentasi harapan hidup. ”Sangat penting upaya pencegahan agar tidak mengalami gagal ginjal tahap akhir, terutama bagi penderita diabetes melitus atau hipertensi,” ujar kepala RSU Bhakti Husada Krikilan, Kecamatan Glenmore drg Hindun Mardiyana.

Menurut dokter Hindun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah mengimbau berbagai macam pencegahan dengan memodifikasi gaya hidup seperti melakukan aktivitas fisik yang teratur. Makan makanan sehat yang rendah lemak, rendah garam, dan tinggi serat. Serta kontrol tekanan darah dan gula darah, monitor berat badan dan mempertahankan berat badan normal, juga minum air putih minimal dua liter per hari. ”Tidak mengonsumsi obat-obatan yang tidak dianjurkan dan tidak merokok,” sarannya.

Pencegahan menjadi penting, terang dokter Hindun, karena banyak sekali orang yang mengabaikan kesehatan ginjalnya. Pada awalnya, penyakit ginjal kronis itu tidak menunjukkan gejala yang khas, sehingga penyakit ini sering terlambat diketahui. Tanda dan gejala yang timbul karena penyakit ginjal, itu sangat umum dan dapat ditemukan pada penyakit lain, seperti tekanan darah tinggi, perubahan frekuensi buang air kecil dalam sehari, adanya darah dalam urine, mual, muntah, dan bengkak, terutama pada kaki dan pergelangan kaki. ”Ini yang sering kali kurang diperhatikan oleh warga,” terangnya.

Pada Maret ini diperingati Hari Ginjal Sedunia atau World Kidney Day. Dengan adanya hari ginjal ini, semoga semua kalangan masyarakat bisa semakin waspada dan ikut berpartisipasi pada segala bentuk upaya pencegahan terhadap penyakit gagal ginjal kronis ini. ”Mulailah dari dirimu. Hidup sehat hidup berkualitas,” ungkapnya.(abi)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia