Selasa, 23 Apr 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Tips & Trik

Peringati Hari Ginjal Sedunia, RS Al Huda Gelar Penyuluhan

20 Maret 2019, 07: 05: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

PENCERAHAN: Suasana kegiatan edukasi kesehatan dalam rangka peringatan World Kidney Day (WKD) di RS Al Huda, Gambiran, Banyuwangi, Kamis lalu (14/3).

PENCERAHAN: Suasana kegiatan edukasi kesehatan dalam rangka peringatan World Kidney Day (WKD) di RS Al Huda, Gambiran, Banyuwangi, Kamis lalu (14/3). (RS Al Huda For RaBa)

GAMBIRAN – Ginjal punya peran sangat besar dalam tubuh manusia, yaitu membersihkan limbah dalam darah. Bila ginjal mengalami penurunan fungsi, bisa berakibat fatal pada tubuh kita.

Untuk itulah, kita wajib menjaga kesehatan ginjal dengan perilaku hidup sehat. Hal ini disampaikan Manajer Pelayanan Hemodialisa Rumah Sakit Al Huda (RSAH) Genteng Samsul Hadi SKep Ns dalam kegiatan edukasi kesehatan ginjal untuk memperingati Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) 14 Maret 2019 lalu.

Kegiatan penyuluhan ini bertema Kidney Health for Everyone Everywhere. Artinya, ginjal sehat untuk setiap orang di mana saja.

Samsul mengatakan, selain membersihkan limbah dalam darah, fungsi utama ginjal yaitu menyeimbangkan cairan tubuh. Ginjal juga memproduksi sel darah merah serta mengatur tekanan darah. Ginjal juga penting untuk menyaring 120–150 liter darah per hari dan mengaktifkan vitamin D untuk kesehatan tulang serta gigi.

Dia menambahkan, bila fungsi ginjal menurun, maka bisa mengakibatkan penyakit ginjal kronis (PGK). Penyakit  ini ditandai dengan gejala tekanan darah tinggi atau hipertensi. Ada juga pertanda berupa perubahan frekuensi dan jumlah buang air kecil dalam sehari. Selain itu, penyakit ini ditandai dengan adanya darah dalam urine/air kemih.

Pasien juga merasakan gangguan tidur, kehilangan nafsu makan, sakit kepala, sulit konsentrasi, gatal, dan sesak. ”Juga pasien mengalami mual dan muntah, serta bengkak di bagian tubuh,” ujarnya.

Menurut Samsul, kehidupan pasien yang terkena PKG akan menurun drastis. Mereka akan mengalami penurunan produktivitas. Haemoglobin (Hb) akan rendah, sering drop, bahkan terkena komplikasi penyakit lain. Mereka biasanya harus cuci darah dua kali seminggu. ”Belum lagi faktor psikologi yang mendera. Sangat kompleks masalahnya,” ujarnya.

PGK menjadi masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia. Perempuan lebih berisiko daripada laki-laki, dengan prevalensi rata-rata 14% pada perempuan dan 12% pada laki-laki. Namun, kata dia, jumlah perempuan yang menjalani dialisis lebih rendah dibanding laki-laki.

Menurut Samsul, setidaknya ada tiga alasan utama yaitu perkembangan PGK lebih lambat pada perempuan dibandingkan laki-laki. Yang pertama adalah hambatan psiko-sosial ekonomi. ”Yang berikutnya yakni akses pelayanan yang tidak setara, sehingga menyebabkan keterlambatan penanganan PGK di kalangan perempuan,” imbuhnya. 

PGK, kata Samsul, merupakan penyakit berbahaya walaupun tidak menular. Sehingga, upaya pencegahan sangat diperlukan dalam menanggulangi bertambahnya jumlah penderita. Peningkatan pemahaman terhadap PGK melalui penyebaran informasi dan edukasi yang tepat mengenai kesehatan ginjal kepada masyarakat. Tak kalah penting juga, memberikan edukasi perilaku hidup sehat. ”Juga harus rajin berolahraga. Dengan begitu diharapkan, pemahaman mengenai PGK bisa ditingkatkan dan bisa menekan angka kejadian PGK,” pungkas Samsul.

(bw/rbs/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia