Selasa, 20 Aug 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Cerita 500 Pelajar Menari Gandrung di Atas Jembatan Suramadu

19 Maret 2019, 16: 12: 08 WIB | editor : Ali Sodiqin

BERDESAKAN DENGAN KENDARAAN: Penampilan 500 pelajar Banyuwangi menari gandrung di atas Jembatan Suramadu dalam acara Millennial Road Safety Festival (MRSF) 2019, Minggu lalu (17/3).

BERDESAKAN DENGAN KENDARAAN: Penampilan 500 pelajar Banyuwangi menari gandrung di atas Jembatan Suramadu dalam acara Millennial Road Safety Festival (MRSF) 2019, Minggu lalu (17/3). (DATIK FOR RABA)

Share this          

Acara Millennial Road Safety Festival (MRSF) 2019 yang digelar Polda Jatim di Jembatan Suramadu Minggu lalu (17/3) berlangsung sukses. Sebanyak 500 pelajar asal Banyuwangi ikut menari gandrung dalam event pecah rekor MURI tersebut.

DEDY JUMHARDIYANTO, Banyuwangi

Rombongan Polres Banyuwangi memboyong 500 penari gandrung dalam event MRSF 2019. Ratusan penari tersebut merupakan pelajar dari seantero Banyuwangi.

Tidak terlalu sulit bagi Polres untuk mencari 500 penari. Maklum saja, para pelajar tersebut sebagian besar adalah penari yang sebelumnya pernah ikut dalam event Gandrung Sewu yang dihelat Pemkab Banyuwangi.

Polres hanya tinggal meminta izin dari Dinas Pendidikan (Dispendik) dan Cabang Dinas Pendidikan Provinsi di Banyuwangi. Selanjutnya, ditunjuk siswa dari sejumlah sekolah mulai tingkat SMP dan SMA untuk mengirimkan penari gandrung yang diikutkan dalam MRSF 2019 di Jembatan Suramadu. ”Jadi kami bekerja sama dengan Cabang Dinas Pendidikan dan Dinas Pendidikan. Karena sasarannya memang kaum milenial usia pelajar,” ungkap Kanit Dikyasa Satlantas Polres Banyuwangi Iptu Datik Hariati.

Setelah dipilih 500 penari gandrung, mereka kemudian dikumpulkan untuk latihan di Jalan Diponegoro, depan Gesibu Blambangan Banyuwangi. Hanya sekali latihan saja, 500 orang penari langsung padu mengikuti irama tabuhan yang dimainkan para wiyaga (panjak).

Baru pada Jumat (15/3) pukul 16.00, para penari gandrung berikut dengan panjak berkumpul untuk berangkat ke Surabaya. Kontingen seni gandrung Banyuwangi tersebut berangkat bersama 50 orang perias. ”Periasnya adalah siswa SMK dan SMP yang ditunjuk,” kata Datik.

Para kontingen berangkat dari Banyuwangi dengan mengendarai 12 armada bus menuju Asrama Haji Sukolilo Surabaya. Setelah sampai di asrama haji, para penari istirahat sejenak, lalu melanjutkan geladi bersih di Kenjeran, Surabaya.

Setelah pelaksanaan geladi bersih, para kontingen hanya beristirahat sejenak. Pada pukul 20.00 Sabtu malam (16/3), ratusan penari gandrung mulai dirias wajahnya. Bagi mereka yang telah selesai dirias, langsung diminta untuk beristirahat. ”Untuk dandan saja butuh waktu empat jam,” ujar Datik.

Para kontingen penari ini kembali dibangunkan pukul 02.30 Minggu (17/3) dini hari. Mereka dibangunkan kembali untuk mengenakan kostum gandrung. Mereka harus berangkat menuju Jemabatan Suramadu pada pukul 04.00. Jika tidak berangkat subuh, maka akan terjebak macet.

Sesampainya di Jembatan Suramadu, para kontingen pelajar seni tersebut tak langsung tampil. Mereka harus menunggu giliran tampil, yakni tari kolosal gandrung. Para pelajar baru tampil menari pada pukul 08.30.

Meski terik matahari sangat menyengat, para penari gandrung yang masih berusia belasan tahun ini tetap semangat. Sebagian juga ada yang pingsan karena haid, ada juga yang sakit perut karena mag kambuh. Ratusan penari gandrung tersebut, kata Datik, dibagi dalam dua sisi jalan raya, yakni di sisi sebelah kanan 250 orang dan sisi sebelah kiri 250 orang.

Sedangkan di tengah-tengah ada penabuh gamelan yang sudah disediakan panggung khusus. ”Para penari datang dari dua sisi dan saling bertemu, pokoknya sangat indah saat ditonton,” kenang Datik.

Karena didapuk menjadi tari special performance, Datik mengaku bangga dan haru. Apalagi, para penari rela menari meski di bawah terik panas matahari dan medan jalan aspal yang sangat menyengat. ”Saya salut, anak-anak masih tetap bersemangat menampilkan tari dengan sebaik-baiknya demi membawa nama harum Banyuwangi,” ungkapnya.

Perasaan yang sama diungkapkan Kasatlantas AKP Prianggo Malau Parlindungan. Dia menyaksikan langsung tari kolosal 500 penari gandrung melenggak-lenggok di atas Jembatan Suramadu. Terlebih tarian kolosal tersebut juga disaksikan ribuan pasang mata yang tumplek-blek memadati Jembatan Suramadu. ”Kami sangat bangga melihat kesenian Banyuwangi disaksikan oleh ribuan pasang mata. Acara pecah rekor MURI itu dihadiri  850 ribu kaum milenial umur 17 sampai 35 tahun,” ungkap Kasatlantas.

Dengan kampanye keselamatan berlalu lintas tersebut, dia berharap kaum milenial khususnya yang berada di Banyuwangi lebih peduli dan taat kesadaran dalam berlalu lintas. Sebab, selama ini tingkat dan jenis pelanggaran lalu lintas di dominasi umur produktif antara 17 hingga 35 tahun.

Dengan adanya deklarasi dan festival milenial tersebut juga dapat menumbuhkembangkan kesadaran di kalangan milenial, khususnya di Banyuwangi dan Jawa Timur. Sehingga program pemerintah dalam mengurangi angka kecelakaan dan mengurangi tingkat fatalitas korban kecelakaan lalu lintas dapat terealisasi. ”Sehingga keselamatan berlalu lintas dapat dilaksanakan di wilayah Jawa Timur,” tegasnya.

(bw/ddy/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia