Sabtu, 20 Jul 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Politik & Pemerintahan
Budha-Tri Dharma Tampil Memukau di Aksi Seni

Wiyono Ajak Sukseskan Pemilu 17 April 2019

17 Maret 2019, 20: 32: 33 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

KOMPAK TANPA SEKAT: Perwakilan Budha, Tri Dharma, FKUB, PPWK,  Formula, dan FPK naik panggung usai menghadiri malam aktualisasi seni di Taman Blambangan, Sabtu malam kemarin (16/3).

KOMPAK TANPA SEKAT: Perwakilan Budha, Tri Dharma, FKUB, PPWK, Formula, dan FPK naik panggung usai menghadiri malam aktualisasi seni di Taman Blambangan, Sabtu malam kemarin (16/3). (BAKESBANGPOL FOR JAWAPOS.COM)

Share this          

BANYUWANGI – Tim Bakesbangpol Banyuwangi kembali mendapat kesempatan tampil dalam aktualisasi seni, budaya, tari, dan seni di Taman Blambangan, Sabtu malam kemarin (16/3). Kesenian yang ditampilkan dari perwakilan agama Budha dan Tri Dharma. 

Kegiatan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan santunan anak yatim lalu dilanjutkan penampilan tari  jejer gandrung. Pembimas Budha dari Kemenag Jatim,  Satimin S.Pd., M.Pd, mendapat kesempatan untuk memberikan sambutan. ”Kegiatan seperti ini harus dan menjadi rutunitas sebagai wujud melestarikan budaya dan pembentukan karakter bagi generasi muda,’’ kata Satimin di atas panggung kehormatan.

KOMPAK: Perwakilan Budha, Tri Dharma, FKUB, PPWK,  Formula, dan FPK manyanyikan lagu Indonesia Raya.

KOMPAK: Perwakilan Budha, Tri Dharma, FKUB, PPWK, Formula, dan FPK manyanyikan lagu Indonesia Raya.

Satimin menegaskan, hidup harus diisi suka cita melalui kesenian. Kesenian bisa dianggap sebagai bentuk pemersatu dan dapat menambah umur karena dapat memberi rasa senang.

Kepala Bakesbangpol Drs.Wiyono MH juga didaulat naik ke panggung. Wiyono mengajak penonton yang hadir agar menjaga pentingnya persatuan dan kesatuan bangsa demi tetap tegak berdirinya NKRI yang berdasar Pancasila Dan UUD 1945. Menurut Wiyono, seni merupakan kodrat Ilahi yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia sebagai satu-satunya makhluk yang memiliki daya cipta rasa, dan karsa. "Agama boleh berbeda tetapi persatuan dan kesatuan bangsa harus tetap terjaga,’’ kata Wiyono.

Masyarakat Banyuwangi, lanjut Wiyono,  dengan etnik yang beraneka ragam dan keyakinan agama yang berbeda-beda bisa merajut rasa dalam satu panggung untuk mengaktualisasikan daya cipta dan karsanya melalui seni. ”Insya-Allah meski di tempat-tempat lain terjadi gejolak yang bernuansa sara (suku, ras, agama dan antar-golongan) tidak akan mampu menggoyahkan keteguhan prinsip masyarakat Banyuwangi untuk senantiasa membangun kebersamaan dalam keberagaman,’’ tegas Wiyono.

Dalam kesempatan itu, Wiyono juga mengajak warga Banyuwangi menyukseskan Pemilu pada 17 April 2019 nanti. Dia berharap seluruh rangkaian proses Pemilu, mulai dari tahapan pencalonan sampai dengan penetapan calon terpilih berlangsung secara aman, tertib dan lancar serta berada dalam suasana damai. ”Siapa pun yang terpilih, baik dalam Pilpres maupun Pileg harus diterima dengan lapang dada oleh seluruh rakyat Indonesia pada umumnya dan rakyat Banyuwangi pada khususnya,’’ kata Wiyono.

Dalam malam aktualisasi seni kemarin dari Tri Dharma diwakili Indrana Cahyono, Cahyadi Sugiyanto, Moh Yamin (FKUB), Tim PPWK,  Hariyanto (Formula), Miskawi (FPK), Eka Wahyu Widayat (Ketua Budha Walubi), dan Mulyono (Ketua Budha Magabudi). Menurut Eka Wahyu Widayat, tari garuda merupakan salah satu tarian tradisionalyang berasal dari pulau Jawa. Kegagahan, keindahan, serta keberanian burung yang menjadi simbol NKRI. Sementara, dari Tri Dharma menampilkan barongsai dan tarian Liong.

Dari agama Budha juga memeriahkan dengan tari gandrung, tari garuda, tari puja, serta musik keroncong bernuansa Budhis. Acara ditutup dengan menyanyi bersama lagu Umbul-Umbul Blambangan bernuansa keroncong. (*)

(bw/sli/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia