Jumat, 22 Mar 2019
radarbanyuwangi
icon featured
Kolom
Spirit Jumat

Manajemen Garam

Oleh: KH Toha Muntoha

11 Januari 2019, 16: 45: 08 WIB | editor : Ali Sodiqin

Manajemen Garam

Senyawa netral yang bemuatan ionik dengan pH 7 segenap jumhur ulama kimia memberi nama ”garam”. Yang terhidrolisa dan membentuk ion hidroksida ketika dilarutkan dalam air disebut garam basa. Sedangkan yang terhidrolisa dan membentuk ion hidronium di air disebut garam asam.

Proses pembuatannya cukup sederhana. Isi ember dengan air laut yang bersih kemudian disaring lalu direbus dengan terus mengaduk hingga mendapatkan material mirip pasir basah. Sebarkan di atas wajan dan gunakan sinar matahari untuk pengeringannya.

Kandungan nutrisi dan mineral dalam ”garam”, jamiyyah pemerhati kesehatan merekomendasikannya sebagai penyeimbang cairan tubuh hingga sistem metabolisme terjamin sekaligus mencegah gangguan hiponatremia.

Untuk penderita gangguan asam lambung yang konon disebabkan oleh stres dan kurang gerak, insya Allah cespleng sembuh dengan minum segelas air hangat yang diberi sesendok ”garam” dapur.

Bahkan Baginda Nabi SAW menyebut ”garam” sebagai sebaik-baik lauk (Al Baihaqi ) yang cara mengonsumsinya dengan memasukkan ”garam” ke dalam masakan saat berangsur dingin.

Segenap salafus sholihin selalu menyediakan ”garam” dalam mangkuk sebagai makanan pembuka dengan cara memasukkan ujung jari untuk mengambil kemudian memasukkannya ke dalam mulut.

Popularitas ”garam” juga pernah menginspirasi Bang Haji Rhoma membuat lirik lagu.

Garam di laut asam di gunung
Dalam periuk juga bertemu
Tak usah ragu tak usah bingung
Cinta suciku hanya untukmu....

Pengaruh ”garam” juga menyentuh jagat politik yang menempatkan politik ”garam” sebagai politik yang mementingkan substansi daripada simbol seperti yang ditorehkan oleh Ki Bagus Hadikusumo dalam sila pertama kalimat ”Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai kompromi dari dihapuskannya teks awal ”Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluknya”.

Antitesis dari kehadiran istilah politik ”garam”, ashabul politik menghadirkan istilah politik gincu, yaitu sebuah jurus politik yang lebih menonjolkan kostum simbolisasi, hingga tanpa sadar panggung politik dipenuhi pemain yang syahwat politiknya semata berorientasi pada kekuasaan.

Membiarkan politik gincu berkembang dengan segala jurusnya hingga menjadi aqidah ijtimaiyyah sama halnya meminta murka Allah hadir menghampiri. ”Sangatlah dibenci Allah jika kalian mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan” QS As Shaff ayat 3. Na’udzu min ghodhobillah. (*)

(bw/*/als/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia