Minggu, 17 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kesehatan
Puskesmas Gladag

Launching Investigasi Kontak Penemuan Dini TBC Paru

06 Maret 2019, 16: 40: 14 WIB | editor : Bayu Saksono

SALAM TOS:  Kader program investigasi kontak dalam penemuan dini TBC Paru Puskesmas Gladag siap bekerja usai di-launching di Balai Desa Gladag, kemarin (5/3).

SALAM TOS: Kader program investigasi kontak dalam penemuan dini TBC Paru Puskesmas Gladag siap bekerja usai di-launching di Balai Desa Gladag, kemarin (5/3). (DEDY JUMHARDIYANTO/RABA)

Share this          

ROGOJAMPI – Puskesmas Gladag, Kecamatan Rogojampi, me-launching investigasi kontak dalam penemuan dini Tuberculosis (TBC) paru di Desa Gladag, dalam rangka hari TBC se-dunia, kemarin (5/3).

Kepala Puskesmas Gladag Dokter Zainal Abidin mengatakan, pelaksanaan launching investigasi dilakukan dalam rangka untuk mencari atau membantu penemuan kasus suspect TBC paru di masyarakat. ”Jika di temukan suspect, langsung di lakukan pemeriksaan dahak di puskesmas, dengan dilakukan rujukan oleh kader ’Aisyiyah, kader PKK, maupun perawat,” ungkapnya.

Dalam pelaksanaan investigasi melibatkan komponen masyarakat seperti pengurus Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa, dan kader Posyandu. Kegiatan tersebut juga bekerja sama dengan pengurus pimpinan daerah (PD) ’Aisyiyah Banyuwangi.

Launching investigasi kontak dalam penemuan dini TBC paru tersebut, juga dihadiri oleh Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Banyuwangi dokter Sismulyanto.

Dalam sambutannya, dokter Sismulyanto mengatakan, jika menemukan penderita TBC masyarakat hendaknya tidak menjauhi atau mengucilkan. Melainkan harus diarahkan ke puskesmas untuk diperiksa dan diobati. ”Memang penularan TBC lebih mudah dibanding penyakit lainnya. Kalau bisa terus di-support agar lekas sembuh. Jangan sampai ada stigma jelek hingga dikucilkan dalam hidup bermasyarakat,” pesannya.

Sementara itu, Koordinator Program TBC Paru Puskesmas Gladag Subroto mengatakan, bagi masyarakat yang menemukan tetangga atau saudara yang batuk lebih dari tiga minggu belum sembuh, maka bisa diarahkan untuk periksa ke Puskesmas kemudian untuk diobati.

”Kami juga mendorong masyarakat yang suspect TBC meminum obat secara terus menerus hingga waktu yang ditentukan. Karena jika putus, akan membawa dampak kekambuhan, yang tidak menutup kemungkinan terjadi MDR multi drug resisten (MDR) ataupun masuk kategori dua dengan pengobatan yang lebih panjang, berat, dan mahal,” terangnya.

Dengan investigasi kontak dalam penemuan dini TBC paru tersebut, diharapkan masyarakat juga bisa mengetahui ciri-ciri masyarakat yang suspect TBC paru dan memberitahukan kepada petugas dengan mendorong untuk berobat. ”Kita juga mengedukasi masyarakat, salah satunya etika batuk yang baik bagi siapa pun, apalagi penderita TBC. Sehingga dapat mencegah penularan kepada orang lain. Gunakan masker, tutup mulut dengan lengan saat batuk dan bersin,” tandasnya.

(bw/ddy/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia