Selasa, 23 Apr 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kuliner

Menikmati Jagung Bakar Aneka Rasa ala Sofa Antoni

12 Februari 2019, 05: 40: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

LARIS MANIS: Sofa Antoni membakar jagung di depan Pelabuhan ASDP Ketapang. Jagung bakar yang dijual beraneka rasa.

LARIS MANIS: Sofa Antoni membakar jagung di depan Pelabuhan ASDP Ketapang. Jagung bakar yang dijual beraneka rasa. (Fredy Rizki/RaBa)

Inovasi kuliner tak mesti harus dilakukan para pemilik restoran atau kafe. Pedagang jagung bakar pun bisa melakukan terobosan. Seperti yang dilakukan ”Anton Jagung Bakar” yang kerap kali mangkal di depan Pelabuhan ASDP Ketapang.

FREDY RIZKI, Kalipuro

SEMILIR angin laut yang merambat perlahan membuat suasana di sekitar pelabuhan ASDP Ketapang terasa cukup dingin malam itu. Jam tangan menunjukan pukul 23.45, tapi kehidupan di sekitar pelabuhan penghubung Pulau Jawa dan Bali seakan baru akan dimulai.

Pedagang warung kopi dan toserba modern berpacu melayani pembeli. Sesekali terlihat berkelebat bayangan pedagang nasi bungkus yang berkejaran dengan jadwal kapal. Ya, setiap malam pelabuhan justru semakin ramai karena bus dan truk besar justru makin ramai.

Tak jauh dari aktivitas itu, terlihat seorang pria yang tengah sibuk dengan kipas bambunya. Lima jejer jagung muda terlihat direntangkan di atas tempat pembakaran yang dipenuhi arang. Satu dua orang tampak menanti pria tersebut menyelesaikan tugasnya.

Tak hanya orang dewasa, anak-anak yang kebetulan diajak orang tuanya untuk menyeberang juga ikut menunggu jagung bagianya matang. Tak sampai lima menit, pria yang menggunakan songkok itu memberikan jagung bakar berlumur bumbu kepada pembelinya.

Anak kecil yang menerimanya terlihat gembira dan pergi sambil membuntuti orang tuanya. Sekilas tidak ada yang menarik dari pria penjual jagung bakar itu. Namun, melihat perawakanya yang menyenangkan dan murah senyum, saya pun tertarik untuk berbincang.

Dan barulah terlihat jika jagung yang dijual orang itu berbeda setelah dirinya menyebutkan daftar rasa dari jagung bakar daganganya. Selai rasa konvensional seperti pedas, gurih dan manis. Sang pedagang juga menyediakan rasa-rasa untuk anak-anak. Seperti vanilla, cokelat, mangga, anggur, melon, nanas dan beberapa buah lainya.

Pria yang mengaku bernama Safa Antoni, 40, itu juga menceritakan, jika ada orang yang menyediakan menu yang sama di Banyuwangi, bisa dipastikan orang itu adalah kawanya atau orang yang pernah diajarinya. “Kalau ada yang sama berarti teman saya, karena saya semua yang mengajari. Pedagang jagung bakar ini kan tidak banyak,” terang pria yang akrab disapa Anton Jagung Bakar itu.

Anton mengaku sudah berjualan jagung bakar sejak lima belasan tahun silam. Sebelum berjualan jagung bakar, Anton bekerja di tambang emas Kalimantan. Kemudian tahun 1998 dia pergi ke Banyuwangi dan bertemu dengan wanita asal Dusun Galekan, Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo dan menikah di sana.

Anton sempat mejadi penjual ice cream sebelum akhirnya memutuskan menyambung nafkah dengan berjualan jagung bakar. “Ya rasa-rasa buah yang ada di jagung ini juga saya variasi dari resep ice cream, Cuma tidak saya ceritakan semua, sebagian saya simpan sendiri,” kata lelaki  asal Trenggalek itu.

Rasa-rasa yang variatif itu dibuat untuk menyesuaikan pasar. Jika pembelinya orang-orang dewasa, Anton menggunakan rasa-rasa yang sudah umum, seperti gurih, pedas dan manis. Tapi jika sudah ada anak-anak dia akan menawarkan rasa buah-buahan atau rasa cokelat. Sebab, anak-anak cukup menyukai rasa-rasa tersebut.

“Siang hari sampai magrib saya jualan di Watudodol, di sana macam-macam yang beli. Jadi saya bawa banyak rasa. Kalau di pelabuhan, saya jual dari habis maghrib sampai jam 12 malam,” tuturnya.     Ketika ditanya tentang resepnya, Anton mengatakan jika racikanya rahasia. Yang jelas dia menjamin bumbunya aman. Salah satu yang dia gunakan adalah selai kemasan yang sudah terjamin muturnya. “Kalau yang cokelat saya pakai morison, kalau yang lain saya racik sendiri,” kata bapak empat anak itu sambil tersenyum.

Dalam sehari, rata-rata Anton menghabiskan sekitar 150 jagung muda segar. Semuanya dia dapatkan dari Pasar Galekan dan Pasar Banyuwangi. “Kalau malam habis, saya beli ke pasar Banyuwangi, karena harus segar. Dulu pernah saya sempat sehari menjual sampai seribu jagung, waktu masih berdagang di Taman Blambangan. Sekarang sudah tidak boleh sama Satpol PP,” tandasnya. (*)

(bw/fre/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia