Senin, 18 Nov 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Politik & Pemerintahan
Tim PPWK Gesah Kebangsaan di Kampus Uniba

Beda Pilihan Jangan Sampai Tercerai Berai

28 Februari 2019, 20: 59: 23 WIB | editor : AF. Ichsan Rasyid

KOMPAK: Peserta dialog berfoto dengan rektor Uniba, dekan, dan dosen usai gesah kebangsaan di lapangan terbuka kampus Uniba, Rabu kemarin (27/2).

KOMPAK: Peserta dialog berfoto dengan rektor Uniba, dekan, dan dosen usai gesah kebangsaan di lapangan terbuka kampus Uniba, Rabu kemarin (27/2). (PPWK for JAWAPOS.COM)

Share this          

BANYUWANGI – Roadshow tim Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan (PPWK) kali ini singgah di kampus Universitas PGRI Banyuwangi (Uniba). Rabu kemarin (27/2), tim menggelar dialog kebangsaan di lapangan terbuka. Peserta bisa menyatu dengan alam sembari duduk lesehan di tikar.

Tema yang diangkat dalam diskusi adalah ”Peran Perguruan Tinggi dalam Membangun Kesadaran Kebangsaan di Tengah Disintegrasi Bangsa”. Materi yang didiskusikan seputar

LESEHAN: Suasana gesah kebangsaan di lapangan terbuka kampus Uniba, Rabu sore kemarin (27/2). Peserta sepakat membangun kesadaran kebangsaan harus dihidupkan di lingkungan keluarga, sekolah, dan pergu

LESEHAN: Suasana gesah kebangsaan di lapangan terbuka kampus Uniba, Rabu sore kemarin (27/2). Peserta sepakat membangun kesadaran kebangsaan harus dihidupkan di lingkungan keluarga, sekolah, dan pergu

Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. ”Sebentar lagi kita punya gawe besar pemilu. Meski beda pilihan, kita harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Jangan sampai gara-gara beda pilihan, justru bangsa ini tercerai berai,” pesan Sekretaris Kesbangpol Banyuwangi Nyoman Widiratyasa ketika membuka diskusi.

Menurut Nyoman, keanekaragaman suku bangsa, bahasa, agama, ras, dan etnis berpotensi memunculkan kerawanan dan konflik sosial. ”Dengan semakin marak dan meluasnya konflik akhir-akhir ini, merupakan suatu pertanda menurunnya rasa nasionalisme di masyarakat. Biar persatuan tetap terjaga, mari kita ajak masyarakat untuk tetap merawat keberagaman tersebut,” ajak Nyoman.

Gesah kebangsaan berlangsung gayeng. Satu-per satu peserta memberikan kontribusi pemikiran betapa pentingnya wawasan kebangsaan. Rektor Uniba Dr H Sadi MM ikut nimbrung dalam diskusi tersebut. Sadi didampingi wakil rektor, dekan, kaprodi PPKN, kaprodi Pendidikan Sejarah, dan segenap dosen. Perwakilan mahasiswa dari beberapa fakultas juga ikut berpartisipasi dalam gesah kebangsaan.

Sadi mengungkapkan, saat ini ancaman terbesar dari keamanan nasional bukan serangan dari luar, tapi disintegrasi bangsa. Dia mengajak kepada civitas academica Uniba agar terus terlibat dalam membangun bangsa, hidup rukun, dan damai. ”Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan merawat bangsa ini,” tegas Sadi sembari mengimbau agar pada pemilu nanti tidak golput.

Salah seorang peserta gesah, Bayu Indra Permana, menjelaskan keragaman adalah aspek yang harus dikelola dengan tepat agar dapat menjadi kekuatan. Apalagi Indonesia memiliki keragaman sumber daya alam, sumber daya manusia, serta aspek sosial budaya dan lainnya.

Pernyataan Bayu diamini oleh Dekan FKIP Uniba Agus Mursidi. Dia menegaskan apabila keragaman dipupuk dengan baik, maka akan menjadi sumber kekuatan bangsa Indonesia. Wakil Dekan FKIP Harjianto Wadek menimpali, untuk memupuk keragaman menjadi kekuatan, Indonesia harus terus-menerus menanamkannya pada generasi muda, khususnya generasi milenial dan setelahnya. ”Oleh karena itu, pendidikan sebagai langkah utama untuk membentuknya,” tegasnya.

Miskawi, Ketua Forum Pembaruan Kebangsaan (FPK), punya pendapat berbeda. Menurut dia, salah satu persoalan yang urgen pada bangsa ini adalah soal degradasi moral. Hal ini dapat terjadi karena suatu bangsa kehilangan jati dirinya. Mereka tidak dapat mempertahankan apa yang menjadi identitasnya selama ini.

Mereka terlalu terlena dan kurang dapat menyaring budaya yang masuk ke Indonesia. Padahal sebenarnya, bangsa ini memiliki Pancasila. Pancasila merupakan karakteristik yang kini mulai luntur kesadaran untuk menghayatinya. Mulai dari sila pertama hingga kelima. Semuanya mencakup berbagai lini kehidupan yang dijalani manusia. ”Oleh karena itu, sudah seharusnyalah kita perlu meneguhkan kembali jati diri bangsa ini, Pancasila,” kata Miskawi bersemangat.

Iptu Karnoto dari Polres Banyuwangi dan Kapten Yonaidi dari Kodim 0825 Banyuwangi mengajak masyarakat Indonesia harus menjadi negara sukses. Untuk menuju sukses, kuncinya harus mampu menjaga ideologi dan kelangsungan serta keberlanjutan NKRI secara utuh tanpa adanya disintegrasi. 

Di akhir dialog, gesah yang dipandu Julisetyo Puji Rahayu tersebut sepakat bahwa membangun kesadaran kebangsaan harus dihidupkan di lingkungan keluarga, sekolah, dan perguruan tinggi. Ada tiga strategi yang digunakan dalam penanggulangan disintegrasi bangsa. Pertama, menanamkan nilai-nilai Pancasila, jiwa sebangsa dan setanah air dan rasa persaudaraan, agar tercipta kekuatan dan kebersamaan di kalangan rakyat Indonesia.

Kedua, menghilangkan kesempatan untuk berkembangnya primordialisme sempit pada setiap kebijaksanaan dan kegiatan, agar tidak terjadi KKN. ”Yang terakhir meningkatkan ketahanan rakyat dalam menghadapi usaha-usaha memecah belah bangsa dari anasir luar dan kaki tangannya,” tandas Julis. (*)

(bw/aif/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia