Senin, 23 Sep 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Features

Begini Kehidupan Nelayan Grajagan saat Cuaca Ekstrem di Laut Selatan

Lempar Jangkar, Beralih Jadi Pemburu Belalang

27 Januari 2019, 06: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

HASIL BERBURU: Devander Kevin menunjukkan belalang jati hasil tangkapannya di Hutan Karetan, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Jumat (25/1).

HASIL BERBURU: Devander Kevin menunjukkan belalang jati hasil tangkapannya di Hutan Karetan, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Jumat (25/1). (Krida Herbayu/RaBa)

Share this          

Cuaca ekstrem memicu tingginya gelombang di Laut Selatan. Para nelayan yang tinggal di pesisir Pantai Grajagan, Desa Grajagan pun kena imbasnya. Mereka memarkir perahu dan kapalnya di pelabuhan.

KRIDA HERBAYU, Purwoharjo

Siang itu di Hutan Karetan, Purwoharjo angin berembus kencang. Pohon-pohon seolah menari  bak penari gandrung. Namun, ada pemandangan yang menyita perhatian. Dedaunan di pohon jati penuh lubang, bukti ada hama yang menggerogoti.

Sejumlah orang tampak berlarian, beradu cepat. Mereka serentak berhenti di dekat pohon jati yang tumbuh menjulang. Kemudian mereka menyiapkan amunisi berupa galah dan jaring. Ya, ternyata mereka sedang memburu belalang, serangga pengganggu pohon jati di hutan tersebut.   

Belalang jati menjadi momok karena dianggap mengganggu pertumbuhan pohon jati. Dalam sekejap, sekumpulan belalang mampu menghabiskan dedaunan di pohon jati. Usut punya usut, para pemburu ini tak lain adalah nelayan yang sedang ”cuti” melaut. ”Saya tidak berani melaut, ombak besar dan membahayakan,” ungkap Devander Kevin, 30, warga Dusun Kampung Baru, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo.

Devander yang hanya lulusan SMP itu sehari-harinya bekerja sebagai nelayan. Dia terpaksa mengalihkan aktivitasnya akibat cuaca ekstrem yang melanda perairan Banyuwangi dalam kurun waktu terakhir ini. Selama cuaca tidak bersahabat, dia memilih untuk menjadi pemburu belalang. ”Sambil menunggu cuaca normal, saya mencari belalang,” katanya.

Mencari belalang di hutan jati sebenarnya merupakan pekerjaan sampingan. Namun, bagi Devander dan nelayan lainnya yang kini harus lempar jangkar, penghasilan hasil menjual belalang dianggap dapat mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. ”Hasilnya ya lumayan,” ujarnya.

Menurut Devander, menjadi pemburu belalang lebih mudah karena tidak ada risiko. Berbeda halnya jika harus berhadapan dengan ombak di laut. ”Di laut lebih berbahaya. Mencari belalang di hutan risikonya cuma takut sama ular,” terangnya.

Devander mengaku jika dirinya lebih suka mencari belalang ketimbang harus pergi melaut. Hanya saja, belalang tidak muncul setiap waktu. Belalang tersebut hanya datang saat awal musim penghujan hingga peralihan musim. ”Belalang hanya muncul saat musim hujan saja, antara Januari hingga Maret,” ungkapnya.

Saat musim belalang seperti ini, para pemburu belalang bisa dengan mudah menangkapnya. Biasanya, belalang banyak ditemukan hinggap di batang pohon dan daun pohon jati. Meski sudah membawa alat bantu berupa tongkat dan jaring, ia juga cukup terampil menangkap belalang dengan tangan kosong.

Dalam sehari, para pemburu bisa mengumpulkan belalang 600 hingga 700 ekor. Mereka kemudian menjual hasil tangkapannya ke pengepul. Untuk 100 ekor belalang jati dibanderol dengan harga Rp 10 ribu. ”Dalam satu hari tangkapan belalangnya mampu menghasilkan uang Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu,” aku Devander.

Di tangan pengepul, belalang tersebut diolah dengan cara digoreng. Bahan-bahan yang digunakan untuk mengoreng belalang sederhana saja. Cukup menambahkan tepung serba guna, bawang, dan sedikit penyedap rasa. Setelah diolah, gorengan belalang itu dikemas dan siap dipasarkan. ”Biasanya belalang yang sudah digoreng dijual dengan harga Rp 5.000 per bungkus,” terang Devander.

Meskipun olahan belalang bagi sebagian orang dianggap tidak biasa dan terkesan menyeramkan, namun cukup banyak orang yang menggandrungi kuliner ini. Rasa belalang dianggap mirip dengan udang goreng, tapi terasa lebih crispy. ”Rasanya enak dan cocok untuk dijadikan camilan,” lanjut Devander.

Seiring dengan musim belalang, para penjaja belalang pun tampak menjamur di pinggir hutan jati. Biasanya, para penjual belalang musiman di hutan jati itu mematok dengan harga yang lebih mahal. Untuk 100 ekor belalang dijual dengan harga Rp 25 ribu. ”Kalau beli di penjual pinggir hutan memang lebih mahal,” pungkas Devander. (abi)

(bw/kri/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia