Sabtu, 25 May 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Banyuwangi

Gelombang Tinggi, Berlayar ke Sapeken Masih Empat Hari Lagi

25 Januari 2019, 18: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

TAKUT KETINGGALAN KAPAL: Siti Arfah, 62, penumpang asal Andelan, Wongsorejo menggendong bayi sembari menunggu kepastian kapal berangkat ke Sapeken.

TAKUT KETINGGALAN KAPAL: Siti Arfah, 62, penumpang asal Andelan, Wongsorejo menggendong bayi sembari menunggu kepastian kapal berangkat ke Sapeken. (Fredy Rizki/RaBa)

KALIPURO – Gelombang tinggi yang melanda sebagian Laut Jawa dirasakan para calon penumpang Kapal Motor (KM) Sabuk Nusantara 56, kemarin. Sebanyak 25 calon penumpang keleleran sembari menunggu cuaca normal. Mereka pun menunggu di  Pelabuhan Tanjungwangi selama empat hari.

Para calon penumpang tersebut rata-rata sudah berada di Pelabuhan Tanjungwangi sejak Senin (21/1) lalu. Mereka berencana akan kembali ke Pulau Sapeken dengan KM Sabuk Nusantara 56 yang sebelumnya dijadwalkan berangkat pada Selasa (25/1) pagi. Namun, hingga kemarin kapal tidak berangkat akibat cuaca buruk.

Calon penumpang memilih  bertahan di Pelabuhan Tanjungwangi dengan berbagai alasan. Sebagian mengaku rumah mereka cukup jauh sehingga enggan bolak-balik lagi. Ada pula yang beralasan hanya memiliki persediaan uang yang terbatas.

Seperti yang diungkapkan Siti Arfah, 62, salah seorang penumpang asal Dusun Andelan, Desa Sumberkencono, Kecamatan Wongsorejo. Wanita tersebut enggan kembali ke rumahnya dan memilih untuk bertahan di Pelabuhan. Padahal Arfah juga tengah membawa seorang bayi yang masih berusia dua bulan. “Saya takut ketinggalan kapal, uang saya juga tinggal Rp 200 ribu. Saya mau pulang ke Sapeken karena ibu saya meninggal dunia,’’ ungkap  Arfah.

Petugas dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Banyuwangi sempat berulang kali membujuk Arfah untuk kembali pulang. Sebab,  cuaca tepi pantai yang dingin cukup riskan untuk bayi. “Kita sebenarnya sedang melakukan pemeriksaan kepada penumpang, karena kebetulan sedang ada penyakit yang marak seperti demam berdarah. Ini tugas rutin kita, cuma untuk ibu tadi kita minta untuk pulang saja, tadi saya minta kontaknya untuk disambungkan ke PT Pelni jika sudah ada kejelasan pemberangkatan kapal,” kata Kepala Wilayah KKP Banyuwangi, Sugiyanto.

Sementara itu, Koordintor Embarkasi dan Debarkasi Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tanjungwangi Ade Sucipto mengatakan, KM SN 56 tidak diberangkatkan karena adanya gelombang tinggi di Laut Jawa dan sebagian selat Bali bagian utara yang menjadi jalur KM SN 56. Hal itu tertuang dalam Maklumat Kemenhub, Edaran Dirjen Hubla, dan BMKG.

“Seharusnya KM Sabuk Nusantara berangkat selasa jam 5 pagi, tapi karena ada gelombang tinggi yang berkisar antara 2,5 sampai 4 meter di jalur pelayaran, terpaksa pemberangkatanya kita tahan,” ujar Ade. Tak hanya KM Sabuk Nusantara 56, KM Sabuk Nusantara 115 yang juga melayani rute Banyuwangi-Pulau Sapeken ikut terhambat di Surabaya akibat cuaca buruk.

 Untuk saat ini pihaknya hanya bisa mengimbau kepada calon penumpang untuk kembali sampai ada pengumuman lagi terkait pemberangkatan. “mereka ini masih belum beli tiket karena itu kita sebut calon penumpang, kalau sesuai prakiraan cuaca kemungkinan gelombang tinggi tjerjadi sampai tanggal 27, kita berharap semoga tepat,” tandasnya.

(bw/fre/aif/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia